Salam rindu untuk alang-alang

kak @maya_myworld bercerita di depan anak asuh sanggar alang-alang dengan media gambar 2 dimensi

Woww! Setelah sekian lama, akhirnya saya berkunjung lagi ke Sanggar Alang-alang. Sanggar Alang-alang merupakan tempat dimana anak-anak jalanan mendapat wadah dan sarana untuk belajar, berlatih ketrampilan kehidupan, dan mengembangkan bakat mereka. Terakhir ke sana saat ada tugas kuliah, kalau nggak salah sekitar semester 3 atau 5, yaitu Mata Kuliah Psikodiagnostik 2 tentang Observasi. Setelah beberapa tahun tak berkunjung, bangunan fisik sanggar tersebut tak banyak berubah. Yang berubah hanya pelataran depan yang  di keramik sehingga tampak lebih luas. Ada satu hal yang tak berubah dan sepertinya tidak akan pernah berubah, yaitu rasa. Dulu saat pertama kali datang ke sanggar dan juga saat ini, rasa itu tetap sama. Rasa dimana siapapun akan merasa betah dan damai berada disana. Yaitu perasaan akrab dan bersahabat. Bangunan yang masih terletak di ujung pertigaan Jl. Gunungsari itu memang menjadi rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Yah, begitulah kelebihan dari anak-anak jalanan. Mereka biasa hidup di jalan, bertemu dengan banyak orang, dan orang-orang baru, terbiasa dengan adaptasi yang begitu cepat, dan kemampuannya menyikapi perubahan yang kapan saja bisa terjadi membuat mereka semua selalu tampak dan merasa akrab dengan siapa saja yang berkunjung ke Sanggar Alang-alang.

Kali ini saya datang bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita. Yah, dengan misi dan semangat mendidik melalui cerita kami ingin menularkan budaya bercerita untuk teman-teman disana. Seperti sekolah formal pada umumnya, di sanggar yang diasuh oleh Om Didit Hape itu juga memiliki jenjang pendidikan. Kalau di sekolah umum kita mengenal TK, SD, SMP, dan SMU. Di Sanggar Alang-alang menyebutnya dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Anak Usia Sekolah (PAUS), dan Pendidikan Anak Usia Remaja (PAUR). Masing-masing kelas selalu mengadakan pertemuan 2 kali dalam seminggu. Sebagai langkah awal, Indonesia Bercerita lebih fokus untuk masuk di kelas PAUS, karena di usia sekolah dasar inilah anak telah siap menerima pembelajaran dan stimulasi untuk membuat cerita dan bercerita di usia mereka di rasa paling tepat.
Yang khas dari Sanggar Alang-alang adalah ketika saling bersalaman satu sama lain. Tidak seperti cara bersalaman yang biasa kita lakukan, di Sanggar Alang-alang memiliki cara bersalaman khusus. Unik dan begitu akrab. Agaknya cara ini yang membuat orang-orang baru merasa diterima dan seketika merasa menjadi bagian dari Sanggar Alang-alang.
Seperti biasanya, kegiatan yang dilakukan Indonesia Bercerita adalah bercerita dan mengajak anak-anak jalanan untuk lebih mengenal dan mendalami dunia bercerita dan menulis. Tapi tidak seperti biasanya, saya tidak mempersiapkan apa-apa (selain karena materi dan media sudah tersedia), saya juga tidak melakukan visualisasi (bukan juga karena ini buka event besar atau apa). Tapi entah mengapa perasaan saya begitu excited, senang dan bersemangat sekali. Sampai saya tidak bisa membayangkan apa-apa. Saya hanya berbekal perasaan senang, riang, bersemangat, dan begitu gembira. Mungkin lebih tepatnya karena ini adalah rindu yang terpendam cukup lama :’). *peluuuk untuk mereka semuaaa…..
21.10
20 Mei 2011
@maya_myworld
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s