Cara tepat mendidik anak berkompetisi

Kehidupan tak lepas dari persaingan atau kompetisi. Bahkan sejak dari awal pembuahan pun, berjuta-juta sel sperma saling bersaing untuk membuahi sel telur sehingga kita menjadi manusia yang terbaik seperti saat ini

Kembali, @maya_myworld, COO Indonesia Bercerita & Praktisi pendidikan,  hadir di inspirasi pagi metrotv jatim untuk memberikan pencerahan bagaimana mendidik anak berkompetisi

Setiap anak adalah spesial, mereka tentu terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Mulailah dengan cerdas memilih jenis kompetisi yang sesuai dengan kesenangan atau bakat si anak. Jangan jadikan kompetisi sebagai sesuatu yang malah menekan anak

Anak yang ekstrovert atau suka tampil mungkin bisa diikutkan lomba fashion, mc, atau menari. Anak yang agak pendiam misalnya bisa diikutkan lomba menulis, merakit robot atau yang lain.

Sebelum mengikuti lomba, ada baiknya orantua memberikan gambaran menyeluruh tentang lomba yang akan diikuti. Beritahukan “medan”, tujuan mengikuti lomba, dan tanamkan konsep menang dan kalah.

Saat anak Anda menang, berikan reward yang positif sebagai tanda Anda menghargai usaha, bakat dan kerja kerasnya. Reward tidak selalu berbentuk materi, bisa saja dengan bentuk pelukan, ciuman, pujian, atau sekedar diajak ke tempat yang ia sukai

Saat anak Anda kalah, berikan penguatan yang positif dan jangan jadikan hal ini sebagai suatu masalah. Misalnya “ Wah tidak apa-apa sayang, kan adek sudah usaha. Kereen lho tadi adek. Lain kali kita coba lagi yuk”.

Berikan kepada anak, kesempatan seluas-luasnya dengan mengikuti berbagai macam perlombaan sesuai dengan minat anak. Sehingga terbangun semangat pantang menyerah, semangat berjuang dan mendidik mental juara

Perlukah orangtua membuat target?

Target boleh-boleh saja, tapi jangan sampai tuntutan orangtua melebihi kemampuan anak. Jadikan sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus juga sebagai ajang eksplorasi bagi orangtua untuk mengetahui bakat anak.

Jadikan kompetisi sebagai ajang untuk mengukur kemampuan anak. Bandingkan dengan dirinya sendiri antara kemarin dan sekarang misalnya. Apakah ada peningkatan? Jangan sekali-kali dibandingkan dengan anak yang lain

Bagaimana mengatasi rasa canggung atau grogi saat anak tampil di muka umum?

Sebelum tampil maka sebaiknya ada try out terlebih dahulu. Misalnya anak tampil di depan orangtuanya dulu, atau tampil di depan teman sebayanya. Dan jangan lupa selalu memberi dorongan yang positif

Kalau terlalu sering menang anak kadang menjadi sombong, bagaimana mengatasinya?

Ikutkan anak dalam kompetisi yang variatif. Jangan monoton hanya lomba yang itu-itu saja dimana anak selalu menang. Sebaiknya kayakanlah anak dengan berbagai ragam perasaan, termasuk merasakan kekalahan

Orangtua bukan sebagai diktator tapi sebagai partner atau fasilitator yang selalu mendukung  kesuksesan Anak. Hasil tidak instan sehingga biarkanlah berjalan secara natural. (AST)

Untuk bincang-bincang silakan follow @maya_myworld. Simak TL nya yang inspiratif. Mudah-mudahan bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s