Pengalaman Pertama di Kota Hujan

Kota Bogor dengan latar belakang gunung Salak

Mungkin aku tidak akan ke Bogor kalau saja tidak mengikuti training Wanna Be Trainer, dimana pembicaranya adalah @jamilazzaini (siapa siy yang kenal beliau?!). Disambut hujan deras, hingga harus berpindah hotel akibat ‘suara misteri’ mewarnai ceritaku di kota itu. Yuk, ikuti perjalananku….
Continue reading

I did it ! My Way

Live your best life

Life is too short. Hidup itu pendek. Bahkan guru kita juga ada yang mengatakan bahwa hidup ibarat mampir di warung sebelum akhirnya melanjutkan ke perjalanan berikutnya. Tuhan telah memberikan ‘kontrak’ pada masing-masing hambanya untuk menikmati aroma kehidupan di dunia yang sekarang ini. Ada yang waktunya panjang, cukup panjang, pendek, cukup pendek, dan pendek sekali. Benar-benar hanya Tuhan yang tahu kapan pastinya “kontrak” kita akan habis. Sebentar lagi atau malah masih lama. Yang mau di bahas di sini bukan tentang itu, biarlah itu tetap menjadi rahasia Ilahi. Yang terpenting adalah berapapun waktu yang diberikan bisa benar-benar di manfaatkan dan membuatnya menjadi indah dan bermakna.
Continue reading

Bagaimana memilih permainan yang cerdas untuk anak?

Untuk ketiga kalinya kak Maya diundang oleh Metro TV Jatim. Kali ini mengangkat tema “Mainan Edukasi untuk Tumbuh Kembang Anak”. Bersama owner Win Toys Pak Winata dan dipandu Amanda Manuputy. Perbincangan berlangsung dengan seru. Berikut laporannya.
6 tahun pertama di usia anak merupakan masa-masa emas (golden age). Di masa ini seorang anak tumbuh dan berkembang dengan fantastis. Mulai dari aspek kognitif atau cara berfikir (mengenal bentuk, warna, wajah, bereaksi terhadap stimulus), dari segi motorik kasar dan motorik kasar, aspek kesadaran diri, aspek social emosional dan jua aspek bahasa. Semuanya dapat berkembang dengan pesat dan maksimal apabila lingkungannya memberikan stimulasi yang tepat.

Continue reading

Tips Sukses Mengajar

Selain beraktifitas bersama Indonesia Bercerita sebagai Pencerita dan juga Chief Operational Officer (COO), saya juga aktif berkegiatan mengajar dan juga mengelola Kelab Penulis Cilik (KPC). Di KPC biasanya saya mengajar di kelas KPC Forum, dimana jumlah siswa sekitar 20-25 anak dalam satu kelas, tujuannya hanya sebagai refreshment program untuk membangkitkan dan menstimulasi minat menulis anak.

Continue reading

Persiapan yang matang menunjang penampilan yang mantab

kak @maya_myworld bercerita di grancity surabaya dalam rangka walk for autism event

Saat itu saya dan Kak @rudicahyo di daulat oleh Indonesia Bercerita untuk bercerita di acara Surabaya Walk for Autism (SWAF). Kegiatan itu kurang lebih bertujuan untuk mensosialisasikan tentang autis, bagaimana mengenali ciri anak autis dan bagaimana menanganinya. Karena belakangan ini tak jarang anak autis seringkali hilang di keramaian, seperti saat berjalan-jalan di mall. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini masyarakat umum akan tanggap dan mampu memberikan respon yang tepat saat menghadapi anak autis.

Saat itu kegiatan di laksanakan di Grand City Surabaya. Dihadiri oleh beberapa sekolah, beberapa komunitas gerakan social selain Indonesia Bercerita, ada juga Fiksimini. Yah, selama bergabung di Indonesia Bercerita, baru kali ini saya akan bercerita di depan umum dan dilihat oleh banyak pasang mata. Karena biasanya kegiatan bercerita untuk kepentingan podcast, dan dilakukan di dapur rekaman. Praktis ini adalah pengalaman yang menantang bagi saya. Hmm..banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan, karena pastinya saya pun ingin tampil maksimal dan bisa memberikan yang terbaik. Berikut adalah persiapan-persiapan yang saya lakukan….

1. Cerita yang Menarik

Dalam bercerita ada dua hal yang paling penting, pertama, Pencerita dan kedua, cerita itu sendiri. Saya pun mulai membuat cerita yang sesuai. Saya memilih cerita metafora dan jenis cerita fabel, dimana hewan sebagai penokohannya. Dengan model cerita yang seperti ini saya rasa akan dapat menarik perhatian anak dan yang terpenting pesan yang disampaikan dalam cerita tersebut juga bisa diterima oleh anak. Akhirnya saya membuat cerita tentang “Chika yang Istimewa”. Dari namanya pasti sudah ketebak kalau Chika adalah binatang ayam. Bagaimana suara ayaaam???? …….

2. Media Bercerita

Mengingat waktu yang cukup singkat, yaitu 10 menit. Kamipun memutar otak bagaimana caranya diwaktu yang singkat ini bisa memberikan penampilan terbaik dan mampu memikat dan menarik perhatian penonton. Sempat terpikir beberapa media yang akan digunakan, misalnya menggunakan boneka tangan tapi boneka tangan sudah biasa digunakan dalam bercerita, nanti penontonnya bosan lagi. Lalu berpikir untuk duet bercerita, cerita dibawakan oleh dua orang pencerita, hmm lalu terpatahkan dengan pikiran bahwa jika penceritanya ada dua maka akan menimbulkan distorsi dan kebingungan bagi penontonnya. Ingin bercerita sambil menggambar, tapi nggak bisa nggambar hehehe. Setelah eksplorasi ide beberapa lama, akhirnya muncul ide untuk bercerita dengan menggunakan gambar. Jadi nantinya akan ada beberapa gambar yang tersedia yang mewakili cerita yang dibawakan. Ini berfungsi untuk mengikat perhatian mereka untuk tetap memperhatikan Pencerita (secara anak-anaknya banyak banget gitu lhoh). Untung saja saya memiliki suami yang pandai menggambar. Yah, akhirnya kita berkolaborasi. Suamiku yang gambar dan aku yang mewarnai. Akhirnya persiapan media bercerita pun terselesaikan. (terimakasih suamikuuuu…;-*)

contoh media presentasi

 3. Si Pencerita

Karena dengan metode duet bercerita tidak efektif, setelah rembugan akhirnya diputuskan saya lah yang akan bercerita. Kak @rudicahyo berperan sebagai pengantar cerita dan yang memfasilitasi jika ada audience yang bertanya atau merespon. Huufff…lumayan deg degan siy, tapi saya mikirnya ini adalah tantangan. Pasti akan jadi pengalaman yang seru banget. Dan benar! J. Nah, inilah persiapan diri yang saya lakukan….

          a. Menguasai Konten Cerita

                 Agar dapat bercerita dengan lancar dan nggak nge-blank mendadak, maka sangat penting untuk menguasai isi dari cerita tersebut. Tidak harus hafal seluruh teks dalam ceritanya. Yang penting paham alur ceritanya dan pesan yang ingin disampaikan. Jika ini sudah di kuasai maka saat perform bisa lebih leluasa dan bebas melakukan improvisasi cerita.

          b. Memahami teknik Bercerita

                Cerita akan terasa hambar jika disajikan dengan ala kadarnya. Agar cerita lebih nyata dan hidup maka perlu ada tambahan ornament, seperti nada suara yang disesuaikan dengan karakter tokoh dalam cerita, intonasi suara, ekspresi wajah yang juga menggambarkan suasana, gerak tubuh atau gesture yang sesuai. Untuk itu, malam sebelumnya saya berlatih di depan cermin dan tak lupa meminta suami tercinta @astu_MD sebagai penilainya hehehehe. Sesekali saya juga selipkan pertanyaan-pertanyaan di tengah-tengah cerita untuk memancing keterlibatan penonton, sehingga lebih interaktif.

          c. Menciptakan suasana hati

                    Penting mempersiapkan suasana hati ketika akan bercerita. Pastikan sebelum bercerita suasana hati dalam keadaan senang dan riang. Jika ini dilakukan maka kitapun akan mudah membawa suasana di panggung menjadi meriah dan menyenangkan. Jika sebaliknya, maka penontonpun akan dapat merasakan apa yang sedang kita rasakan, karena perasaan kita akan memancar dan menular. Biasanya saya membayangkan hal-hal yang membuat saya senang. Karena bercerita adalah salah satu kegiatan yang saya sukai, maka itu pun sangat mudah dilakukan J. Saya sarankan agar anda melakukan sesuatu yang anda senangi, maka hasilnya akan dahsyat! Percaya deh!

          d. Visualisasi

                   Ini selalu saya lakukan sebelum akan tampil dimana saja, entah saat bercerita, menjadi pembicara, moderator, fasilitator ataupun saat menjadi MC. Karena ini adalah salah satu yang memegang kunci penting dalam keberhasilan aktifitas yang saya lakukan. Sebelumnya, saya selalu membayangkan terlebih dahulu kegiatan yang akan saya lakukan itu seperti apa. Saya bayangkan dengan sangat detil, sesuai dengan gambaran yang saya inginkan. Bahwa suasana akan meriah, menyenangkan, heboh, pesertanya banyak, semuanya merasa senang dan terhibur, pakaian yang saya kenakan mulai dari kerudung hingga sepatu, bagaimana saya tampil dengan percaya diri dan berenergi  dan yang pasti menikmati setiap proses dalam kegiatan tersebut. Saya membayangkan semuanya dengan detil, benar-benar detil. Dan tak disadari ketika membayangkannya menjalar perasaan senang, optimis, dan bahagia diseluruh tubuh. Tak sadar senyum pun tersungging ketika membayangkan itu semua. And believe it or not, kegiatan yang saya lakukan berjalan persis seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Hiiii…merinding deh. Nggak percaya?! Coba buktikan!
11.05 WIB
20 Mei 2011
@maya_myworld

Salam rindu untuk alang-alang

kak @maya_myworld bercerita di depan anak asuh sanggar alang-alang dengan media gambar 2 dimensi

Woww! Setelah sekian lama, akhirnya saya berkunjung lagi ke Sanggar Alang-alang. Sanggar Alang-alang merupakan tempat dimana anak-anak jalanan mendapat wadah dan sarana untuk belajar, berlatih ketrampilan kehidupan, dan mengembangkan bakat mereka. Terakhir ke sana saat ada tugas kuliah, kalau nggak salah sekitar semester 3 atau 5, yaitu Mata Kuliah Psikodiagnostik 2 tentang Observasi. Setelah beberapa tahun tak berkunjung, bangunan fisik sanggar tersebut tak banyak berubah. Yang berubah hanya pelataran depan yang  di keramik sehingga tampak lebih luas. Ada satu hal yang tak berubah dan sepertinya tidak akan pernah berubah, yaitu rasa. Dulu saat pertama kali datang ke sanggar dan juga saat ini, rasa itu tetap sama. Rasa dimana siapapun akan merasa betah dan damai berada disana. Yaitu perasaan akrab dan bersahabat. Bangunan yang masih terletak di ujung pertigaan Jl. Gunungsari itu memang menjadi rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Yah, begitulah kelebihan dari anak-anak jalanan. Mereka biasa hidup di jalan, bertemu dengan banyak orang, dan orang-orang baru, terbiasa dengan adaptasi yang begitu cepat, dan kemampuannya menyikapi perubahan yang kapan saja bisa terjadi membuat mereka semua selalu tampak dan merasa akrab dengan siapa saja yang berkunjung ke Sanggar Alang-alang.

Kali ini saya datang bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita. Yah, dengan misi dan semangat mendidik melalui cerita kami ingin menularkan budaya bercerita untuk teman-teman disana. Seperti sekolah formal pada umumnya, di sanggar yang diasuh oleh Om Didit Hape itu juga memiliki jenjang pendidikan. Kalau di sekolah umum kita mengenal TK, SD, SMP, dan SMU. Di Sanggar Alang-alang menyebutnya dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Anak Usia Sekolah (PAUS), dan Pendidikan Anak Usia Remaja (PAUR). Masing-masing kelas selalu mengadakan pertemuan 2 kali dalam seminggu. Sebagai langkah awal, Indonesia Bercerita lebih fokus untuk masuk di kelas PAUS, karena di usia sekolah dasar inilah anak telah siap menerima pembelajaran dan stimulasi untuk membuat cerita dan bercerita di usia mereka di rasa paling tepat.
Yang khas dari Sanggar Alang-alang adalah ketika saling bersalaman satu sama lain. Tidak seperti cara bersalaman yang biasa kita lakukan, di Sanggar Alang-alang memiliki cara bersalaman khusus. Unik dan begitu akrab. Agaknya cara ini yang membuat orang-orang baru merasa diterima dan seketika merasa menjadi bagian dari Sanggar Alang-alang.
Seperti biasanya, kegiatan yang dilakukan Indonesia Bercerita adalah bercerita dan mengajak anak-anak jalanan untuk lebih mengenal dan mendalami dunia bercerita dan menulis. Tapi tidak seperti biasanya, saya tidak mempersiapkan apa-apa (selain karena materi dan media sudah tersedia), saya juga tidak melakukan visualisasi (bukan juga karena ini buka event besar atau apa). Tapi entah mengapa perasaan saya begitu excited, senang dan bersemangat sekali. Sampai saya tidak bisa membayangkan apa-apa. Saya hanya berbekal perasaan senang, riang, bersemangat, dan begitu gembira. Mungkin lebih tepatnya karena ini adalah rindu yang terpendam cukup lama :’). *peluuuk untuk mereka semuaaa…..
21.10
20 Mei 2011
@maya_myworld