Efektif Memanfaatkan Waktu Luang

Hasil gambar untuk free time

Pernahkah merasa bahwa hari-hari terasa begitu sibuk, dikarenakan jadwal kegiatan yang padat? Merasa ingin beristirahat sejenak dari rutinitas? Ingin mengambil napas barang sebentar sebelum akhirnya melanjutkan aktifitas lainnya? Benar-benar sibuk dan padat. Di kondisi seperti ini satu hal yang paling diinginkan adalah rehat sejenak dan sangat mengidamkan waktu luang. Dimana bisa bersantai dan lepas dari kesibukan.

Namun, ternyata memiliki waktu luang terkadang bisa memicu rasa bosan dan tidak produktif jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Ujung-ujungnya dapat membuat badan terasa tidak enak karena sedikit bergerak. Bermalas-malasan seharian dan pikiran jadi kemana-mana. Apalagi jika ada gawai di tangan. Melihat media sosial dan mengamati kehidupan orang lain yang terasa begitu sempurna dan menyenangkan. Hingga akhirnya membuat penilaian bahwa kehidupan pribadi kita kurang menarik dan tak seindah milik orang lain. Merasa nestapa dan jadi tidak bersyukur. Wah, repot juga kalau begini jadinya.

Salah satu rejeki yang tidak disadari oleh manusia adalah adanya waktu luang dan kesehatan. Waktu yang tidak bisa berputar kembali seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Karena nantinya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa saja yang telah dilakukan selama di dunia. Jadi agak serem, ya. Hihi. Tapi memang begitulah adanya. Karena itu, sudah sepatutnya jika memiliki waktu luang dimanfaatkan dengan baik dan efektif. Apalagi buat Anda yang super sibuk. Waktu luang menjadi sangat berharga sekali pastinya. Berikut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar waktu luang lebih efektif.
Continue reading

Mengenalkan Pertahanan Diri Pada Anak terhadap Kejahatan dan Kekerasan Seksual

Hasil gambar untuk self defense for kids

Maraknya berita tentang tindak kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak belakangan ini membuat siapa saja merasa geram sekaligus cemas. Namun tidak sepatutnya kita hanya diam dan mengutuk pelakunya. Harus ada sesuatu yang dilakukan. Hari Sabtu, 1 April lalu, SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya mengadakan kegiatan Parenting Sex Education dengan tema Kenali Dirimu, Jagalah dan Sayangi Selalu. Dalam kesempatan tersebut Tim Kumpul Dongeng turut hadir dan mengenalkan bagaimana menjaga dan mempertahankan diri dari tindak kejahatan dan kekerasan seksual.

Menginformasikan pada anak-anak tentang bagaimana menjaga dan mempertahankan diri memang tidak mudah. Namun Tim Kumpul Dongeng berusaha mengemasnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah diterima oleh anak-anak yang umumnya kelas 3 SD ini. Apa saja yang dilakukan?
Continue reading

Sebuah catatan : Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng

Hasil gambar untuk storyteller

Kita sepakat kalau mendongeng memiliki banyak manfaat. Tapi ternyata masih ada yang enggan melakukannya. Salah satu alasannya karena tidak percaya diri. Memang saat mendongeng apalagi di depan banyak anak harus memiliki percaya diri yang baik. Agar penampilannya menarik dan pesan yang disampaikan dalam dongeng bisa diterima oleh anak. Nah, gimana caranya supaya bisa pede saat tampil mendongeng?

Hari Minggu, 19 Maret 2017 bertempat di Perpustakan Provinsi Jawa Timur, Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya kembali mengadakan kegiatan Sharing Dongeng. Kegiatan yang rutin diadakan satu bulan sekali itu bertujuan untuk saling berbagi informasi, semangat, dan menguatkan untuk bergerak bersama menyebarkan virus mendongeng di tiap-tiap keluarga. Di setiap pertemuan Sharing Dongeng mengangkat tema dan narasumber yang berbeda-beda. Nah, di pertemuan bulan ini membahas mengenai Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng. Tema tersebut dibawakan oleh Kak Tobi, seorang pendongeng senior di Surabaya. Kegiatan Sharing Dongeng semakin menarik karena selalu ada kesempatan praktek mendongeng bagi para peserta.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika akan mendongeng kemudian mengalami deg-degan. Apalagi jika akan mendongeng di hadapan banyak anak. Perasaan apakah nanti bisa membawakan dongeng dengan baik, apakah ceritanya disukai anak-anak, bagaimana jika salah, lupa isi cerita, dan sebagainya, selalu membayangi sebelum akan tampil mendongeng. Walaupun begitu, nyatanya pendongeng profesional sekalipun juga kerap merasakan grogi dan deg-degan saat akan tampil. Artinya bagi kita yang masih pemula, tidak perlu khawatir karena semua pendongeng pun mengalaminya.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar lebih percaya diri saat mendongeng. Pertama, Mempunyai senjata. Artinya, kita harus menguasai materi yang akan disampaikan. Materi tidak hanya sekadar isi cerita, namun juga permainan, nyanyian atau lagu yang akan dibawakan. Berkaitan dengan seluruh rangkaian sesi mendongeng yang akan kita bawakan. Sebaiknya saat akan mendongeng, jangan menghafalkan cerita. Tidak perlu dihafal runtut seperti naskahnya. Hal itu akan membuat penampilan saat mendongeng terkesan kaku dan tidak bisa melakukan improvisasi. Kuasailah inti ceritanya kemudian ceritakan dengan bahasa sendiri. Bahasa yang membuat kita nyaman membawakannya.

Kedua, Mengenali medan. Sebelum akan tampil mendongeng di suatu tempat, carilah terlebih dahulu informasi mengenai lokasi, jumlah audiens, dan usia anak-anak. Informasi ini akan membantu untuk mempersiapkan diri bagaimana dalam melakukan pendekatan. Anak-anak usia taman kanak-kanak jelas akan berbeda gaya komunikasi dan bahasanya dengan anak usia sekolah dasar. Begitu juga dengan pemilihan ceritanya. Apa yang akan diceritakan haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Kemudian, datanglah lebih awal dari waktu yang ditentukan. Agar dapat melihat kondisi dan situasi yang ada dan mengukurnya dengan apa yang sudah kita persiapkan.

Dalam mendongeng, satu menit pertama merupakan waktu yang sangat menentukan. Namun, setelahnya akan lebih mengalir. Di awal pembukaan mendongeng agar suasana lebih cair bisa diawali dengan berbincang santai sambil melempar pertanyaan kemudian langsung disambung dengan cerita yang akan dibawakan. Jika jumlah audiens banyak, bisa terlebih dahulu dibuat kesepakatan di awal. Misalnya, selama mendengarkan dongeng tidak boleh sambil makan, berbincang dengan temannya, berebut, dan sebagainya. Namun tetap disampaikan dengan bahasa halus dan menyenangkan.

Apabila saat mendongeng kemudian anak-anak terlihat mulai jenuh, maka pendongeng harus peka. Sebaiknya kombinasikan dongeng dengan menyanyi, nari dan permainan sederhana. Jangan paksa untuk melanjutkan cerita. Karena daya konsentrasi anak sangatlah terbatas. Waktu konsentrasi anak atau durasi mendongeng yang efektif adalah usia anak sama dengan durasi mendongeng atau maksimal dua kali lipat usia anak. Misalkan, anak usia 5 tahun maka durasi mendongengnya 5 menit dan maksimal 10 menit.

Mendongeng bisa menggunakan berbagai media, seperti diri sendiri (menggunakan gesture, ekspresi, dan suara), boneka, wayang, gambar, barang-barang yang ada di sekitar atau membuatnya sendiri. Menggunakan media mendongeng bebas-bebas saja, namun yang terpenting adalah pendongeng nyaman menggunakannya. Jangan sampai media dongeng tersebut malah menghambat dan menyulitkan saat mendongeng.

Sebanyak apapun teori mendongeng yang dikuasai, pada intinya saat praktek mendongeng teori itu hanya digunakan 20% saja. Selebihnya akan sangat tergantung dengan bagaimana diri sendiri berimajinasi dan melakukan improvisasi. Menjadi diri sendiri adalah cara tepat agar nyaman saat mendongeng.

Kepercayaan diri akan muncul apabila sudah melakukan persiapan matang dan mengetahui medan atau tempat di mana akan mendongeng. Selebihnya ya, lakukan! Akan selalu ada saat pertama untuk mencoba. Percayalah bahwa grogi dan deg-degan itu hanya bertahan di menit-menit pertama. Selanjutnya pasti akan menantikan kesempatan berikutnya. Gimana, berani mencoba? 🙂

Cantik Bukan Sekadar Fisik

Hasil gambar untuk beauty from your heart

Di usia yang semakin bertambah, merawat kulit wajah menjadi hal yang penting. Dulu ketika masih usia 20 tahunan tidak terlalu memusingkan tentang perawatan. Cukup dengan cuci muka pakai sabun muka biasa. Membersihkan wajah sebelum tidur pun seringkali terlewat. Namun, sekarang ketika sudah memasuki usia 30 tahun, mulai lebih peduli dengan perawatan wajah. Tapi, apakah perawatan saja cukup membuat wajah terlihat segar dan bercahaya?

Sebagai perempuan, pastinya ingin dong wajahnya selalu sehat, terlihat cerah dan bersinar. Begitu juga dengan saya. Karena itu, mulailah melakukan beberapa perawatan wajah sederhana di rumah. Bagi saya, perawatan wajah tidak perlu mahal. Asalkan selalu menjaga kebersihan wajah, dan rutin dilakukan.

Saya sendiri lebih senang dengan perawatan yang alami. Menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dan dengan harga terjangkau. Belakangan ini, perawatan wajah yang seringkali saya saya lakukan adalah menggunakan masker bengkoang yang dicampur dengan lemon dan madu, masker lemon dan madu, dan masker buah alpokat.

Untuk hasil yang maksimal, masker bisa dilakukan 2-3 minggu sekali. Banyak sekali manfaat dan khasiat dari penggunaan masker-masker tersebut. Diantaranya mencerahkan wajah, membuat wajah menjadi lebih lembab dan kenyal, menghilangkan noda hitam dan keriput pada wajah. Kuncinya harus rutin dilakukan, dan basuh dengan air hangat lalu air dingin hingga benar-benar bersih. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang paripurna. #eciee

Suatu ketika, saya ada pertemuan dengan teman. Kami sedang mendiskusikan sesuatu yang cukup serius. Saat akan berangkat pertemuan, suasana hati saya sebetulnya juga kurang oke. Ada beberapa hal yang sedang dipikirkan. Saat akan pulang, saya melihat bayangan wajah dari kaca mobil. Kemudian saya berkaca di kaca spion yang lebih jernih. Di sana terlihat pantulan wajah saya yang terlihat kusam dan tidak cerah. Hmm.. kok nggak ngaruh ya maskeran selama ini, begitu pikir saya singkat.

Suatu ketika, saat hendak mengajar di sekolah. Saya merasa bersemangat sekali. Rasanya bahagia akan bertemu dengan anak-anak yang selalu menggemaskan. Sebelum masuk ruangan saya sempatkan mematut diri di kaca spion motor. Merasa sudah oke, saya pun melangkah menuju ruang kelas dengan percaya diri. Di dalam kelas, sudah disambut oleh anak-anak. Suasana seketika menjadi meriah oleh suara gaduh mereka. Kemudian ada yang nyeletuk, “Ustadzah hari ini cantik. Wajahnya kelihatan putih.” Lalu ada yang menimpali, “Ustadzah kan memang cantik.” Saya hanya senyam-senyum mendengar komentar mereka. Walau sebenarnya ingin memegangi kepala saya yang rasanya semakin membesar saja. Hehe..

Kemudian saya jadi berpikir, apa iya ini hanya karena masker semata?

Setelah ditelusuri, ternyata saat bertemu dengan beberapa teman saya itu, saat itu suasana hati sedang kurang baik karena memang sedang ada pikiran yang mengganjal. Namun, ketika bertemu dengan anak-anak, rasanya sangat bahagia dan bersemangat. Sepanjang hari ada saja tingkah polahnya yang membuat saya tak bisa menahan tawa. Mungkin itu penyebabnya.

Memelihara kulit wajah dengan berbagai perawatan maupun krim anti penuaan itu memang penting, tetapi sebaiknya tidak hanya dilakukan secara fisik saja. Namun yang lebih penting adalah menjaga hati dan pikiran agar tetap positif, bersemangat dan bahagia. Karena itulah yang lebih terpancar melalui sorot mata dan senyuman tulus. Perasaan bahagia bisa diperoleh dengan melakukan segala aktifitas yang disukai, yang membuat diri merasa berdaya, bermanfaat, selalu bersyukur dan berprasangka baik.

Memiliki wajah yang sehat dan awet muda itu baik, namun lebih penting memiliki jiwa dan semangat yang selalu muda. Toh pada akhirnya, kecantikan itu bukan pada apa yang orang lain lihat, tetapi bagaimana kita mencintai dan melihat diri sendiri. So, rawatlah lahir dan bathinmu. Karena cantik itu dari hati. 🙂

 

Sebuah catatan : Mendongeng Menggunakan Media Gambar

Beberapa gambar binatang yang diajarkan saat Sharing Dongeng. Dan masih ada gambar binatang lainnya.

Mendongeng adalah kegiatan yang penuh manfaat. Biasanya media yang seringkali digunakan saat mendongeng adalah boneka, buku, atau wayang kertas. Nah, bagaimana jika mendongeng dengan menggunakan media gambar? Iya, mendongeng sambil menggambar. Mungkinkah?

Mungkin sebagian orang akan langsung menggeleng ketika diminta menggambar. Dengan alasan gambarnya tidak bagus, susah menggambar atau yang paling ekstrim hanya bisa menggambar gunung dengan dua bukit dan ada matahari di tengah. Ya, itu saya sih. Hehe..

Hari minggu, tanggal 19 Februari 2017, digelar acara Sharing Dongeng pertama di tahun 2017. Tema yang diangkat tentang Mendongeng dengan Menggunakan Media Gambar. Belajar langsung bersama Kak Gentong, seorang pendongeng senior Surabaya dan juga seorang dosen. Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas Dongeng Surabaya. Sejak tahun lalu, komunitas Kumpul Dongeng yang memiliki visi membudayakan kembali mendongeng dan mengembalikan dongeng ke rumah-rumah, secara rutin mengadakan kegiatan Sharing Dongeng satu bulan sekali. Kegiatan Sharing Dongeng ini juga didukung oleh Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, yang turut memberikan fasilitas tempat yang sangat nyaman untuk belajar.

Awalnya banyak dari peserta yang merasa pesimis karena merasa dirinya tidak pandai menggambar, gambarnya tidak bagus dan lain sebagainya. Namun, bersama Kak Gentong, di sesi awal beliau meyakinkan sekaligus membuktikan bahwa menggambar itu mudah dan siapa saja bisa. Pertama-tama membuat gambar lingkaran sebagai batasan dan dasar, yang kemudian bisa dibentuk menjadi gambar hewan seperti singa, monyet, semut, kucing, gajah, dan sebagainya.

Mendongeng dengan menggunakan media gambar akan membantu menumbuhkan imajinasi anak, mengasah motorik halusnya dan akan mudah melekat di memori anak. Apalagi menyajikannya dengan pembawaan yang menyenangkan. Menggambar adalah ketrampilan yang bisa dilatih. Dalam kesempatan itu, Kak Gentong menyampaikan bahwa apabila materi hanya dikatakan maka akan mudah dilupakan, apabila ditunjukkan maka akan diingat, dan apabila dilibatkan maka akan dimengerti. Dengan penuh kesabaran, Kak Gentong memandu peserta untuk menggambar berbagai jenis hewan.

Selama sesi sangat terlihat antusiasme peserta dan keterlibatan yang penuh. Setiap peserta berkesempatan untuk mencoba menggambar dan ada yang bersedia mendongeng di depan dengan cerita yang mereka buat sendiri. Saat itu juga.

Kekuatan mendongeng terletak pada ekspresi. Ekspresi bisa meliputi suara, mimik, gambar, gesture yang bisa membuat memori anak semakin dalam melekat. Hal yang penting dimiliki saat mendongeng adalah adanya power dan tekanan. Di samping itu, memiliki apersepsi yang baik di awal sesi mendongeng juga penting. Dengan memiliki apersepsi yang baik, maka akan dapat mengikat perhatian anak selama sesi mendongeng. Apersepsi bisa dengan menggunakan sulap sederhana, tebak-tebakan menyenangkan, nyanyian, dan sebagainya.

Sebelum menggambar, terlebih dahulu tentukan tokoh yang akan dibuat. Setelah itu berikan sifat dan karakter tokoh. Lalu tentukan situasinya bagaimana. Lalu buatlah kerangka ceritanya dan kemudian buatlah cerita utuhnya. Sebelum mendongeng persiapkan dahulu cerita yang akan diberikan. Hindari membuat cerita on the spot atau dadakan. Persiapan yang baik pasti akan berpengaruh pada hasil yang baik pula. Saat menggambar tidak perlu menggambar seluruh tubuh binatang. Hanya kepalanya saja. Dan tidak perlu persis dengan binatang aslinya. Asalkan anak-anak dapat mengidentifikasi hewan tersebut dengan benar, itu sudah berhasil.

Ada beberapa hal yang perlu dihindari saat akan mendongeng dengan menggunakan media gambar. Yaitu, Pertama, Hindari menggunakan kata-kata kejam atau sadis. Ini akan berdampak tidak baik pada psikologis anak. Kedua, Perhatikan volume suara. Terkadang suara yang terlalu keras akan diterima berbeda oleh anak usia PAUD, merasa dimarahi atau diintimidasi. Ketiga, Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak. Keempat, Apresiasi setiap hasil karya anak. Walaupun saat anak menggambar dengan warna yang tidak lazim, tetap apresiasi dan jangan batasi imajinasi anak. Kelima, Perhatikan durasi. Dalam mendongeng 15 menit merupakan waktu yang ideal. Di mana audiens tidak sampai merasa bosan dan batas konsentrasi tetap terjaga.

Mendongeng tidak hanya melibatkan teknik yang baik. Namun yang terpenting adalah melibatkan hati. Apa yang disampaikan dengan hati akan sampai juga di hati anak-anak. Setiap anak suka mendengarkan dongeng. Banyak sekali manfaat mendongeng yang tak perlu lagi dijelaskan karena informasinya banyak tersedia di dunia maya. Jika sudah tahu, kapan akan mencobanya? Ayo, mendongeng. 🙂

 

Sebuah Catatan : Menumbuhkan Kecerdasan Finansial Pada Anak

Hasil gambar untuk kecerdasan finansial anak

Kecerdasan seorang anak tidak bisa diukur dari kecerdasan akademis di sekolah saja. Kepandaian anak dalam mengatur emosi, berinteraksi di lingkungan sosial dan juga kemampuannya mengatur keuangan juga menjadi bagian dari kecerdasannya. Nah, untuk itu mengasah kecerdasan finansial, mengelola keuangan sebaiknya mulai ditumbuhkan sejak dini. Bagaimana caranya?

Hari Sabtu lalu tanggal 27 Januari 2017 bertempat di Masjid Salahudin Sidoarjo, Komunitas Peduli Anak menggelar kegiatan seminar parenting dengan tema yang menarik, yaitu Menumbuhkan Kecerdasan Finansial Pada Anak-anak. Acara yang dihadiri oleh sekitar empat puluhan peserta dimulai pukul 08.30 hingga pukul 11.00. Acara tersebut sekaligus menandai pergantian logo baru Komunitas Peduli Anak. Dengan harapan akan memiliki semangat baru untuk semakin banyak belajar tentang dunia anak dan berbagi pada sesama.

Bersama narasumber yang selalu menebar virus Good Parenting di berbagai wilayah di Indonesia, yaitu Ibu Abyz Wigati. Beliau adalah seorang ibu dari tiga orang putra putri, seorang penulis beberapa buku, pendiri Komunitas Malang Menulis dan Forum Belajar Bunda dengan segudang prestasi. Pada seminar tersebut beliau membagikan tip bagaimana menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak sejak dini secara gamblang. Yang membuat semakin menarik adalah karena apa yang beliau sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi dalam mengasuh putra-putrinya, sehingga sudah teruji dan bukan sekadar teori.

Apabila ingin menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, berarti hal ini merujuk pada sebuah proses. Menumbuhkan itu dilakukan ketika masih kecil. Jadi tidak menunggu anak sudah besar baru kemudian dikenalkan tentang kecerdasan finansial.

Banyak yang memahami bahwa kecerdasan finansial identik dengan menabung, berhemat dan tidak boros. Padahal sebenanrya tidak sebatas itu saja. Karena kalau hanya aktifitas menabung saja, anak-anak sudah dapat melakukannya. Namun lebih kepada menumbuhkan kepedulian kepada sesama, adanya rasa menghargai kerja keras, hasil karya diri sendiri maupun orang lain. Sehingga anak tidak mudah minta ini itu, beli ini itu serta mencela hasil kerja keras orang lain.

Kecerdasan finansial merupakan proses pembelajaran pengendalian diri, sehingga akan berpengaruh pada perilaku mandiri dan pola pikir bijaksana pada usia dewasa. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, yaitu :

1. Memahamkan anak tentang berbagai kebutuhan sehari-hari sesuai fase perkembangannya.
Kebutuhan masing-masing keluarga tentu berbeda-beda. Sebelum memberikan pemahaman, orang tua perlu memahami terlebih dahulu fase perkembangan anak. Sehingga dapat memberikan penjelasan yang tepat sesuai usianya.

2. Memahamkan anak mengenai perbedaan keinginan dan kebutuhan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, ada atau tidak ada uang. Misalnya, kebutuhan makan.
Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang pemenuhannya bisa ditunda. Tidak harus sekarang. Oleh karena itu, jika anak menangis meminta dibelikan sesuatu, pahami terlebih dahulu apakah itu kebutuhan atau hanya keinginan. Pemahaman bisa dilakukan dengan memberikan pengertian yang baik kepada anak. Dan yang utama adalah memberikan contoh dengan memulai dari diri sendiri. Mengendalikan diri jika ada diskon, dan mampu berkomitmen hanya membeli barang yang dibutuhkan ketika belanja bersama anak.

3. Melibatkan anak dalam mengelola kebutuhan keuarga.
Misalnya saat ibu mendapatkan uang dari ayah. Ibu boleh saja bercerita bahwa uangnya akan dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Seperti, membayar listrik, air, biaya sekolah, membeli buku anak, dan sebagainya. Jadi anak dilibatkan dan tahu apa saja alokasi dana yang dimiliki orang tua. Jangan lupa memasukkan kebutuhan anak dalam daftar tersebut. Sehingga anak akan merasa kebutuhannya juga diperhatikan.

4. Memberi kepercayaan anak untuk mengelola uang saku.
Sebaiknya penggunaan istilah uang jajan pada anak diganti dengan uang saku. Karena ini berpengaruh pada persepsi yang dimiliki anak. Uang saku adalah uang yang dapat dikelola penggunaannya, sedangkan uang jajan digunakan untuk membeli jajan dan bersenang-senang.

Latihan pengelolaan keuangan, bisa dimulai dengan memberikan uang saku pada anak satu minggu sekali. Nah, untuk menerapkan hal ini orang tua harus dapat bersikap tega dan konsisten. Karena di awal prosesnya, terkadang uang saku satu minggu bisa dihabiskan anak hanya beberapa hari saja. Jika seperti itu, biarkan anak belajar merasakan konsekuensinya.

5. Mendampingi anak secara bertahap, ajarkan, buat kesepakatan, contohkan dan konsisten.
Pemberian uang saku diikuti dengan penjelasan bagaimana alokasinya. Sehingga anak memiliki gambaran bagaimana menggunakan uang sakunya. Bisa untuk membeli jajan, membeli perlengkapan sekolah yang rusak, dan menabung.

Dengan diberi kepercayaan untuk mengelola uang saku, anak akan berpikir ulang dalam menggunakan uangnya. Dan jika menginginkan sesuatu anak akan berpikir bagaimana mendapatkan uang, misalnya berjualan. Sehingga tidak mudah minta uang pada orang tua. Hal ini perlu contoh dari orang tua dalam menerapkannya.

6. Memberi kesempatan anak untuk salah.
Apabila jatah uang saku anak seminggu namun dihabiskan dalam tiga hari, maka jangan serta merta memarahi anak. Berikan senyuman, ajak bicara dan cari tahu bagaimana penggunaan uangnya. Biarkan anak menceritakan dengan leluasa tanpa adanya tekanan. Kesalahan yang diperbuat anak bisa jadi memberikan pelajaran yang berharga.

7. Evaluasi dan lanjutkan proses belajar.
Setelah anak melakukan kesalahan, ajak anak berkomunikasi dengan asik. Kemauan anak bercerita dengan jujur pada orang tua jauh lebih penting daripada berfokus pada kesalahannya. Dengan begitu, evaluasi bersama akan dapat dilakukan. Biarkan anak menemukan solusi dan apa yang seharusnya dilakukan agar kesalahan tidak terulang kembali.

8. Anak berhak dan wajib berkontribusi dalam pembiayaan event keluarga.
Misalnya untuk acara liburan bersama yang sudah direncanakan jauh hari. Diskusikan bersama akan pergi ke mana, dana yang dibutuhkan. Ajak anak untuk berkontribusi sesuai kemampuannya untuk mewujudkan liburan bersama tersebut. Atau misalnya, acara ulang tahun anggota keluarga.

9. Apresiasi keberhasilan anak walaupun kecil.
Dengan memberikan apresiasi anak akan termotivasi memperbaiki untuk menghasilkan keberhasilan yang lebih besar.
10. Ganti kritik dengan evaluasi bersama.
Evaluasi bersama akan menstimulasi anak untuk menemukan solusi dan kesepakatan untuk menjadi lebih baik lagi.

Menurut wanita yang pernah menjadi finalis Kartini Next Generation tahun 2015 ini, stimulasi kecerdasan finansial bisa dimulai sejak dini. Terutama jika anak sudah minta dibelikan sesuatu, artinya anak sudah mengerti tentang uang. Sehingga mulai dapat distimulasi kecerdasan finansialnya. Saat anak beranjak di bangku sekolah, yang terpenting adalah menanamkan jiwa entrepreneurship. Apabila anak menginginkan sesuatu tidak harus beli tapi bisa dicoba untuk membuatnya sendiri bersama orang tua.

Kunci utama dari keberhasilan pengasuhan anak adalah adanya teladan. Begitu juga saat ingin menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak. Orang tua harus belajar dan dapat mengendalikan diri. Memilah mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Melalui contoh akan lebih mudah bagi anak untuk memahami dan menerapkannya. Selain itu, berikanlah kesempatan dan kepercayaan pada anak untuk mengelola keuangannya sendiri. Jikalau anak melakukan kesalahan, tanggapi dengan senyum dan bantu anak untuk belajar dari kesalahannya.

Semoga bermanfaat ^^
@nindiamaya

Menghalau Galau

Hasil gambar

“Sebagai manusia biasa, memiliki perasaan yang kadang naik dan turun  adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bisa mengenali gejalanya dan tahu bagaimana menyikapinya. Karena itu perlu support system yang selalu bisa membuat kita melihat segala hal dari sisi positif dan memberikan dukungan.”

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami selalu ada waktu khusus untuk ngobrol bareng. Saling berbagi cerita, apa yang dirasakan, apa yang sudah dialami seharian, apa yang mengganjal, progress apa yang sudah dikerjakan dan apa yang bisa kita pelajari seharian. Suatu hari saya membuka diskusi dengan bertanya, “Apakah aku bisa menjadi seorang penulis buku anak?”.  Tanpa menunggu lama, suami lalu menyahut, “Pasti bisa!”. Kemudian ia pun menyelidik mengapa saya tiba-tiba menjadi tidak percaya diri. Saya sendiri pun juga tidak berhasil menemukan jawabannya.

Saat ini suami saya sedang proses pendidikan dokter spesialisnya, dan beberapa minggu ke depan bersiap menghadapi ujian tengah semester. Sebelum ujian harus menyelesaikan beberapa paper sebagai persyaratannya. Ia bercerita bahwa ia juga kerapkali merasa rendah diri melihat progress teman-temannya yang begitu pesat, sedangkan ia sendiri masih terus berjalan namun merasa kecepatannya lebih lambat. Namun ia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan dengan sekuat tenaga menyelesaikan papernya. Ya, ini adalah bentuk empati bahwa ia juga pernah kok merasakan hal yang sama.

Continue reading