Bolehkah Anak-anak Jadi Penulis?

Diskusi pagi ini dimulai ketika saya ditunjukkan sebuah artikel oleh salah seorang guru pengajar Klub Penulis Cilik (KPC) di grup pribadi. Artikel tersebut kurang lebih menyebutkan bahwa anak-anak belum waktunya menjadi seorang penulis, karena ternyata buku karya penulis cilik yang beredar di luaran banyak memberikan pandangan dan nilai-nilai yang tidak sesuai bagi anak.

Nah, bagaimana dengan Klub Penulis Cilik?

Akhirnya perlu bagi kami untuk menginformasikan spirit yang kami usung di Klub Penulis Cilik. Sejak bulan November 2013, KPC telah beralih manajemen dan kepemilikan, setelah di hibahkan oleh pemilik sebelumnya kepada saya. KPC memiliki semangat dan visi baru.

Spirit KPC yang baru lebih menekankan pada proses belajar anak. Belajar apa? Belajar menulis dan bercerita. Mengacu pada teori Kecerdasan yang di kemukakan oleh Howard Gardner seorang psikolog, bahwa manusia memiliki beragam kecerdasan. Diantaranya kecerdasan linguistik (bahasa). KPC ingin menjadi wadah sekaligus menjadi partner anak dalam menstimulasi dan mengoptimalkan kecakapan berbahasanya. Tidak hanya berbahasa secara tulisan tetapi juga secara lisan.

Ya, hanya menstimulasi. Melihat pada karakteristisk anak yang masih operational konkret, yaitu berorientasi pada hal-hal yang konkret atau nyata. Salah satu yang kami terapkan adalah, berusaha memberikan pembelajaran melalui pengalaman pada anak. Menulis akan lebih mudah dilakukan jika kita telah mengalaminya terlebih dahulu, khususnya bagi anak-anak. Sehingga mereka dapat menceritakan secara detil dalam tulisannya. Misalnya mewawancari tokoh, praktek memasak, observasi, menonton film edukasi, membaca buku, dll. Setelah itu, mereka diminta untuk menceritakannya lalu menuliskannya kembali.

Sehingga tugas dari guru pengajar menulis adalah mendampingi proses dan menstimulasi bagaimana anak menulis dengan baik berdasarkan kapasitas maksimal anak, dengan metode belajar yang menyenangkan. Tidak harus bisa membuat buku. Karena membuat buku membutuhkan proses dan tingkat kematangan tertentu sehingga layak untuk dibaca oleh umum.

Tanpa menjadi penulis anakpun, menulis sendiri memiliki banyak manfaat positif bagi perkembangan anak. Diantaranya, mengajak anak untuk berpikir kritis dan analitis. Mampu mengolah informasi dan menyatukan data yang diperoleh. Walaupun masa anak-anak adalah masa imajinatif dan berpikir kreatif namun tetap dalam sebuah tulisan harus dijaga logika berpikirnya. Sehingga anak akan terstimulasi untuk mencari tahu dan membaca buku untuk mencari informasi yang diperlukan dalam tulisannya. Tidak hanya sekedar mengandalkan imajinasi semata.

Selain itu, menulis mengajak untuk berpikir lebih sistematis, logis, mandiri, kreatif, percaya diri, mampu mengolah emosi, empati, memiliki kepekaan dengan sekitar, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, jadi senang membaca, mampu menuangkan pemikiran lebih lugas, memiliki tambahan kosakata dan pemaknaan secara utuh terhadap suatu bahasa dan sebagainya. Jadi kami lebih berfokus kepada perolehan manfaat seperti ini yang akan dirasakan oleh anak.

Bahwa kecerdasan majemuk tidak hanya sekedar kecakapan menulis saja tetapi juga bebicara, karenannya KPC dengan kurikulum dan konsep baru hadir dengan semangat untuk menstimulasi keduanya agar dapat berkembang dengan optimal. Seperti yang kita ketahui bahwa bercerita sendiri juga memiliki banyak sekali manfaat positif bagi pekembangan anak berikutnya.

Di usia anak-anak, mereka belajar menulis (masih) untuk diri mereka sendiri. Tidak ada keharusan bagaimana menulis yang bagus agar bisa memberikan inspirasi apalagi cerita bermoral agar bisa dicontoh oleh yang lainnya. Tidak seperti itu.

Adanya buku-buku karya anak yang beredar di pasaran dan dinilai sebagian orang kurang memberikan dampak yang baik bagi perkembangan anak, lagi-lagi orang-orang dewasalah yang harus lebih berhati-hati, lebih kritis dan pintar dalam memilah sejauh mana bacaan tersebut memberikan manfaat baik bagi anak. Poin nya adalah kita ingin memberikan dan melakukan yang terbaik untuk anak bukan? Nah, jika hal itu tidak bisa terpenuhi, maka sebaiknya tidak perlu diberikan.

Sehingga ini bukan pada boleh atau tidak anak menjadi seorang penulis. Tetapi menurut saya pribadi akan lebih baik jika kita mengupas manfaat menulis itu sendiri bagi anak. Bukankah menulis sangat penting dibutuhkan untuk pendidikan dan perkembangan anak berikutnya. Terlepas nantinya anak akan menjadi seorang penulis atau tidak.

6 November 2013
by : @maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s