“Harta Karun” ku

Sudah seminggu ini ujian sekolah berjalan, sisa ujian tinggal seminggu lagi. Waktu berjalan begitu lama. Aku sudah tidak sabar bermain-main di taman setiap sore, atau kerumah sahabatku, Wina untuk sekedar berbagi cerita dan melakukan hobi bersama, yaitu merangkai bunga. Selama ujian ini hampir setiap hari aku belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Guru, terkadang soal ujian yang diberikan berupa tugas yang bisa dikerjakan dirumah. Tapi jangan salah, walaupun bisa dikerjakan dirumah tapi tugas-tugas yang diberikan biasanya cukup sulit. Membutuhkan banyak bahan bacaan dan berbagai literatur, seperti koran, majalah, dan buku-buku pengetahuan lainnya. Seperti tugas kali ini, aku diminta untuk menyebutkan dan menjelaskan siklus hidup hewan-hewan yang hidup di air dan di darat.

“Hmm…tugasnya dikumpulkan besok lusa niy, sedangkan aku tak punya satu pun buku atau bahan bacaan yang berkaitan dengan tugas itu,” batinku dalam hati. Aku bingung sekali. Dalam waktu singkat dari mana aku dapat buku-buku yang membahas itu.

“Ahh.. di toko buku pasti banyak,” tiba-tiba ada ide cemerlang mampir di otakku, dan membuatku tersenyum-senyum sendiri. Kalau begitu, setelah jam sekolah aku akan segera pulang untuk berganti baju, makan, dan segera ke toko buku untuk mencari buku yang bisa menjawab tugas ujian ku itu.

“Ya, aku memang jenius.. selalu punya banyak ide,” kataku pada diri sendiri dengan bangga. Aku pun pulang dengan sumringah dan hati bahagia, merasa tugas kali ini mudah karena aku bisa menemukan jawabannya dengan berkunjung ke toko buku.

Sesampainya di toko buku, aku pun mulai mengamati dan menyisir sekumpulan buku-buku pelajaran yang terpajang dengan rapi. Aku mencari buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang hewan-hewan. Setelah beberapa lama mengamati dan membolak-balik buku yang ku rasa sesuai, akhirnya aku pun menemukan buku yang aku cari.

“Nah, ini dia… Siklus Hidup Hewan Laut dan Darat” aku membaca judul bukunya. “Tumben, ini gampang sekali tugas dari Bu Guru” gumamku dalam hati dengan wajah berseri. Aku dekap buku itu dengan erat, aku merasa lega membayangkan tugasku segera selesai. Aku hanya tinggal membacanya ulang dan menyalinnya kembali. Semua jawaban ada di buku itu. Yeay! Aku melompat dengan girang.

Aku pun segera beranjak dari toko buku.

Deg…

Tiba-tiba, teringat sesuatu. Langkahku seketika menjadi berat dan jantungku berdenyut lebih kencang dari biasanya. Tubuhku mendadak lemas dan tanganku berkeringat. Tanpa diperintah tanganku langsung merogoh kedua saku celanaku. Memastikan lagi dan kurogoh sekali lagi saku celanaku.

“Bagaimana bisa lupa?!” jeritku pelan. Tak sadar akupun menepuk dahiku sendiri. Tubuhku langsung lunglai dan berjalan dengan gontai. Ya, aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Aku lupa bawa uang. Saking senangnya aku tadi terburu-buru saat pergi ke toko buku. Jarak rumah dan toko buku cukup jauh. Belum lagi, saat ini sudah menjelang sore. Jika aku kembali kerumah dan ke toko buku lagi sudah terlalu larut, aku juga harus mempersiapkan diri ujian besok pagi. Ah…. Terpaksa aku pun pulang dengan langkah yang begitu berat.

Malam sebelum tidur, aku berniat mengumpulkan uang tabunganku untuk membeli buku. Saat membuka kotak uangku, aku terperanjat. Melihat isinya yang kosong melompong. Aku lupa bahwa uang tabunganku minggu lalu baru saja aku pakai untuk membelikan kado untuk Wina, sahabatku.

Kepalaku mendadak pusing. Terpikir untuk meminta uang pada Ibu. Tapi niat itu segera aku urungkan mengingat minggu ini aku sudah terlalu banyak meminta uang pada Ibu untuk keperluan ujian dan sekolahku. Ibu yang hanya seorang pencuci baju tentu penghasilannya tidak seberapa. Uang bulanan dari ayah juga tentu saja sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah yang bekerja di kota, memang rutin mengirimkan kami uang sebulan sekali.

Besok ujian tulis, dan jam ujian telah selesai. Aku terus memikirkan bagaimana caranya bisa membeli buku di toko buku agar tugas ujianku untuk besok bisa selesai. Aku tak bisa membayangkan kalau aku sampai tidak mengerjakan tugas ujian itu, nilai ku akan jatuh dan ibu pasti sedih.

“Hei Sarah… kok melamun aja sih?” suara Wina mengagetkanku.

“Ujiannya baru selesai, kok malah cemberut. Seharusnya lega dong. Kan sudah terlewati satu mata pelajaran” kata Wina dengan wajah ceria sambil menepuk bahuku.

“Aku lagi memikirkan tugas buat besok nih” jelasku dengan nada lemas. “Kemarin siy aku sudah menemukan bukunya di toko buku tapi… aku lupa bawa uang” kataku tertunduk lemas.

“Kan siang ini masih ada waktu untuk kesana membelinya?” tanya Wina. Sambil merapikan rambutnya yang terurai panjang ia duduk di sebelahku.

“Hmm… ya masalah nya lagi adalah, ternyata uang tabunganku udah abis tak tersisa. Dan aku nggak mungkin minta Ibu. Tau sendiri kan gimana keadaan kami?” jelasku pada Wina. Wina memang bukan orang lain, ia adalah sahabat ku sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas 1 hingga kelas 5 ini. Ia tahu betul bagaimana kondisi ekonomi keluargaku.

“Ohh.. jadi itu sebabnya kamu terlihat murung dari tadi yah?” kata Wina dengan senyum manisnya. “Hmm…gitu saja murung… Ayo kamu segera pulang, ganti baju, dan ikut aku!” ajak Wina padaku tanpa menjelaskan lebih lanjut. Aku yang tidak mengerti maksud Wina tapi tak punya pilihan lain selain hanya menurut saja.

Sorenya harinya,

“kriing..kriiing…”

Wina menjemputku  dirumah. Wina terlihat sudah siap mengenakan kaus setelan merah muda dan bawahan celana jins. Tak lupa juga sepeda kesayangannya yang setia mengantarkan kami kemana saja. Sepeda Wina sungguh berjasa.

“Eh Win, tugasku buat besok belum selesai niy. Kok malah diajak main siy?” gerutuku pada sahabatku itu.

“Udah naik aja, aku juga belum mengerjakan tugas kok.” Katanya lagi-lagi sambil tersenyum manis. Aku sempat bingung dalam hati, bagaimana bisa tersenyum semanis itu padahal tugas ujian untuk besok belum selesai. Seakan tak punya pilihan lain, lagi-lagi aku pun menurut saja. Menaiki sepedanya dan pergi kesuatu tempat entah kemana.

“Kita mau kemana Win?” tanya ku mulai penasaran. Aku yang duduk di belakang Wina sudah lelah menebak-nebak dalma hati akan kemana kami pergi.

“Ke suatu tempat yang baru… dan kamu pasti senang sekali berada disana.” Jelas Wina seperti menyembunyikan sesuatu sambil terus mengayuh sepedanya dengan ringan.

“Ahh… nggak mungkin, hal yang bisa membuatku senang saat ini hanyalah pergi ke toko buku dengan membawa sejumlah uang untuk membeli buku yang kemarin aku baca. Di buku itu jawaban dari tugas kita dijelaskan semua.” Jelasku bersemangat sambil menerawang, membayangkan hal itu benar-benar terjadi.

Tak lama kemudian, sepeda Wina berhenti. “Sudah sampai..ayo turun” kata Wina memintaku turun dari sepeda. Aku bingung melihat pemandangan di sekeliling. Persis di depan kami ada bangunan baru yang berdiri dengan kokoh.

“Kok malah diam aja… ayo masuk!” ajak Wina mengajakku memasuki bangunan baru itu sambil menuntut sepeda kesayangannya. Wina pun memarkir sepedanya di salah satu sisi bangunan gedung itu. Bangunan baru itu cukup besar, hampir seperempat dari sekolah kami.

Ketika Wina membuka pintu, mataku terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan mata. Terdapat rak-rak buku bersaf yang tertata dengan rapi, terlihat beberapa anak yang asyik mengetik di balik komputer. Beberapa orang terlihat sedang menikmati buku yang ada dihadapannya sambil duduk santai di sofa yang sepertinya sangat empuk dan nyaman. Mataku seakan tak bisa berkedip dan begitu takjub melihat begitu banyak buku-buku yang tertata rapi ditempatnya. Seperti melihat harta harun aku seketika melonjak kegirangan.

“Winaaaa… kamu kok nggak pernah cerita ada perpustakaan di sini?” tanya ku sambil mencubit lembut bahu Wina. Aku gemas sekali, bagaimana mungkin aku sampai tidak tahu ada perpustakaan sebagus ini di daerah tempat tinggal kita.

“hehehe… aku selalu saja lupa mau menceritakannya padamu Sarah.” Jelasnya singkat sambil menganggat kedua jari telunjuk dan manisnya sehingga membentuk huruf V. Pertanda ia ingin dimaklumi dan di maafkan atas kealpaannya itu.

Ah sudahlah itu tidak terlalu penting, sekarang sudah ada “harta karun” di depanku. Aku siap mengerjakan tugas dan melahap semua buku bacaan yang ada di depan mata. “Terima kasih Wina” kataku pelan, sambil memeluk erat sahabatku.

Written by : @maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s