Tips Sukses Mengajar

Selain beraktifitas bersama Indonesia Bercerita sebagai Pencerita dan juga Chief Operational Officer (COO), saya juga aktif berkegiatan mengajar dan juga mengelola Kelab Penulis Cilik (KPC). Di KPC biasanya saya mengajar di kelas KPC Forum, dimana jumlah siswa sekitar 20-25 anak dalam satu kelas, tujuannya hanya sebagai refreshment program untuk membangkitkan dan menstimulasi minat menulis anak.

Program KPC satu lagi adalah, KPC Prioritas, khusus diperuntukkan bagi anak yang berniat akan membuat sebuah buku. Sifatnyaintensive dan satu kelas hanya berisi 1-5 orang anak. Bisa dikatakan ini adalah kelas privat.
Walaupun saya belum pernah membuat buku (dan sedang proses membuat buku), saya dipercaya untuk mendampingi anak-anak di kelas KPC Prioritas. Kebetulan saat itu hanya 1 anak.
Woww hal ini adalah pengalaman baru. Dulu saya pernah menjadi guru privat, tapi sudah lamaaa sekali, waktu masih kuliah. Namun saya sangat bersyukur, karena melalui ini saya semakin banyak belajar lagi dalam menghadapi, berinteraksi dan belajar bersama anak-anak. Berikut adalah pelajaran-pelajaran baru yang saya petik selama proses mengajar.

1. Kenali Minat dan Hobi Anak

 

Pertemuan KPC Prioritas ini dilakukan selama 1 minggu sekali. Minggu-minggu pertama cenderung tidak ada masalah, namun tidak demikian saat menginjak minggu ke-4.
Tiba-tiba saya mendapat sms (short message service) dari Ibu murid saya, bahwa si anak mendadak motivasinya menurun dan ingin libur dulu selama 1 bulan. Woww praktis saya terkejut, hmm…ada apa yah?!.
Saya mengetahui bahwa hobi anak tersebut adalah membaca novel anak, maka melalui Ibunya saya meminta nanti di pertemuan berikutnya untuk membawa novel anak yang ia suka. Tak lama si anak meng sms saya, dan bertanya novel mana yang harus di bawa, rupanya dia memiliki banyak sekali novel. Hmm…dari situ perbindangan kita di sms semakin akrab

2. Ikuti Gaya Bahasa Anak

 

Saya tahu betul bahwa si anak senang sekali berbahasa Inggris, maka di sms tersebut selalu saya selipkan dengan bahasa Inggris. Lalu si anak juga menyelipkannya dengan sapaan bahasa Jepang, saya pun mengikuti sedikit-sedikit dengan bahasa Jepang (setelah bertanya pada suami hehehehe). Dan benar saja, tanpa di sangka perbincangan kami semakin panjang dan hangat.
Ia senang sekali karena saya juga bisa bahasa Jepang. Sampai akhirnya ia mengatakan bahwa ia merasa kesulitan mengerjakan pe er yang saya berikan. “Oohhh…ternyata ini yang membuat dia mendadak ingin libur selama 1 bulan”, pikir saya. “Oke, nggak papa kok kalau belum bisa. Kita kerjakan sama-sama saja pe er nya”, jawab saya dalam sms nya.
Tak di duga, dia pun akhirnya menetapkan hari untuk segera bisa belajar kembali. Yaah, dengan mengikuti gaya bahasa anak akhirnya kita bisa menggali dan membuat anak menjadi terbuka tentang apa yang sebenarnya sedang dialaminya.

3. Reward untuk Bangkitkan Motivasi

 

Saat pertemuan berikutnya, saya sengaja telah menyediakan beberapa hadiah untuk si anak. Di awal pembelajaran saya memberinya sebuah hadiah. Terlihat di raut wajahnya, ia sangat senang dan menyukai hadiah yang saya berikan.
Saya pun berjanji akan memberikan semua hadiah yang saya bawa jika ia berhasil menyelesaikan sesuai target belajar di pertemuan itu. Dan sepanjang proses belajar si anak terlihat jauh lebih semangat dan aktif. Dengan memberinya hadiah, anak akan merasa dihargai dan termotivasi untuk mencapai sesuatu yang konkret yaitu hadiah

4. Pahami tipikal anak

 

Hal ini bisa kita ketahui dengan mencari tau melalui orang tua atau saat berbincang-bincang santai dengan si anak. Akhirnya saya mengetahui bahwa si anak tergolong anak yang tertutup (introvert), dan ia akan merasa nyaman jika belajar dalam suasana yang sepi dan tenang.
Akhirnya setiap sesi pertemuan pun sengaja mencari tempat yang sepi dan membuat anak merasa nyaman, dan yang pasti hanya ada saya dan dia. Karena jika ada pihak ke tiga maka si anak cenderung ‘ogah-ogahan’ dan kurang konsentrasi. Begitu juga sebaliknya, jika si anak tergolong anak yang terbuka (ekstrovert), maka belajar di tengah-tengah suasana yang dinamis pun tidak masalah

5. Nikmati Prosesnya

 

  Pastikan perasaan dalam keadaan senang dan riang saat akan mendampingi anak belajar. Sebelum mengajar biasanya saya membayangkan hal-hal yang menyenangkan terlebih dahulu. Dan saat bercermin di depan kaca, saya melakukan senam wajah dengan mengucapkan huruf vocal A, I, U, E, O.
Kemudian, sambil berkcermin saya mengucapkan sesuatu ‘mantra’ yang mampu membangkitkan perasaan positif. Bisa apa saja. Lalu saya niatkan apa yang saya lakukan ini sebagai ibadah dan bisa bermanfaat. Tidak hanya itu, selama perjalanan pun saya tetap berusaha membawa perasaan tetap senang dan riang, biasanya dengan menyenandungkan lagu sambil memvisualisasikan bagaimana proses belajar yang nanti akan berlangsung.
Percayalah! Apa yang saya lakukan sangat ampuh. Silahkan di coba!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s