Pengalaman Pertama di Kota Hujan

Kota Bogor dengan latar belakang gunung Salak

Mungkin aku tidak akan ke Bogor kalau saja tidak mengikuti training Wanna Be Trainer, dimana pembicaranya adalah @jamilazzaini (siapa siy yang kenal beliau?!). Disambut hujan deras, hingga harus berpindah hotel akibat ‘suara misteri’ mewarnai ceritaku di kota itu. Yuk, ikuti perjalananku….

Yah, bersama sahabatku @iputratih ini adalah kali pertamaku menginjakkan kaki di kota Bogor. Seperti hendak ingin menunjukkan identitasnya sebagai kota hujan, begitu bis Damri melewati perbatasan Jakarta-Bogor langsung disambut hujan yang sangat deras. Nggak tanggung-tanggung, terminal Damri sampai banjiiir.

Saat itu waktu menunjukkan jam 9 malam, lebih lama dari waktu kedatangan yang diperkirakan. Selain karena pesawat yang delay, perjalanan Jakarta-Baogor juga meleset dari perhitungan. Dari 1,5 jam menjadi 3 jam. Untung saja saat itu di jemput oleh sahabat @iputratih, yaitu Mas Jodi. Dengan mobil Katanya kami langsung diantar ke hotel.

Sampailah kami ke hotel yang sudah di booking jauh-jauh hari. Melihat bangunan fisiknya, ini termasuk hotel lama. Kamarnya cukup luas, hanya furniture nya agak terkesan kuno. Denger-denger hotel ini pernah dibuat check-in gitu-gituan gitu deh (tau kan maksudnyah..). Tapi aku sih bodo’ amat. Karena selain letak hotel yang cukup dekat dengan lokasi pelatihan (hanya 10 menit naik angkot) dan yang terpenting harga terjangkau oleh kantong. Rp. 295.000/hari dan kami berencana akan menginap selama 5 hari 4 malam.

Hari pertama mengikuti training sangat berkesan sekali. Heboh dan seru deh pokoknya (cerita lengkapnya ada di postingan berikutnya yah..:) ). Pelatihan hari pertama selesai pukul 17.30 WIB.

Malam pertama tidur di hotel, tidak punya pikiran macam-macam karena sudah sangat lelah sekali setelah seharian beraktifitas. Belum lagi setelah pelatihan Mas Yudo mengajak kami ke Cimory, Rumah Makan Keluarga yang terletak di Puncak (eh hampir Puncak ding). Suasananya enak, ada playgroundnya juga. Disana terkenal dengan produksi susunya yang langsung diambil dari peternakan sapi nya. Malam itu kami pun tidur dengan lelap.

Esok harinya badanku terasa pegal-pegal, apalagi di daerah pundak dan sekitar bawah kepala. Ternyata karena bantalnya yang agak keras. Uuhhh…sial.

Hari ke dua pelatihan semakin seru dan heboh saja. Seperti sebelumnya, pelatihan diakhiri pukul 17.30 WIB. Kami pun langsung pulang menuju hotel, naik satu kali angkot dan langsung berhenti di depan hotel. Malam itu kami langsung tidur, sebelumnya aku mengoleskan salonpas gel di bagian tubuh yang pegel-pegel. Biar besoknya lebih fit.

Tepat jam 3 pagi aku terbangun untuk mematikan alarm handphone. Aku terbiasa bangun malam. Setelah mematikan alarm, samar-samar aku dengar suara yang spontan membuat bulu kudukku berdiri. Suara itu timbul dan tenggelam. Kukira dari suara tivi tapi ternyata bukan. Suara itu….suara desahan orang yang sedang…*tiiiiit* (sensor). Whuaaaaa…rasanya kudu nangis, pingin segera tidur tapi mata sulit terpejam. Pikiran melayang kemana-mana. Ingin rasanya adzan subuh segera terdengar.

Pagi harinya, aku memutuskan untuk pindah hotel. Mengingat masih 2 hari lagi disana. Nggak kebayang kejadian apa lagi yang akan terjadi, setelah sebelumnya bantal kamar yang keras dan bikin badanku pegel-pegel, ada ‘suara misteri’ lagi hiiii….. Sahabatku @ipuratih pun makmum saja dengan keputusanku. Karena kemarin ternyata ia juga agak stress karena flash di WC tidak berfungsi. Fiiuuhh… kami pun nggak berhenti mengumpat dan mengeluh..( sejak awal datang sih benernya…hehehe). Mulai dari tivinya hampir semua ada gambar semutnya, nggak bening blas. Handle pintu dan alat pengunci yang konvesional, lampu kamar yang suka mati-mati sendiri, dan banyak lagi. Fiuuhh…

Akhirnya kami pindah hotel juga. Walaupun jarak antara hotel ke dua ini dengan lokasi pelatihan lebih jauh dan harus ditambah dengan jalan kaki tapi kami seakan rela asalkan bisa tidur dan istirahat dengan tenang #eh. Walaupun sebenarnya hotelnya masih lebih bagus hotel yang pertama baik secara fasilitas dan luas kamar. Hotel ini lebih kecil dan furniture dalam kamar yang sangat sederhana. Tapi kami merasa nyaman dan aman kok.

Dari serentetan kejadian itu, akhirnya aku mengambil pelajaran. Bahwa terus-menerus mengeluh, melihat semua dari sisi negatif, tidak bersyukur atas apa yang ada hanya akan mendatangkan hal-hal negatif lainnya. Di hotel pertama kami hanya mengeluh karena tidak sesuai dengan harapan kami, dan sudah berpikiran yang tidak-tidak. Dan akhirnya benar terjadi. Uurrghhh…

Sedangkan di hotel ke dua, dengan segala kesederhanaannya, tapi membuat aku lebih bersyukur dan belajar untuk melihat dari sisi lebihnya. Seprti bantalnya yang empuk, mbak resepsionis yang sopan dan berkerudung (memastikan bahwa itu bukan hotel ehemm..ehemm, kan trauma bo’), posisi kamar yang strategis. Akhirnya aku pun merasa nyaman dan bisa tidur dengan sangat nyenyak dan berkualitas di dua hari terakhirku di Bogor.

Mengenai Bogor, ada 1 hal yang sangat khas selain kotanya yang sering hujan. Yaitu buanyaaknya angkot di kota itu. Pantas saja sampai disebut kota sejuta angkot. Pernah kami ingin naik taksi, karena sudah lelah, males oper angkot, males jalan, dan ingin menghemat waktu. Setelah lama ditunggu taksi tak kunjung datang dan alhasil kamipun naik angkot lagi (penonton kecewaa..huuuu).

Selain itu, warga kotanya juga sangat ramah dan bersahabat. Baik-baik orangnya. Secara kami baru pertama kali kesana, jadi sering tanya-tanya pada ke orang disekitar. Angkot apa yang dinaiki, jalan-jalan yang harus dilalui, nama-nama jalan, dll. Semuanya menjawab dengan ramah. Tidak seperti di Surabaya yang kadang kalau naik angkot ngerasa agak ‘horor’, kalau di Bogor walaupun kemana-mana naik angkot tapi rasanya aman dan nyaman aja gitu. Hmm…suatu saat aku ingin kembali lagi kesana J

Itu siy, ceritaku di kota pertama yang aku kunjungi. Bagaimanapun, dimanapun kita harus selalu bersyukur dan berpikiran positif agar semakin banyak hal-hal positif yang datang. Bagaimana dengan kalian?

 

@maya_myworld

21.20 WIB

14 Desember 2011

Advertisements

One thought on “Pengalaman Pertama di Kota Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s