Luby si Anak Lumba-lumba

Suatu ketika di sebuah dasar laut yang sangat luas. Terdapat keluarga lumba-lumba yang tengah asyik mengarungi lautan. Ada Ayah lumba-lumba, Ibu Lumba-lumba dan anak lumba-lumba, yang bernama Luby. Sebelum mereka akan bepergian, Ibu Luby berpesan padanya untuk selalu mengikuti Ibu dan Ayahnya, jangan sampai terlepas karena di laut banyak sekali ikan-ikan buas yang setiap saat siap memangsa, jika kita tidak hati-hati.

“Ingat, ikuti ayah dan ibu. Pastikan kau selalu di dekat kami”. Demikian kata Ibu lumba-lumba beberapa kali mengingatkan Luby.

“Iya iya Bu…” kata Luby sekenanya sambil memain-mainkan ekornya.

Lalu mereka bertiga pergi mengarungi lautan. Wah di laut indah sekali, banyak tanaman laut berwarna-warni dan juga karang-karang berbentuk indah. Sambil terus memandagi keindahan laut, Luby melihat dari kejauhan ada sesuatu yang berkilauan.

“Wah, apa itu yah?” kata Luby dalam hati. Luby ingin sekali mencari tau, tapi ia teringat pesan Ibu untuk selalu mengikutinya.

“Aku belum pernah melihatnya, apa itu yah?” tanya Luby dalam hati. Ia semakin penasaran. Karena sangat ingin tau, Luby pun memutuskan untuk melihatnya dari dekat. Tanpa disadari ayah dan ibunya sudah semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan.

Semakin mendekat Luby semakin penasaran, karena kilaunya semakin terang. “Wowww…indah sekali!” teriak Luby spontan.

“Apa ini?” tanya Luby. Luby melihat beberapa kerang yang terbuka dan didalamnya terdapat butiran putih.

“Waahh bagusnya, aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Aahh aku ambil saja, aku bawa kerumah dan aku berikan pada Ibu. Ibu pasti senang sekali.” Katanya girang.

Saat akan mendekat dan bermaksud mengambil mutiara dari kerang, tiba-tiba…

“Heiii….apa yang kamu lakukan disini!!” seketika muncul ikan yang berukuran jauh lebih besar dari Luby mendekat ke arahnya. Luby kaget sekali.

“ee..ee…ee…”

“Ini adalah daerah kekuasaanku, barang siapa sembarangan masuk ke sini. Jelas Ia akan menjadi santapanku.. hahaha..” tawa Hiro, ikan Hiu besar itu.

Luby tampak semakin ketakutan, “Maaf..maafkan aku… aku tidak bermaksud…” sebelum menyelesaikan kalimatnya segera Hiro kembali berteriak, “Sudah tidak usah banyak bicara! Sekali kau berani memasuki wilayahku berarti kau telah menantangku”. “Kebetulan sekali sekarang ini aku sedang lapaaaar sekali, sepertinya dagingmu lumayan untuk membuat peruku kenyang..hahahaha… Hmm..makan siangku datang sendiri kali ini..oh indahnya dunia..hahahaha”. Tawa ikan Hiro semakin menggelegar dan membuat Luby semakin pucat.

Wajah Luby terlihat memerah, air matanya perlahan mulai jatuh.

“Ampuunn…tolong jangan makan aku. Uhmm..dagingku sangat tidak enak sekali. Bagaimana kalau aku carikan ikan yang lebih besar lagi.” Bujuk Luby pada Ikan Hiu.

“Ahh tidak perlu! Aku sudah sangat lapar sekali! Ayo kemari kau! Hahahaha…hmm pasti lezat”.

“Huwhuwhuw..jangan…jangaann…jangan akuu…” rintih Luby. Tiba-tiba ia teringat akan ibu dan ayahnya, ia teringat pesan Ibu nya. “Andaikan tadi aku menuruti kata-kata Ibu, pasti tidak akan terjadi seperti ini…huwhuwhuw”.

“Ibu…tolong…Ibu..” jerit Luby.

Luby sudah tidak bisa melarikan diri lagi, ia terhimpit oleh batu-batu karang yang besar. Ia tidak punya jalan keluar lagi. Tidak ada harapan untuk menyelamatkan diri.

“Hahaha….teriaklah bocah kecil, disini adalah daerah kekuasaanku. Sekencang apapun kau berteriak tidak ada yang mendengarmu…hahaha teriaklah..teriaklaaah!” kata Hiro menantang.

“Tolooooong…toloooonggg…huwhuwhuw…” karena hanya itu yang bisa ia lakukan, Luby pun berteriak sekuat tenaga. Berharap Ayah Ibu nya kembali dan menolongnya.

“Toloooong…toloooong…” semakin kencang ia berteriak. Tapi sepertinya sia-sia. Tetap saja nasibnya ada ditangan Hiro, ikan Hiu yang angkuh itu. Karena tenaganya sudah habis, Luby pun hanya bisa menangis.

Ikan Hiu semakin mendekat, air liurnya mulai membasahi mulutnya. ”Hmm..kamu terlihat lezat sekali..hmm…”. Kini wajah mereka hanya berjarak satu jengkal. Luby siap di mangsa. Hiro membuka mulut nya lebar-lebar. Luby semakin pucat dan menutup matanya rapat-rapat, pasrah.

Saat ikan Hiu akan melahap Luby, tiba-tiba…

“Bum..bum..bum..” ada yang bergetar!. Hiro dan Luby dikejutkan oleh adanya getaran yang begitu hebat, getaran suara yang semakin keras terdengar, semakin dekat.

“Lepaskan dia! Biarkan dia pergi!” seketika itu muncullah Pluto, seekor ikan Paus datang menolong Luby. Kemudian ia kibaskan ekornya yang sangat besar dengan sangat kuat ke arah Ikan Hiu. Seketika itu Hiro terpelanting dan terlempar jauh sekali.

“Ahh…kau?” kata Luby melihat Pluto. Pluto pun hanya tersenyum dan segera mengajak Luby pergi. “terimakasih Pluto kau telah menolongku.. entah apa jadinya jika kau tak segera datang” kata Luby penuh syukur.

“Sama-sama Luby, aku hanya ingin membalas budi atas kebaikanmu dulu” ujar Pluto.

Pluto adalah sahabat Luby. Dahulu Luby pernah menolong Pluto yang tengah tesesat mencari arah pulang dilautan yang begitu luas. Dengan kemampuannya mengenali arah Luby dan Ibunya membantu Pluto mencari keluarganya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Pluto.

“Ah.. panjang ceritanya. Yang pasti aku sangat menyesal sekali tidak menuruti kata-kata ibuku” kata Luby lesu.

“Heii..ingat, bahwa kita harus selalu menuruti orang tua kita. karena mereka sangat sayang dan menginginkan yang terbaik bagi kita. Percayalah” kata Pluto.

“Iya, mulai sekarang aku janji akan selalu ingat nasihat dan kata ayah ibuku” kata Luby penuh sesal.

“Yuk, sekarang aku temani kau mencari keluargamu.”

“Terimakasih banyak Pluto, kau memang sahabat yang baik.”

Story written by:

@maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s