Kemauan Belajar Sebagai Modal Sukses Usaha

 

Percaya atau tidak bahwa selama ini kita belajar dari sebuah kesalahan. Adanya kesalahan atau kegagalan yang dialami membuat kita akhirnya berpikir lebih tajam dan menganalisa kembali apa yang sudah di lakukan. Lebih-lebih di dunia bisnis, kegagalan adalah suatu yang lumrah. Jarang sekali ditemui seorang pebisnis bisa langsung berhasil di bisnis pertamanya. Tidak sedikit pebisnis yang harus mengalami kegagalan beberapa kali sebelum akhirnya menuai keberhasilan.

Menjadi seorang pebisnis merupakan sebuah pilihan yang tidak mudah. Dunia bisnis penuh dengan ketidakpastian. Menyajikan banyak sekali tantangan dan jauh dari zona nyaman. Banyak hal bisa saja terjadi dan pelaku bisnis harus siap menghadapi segala kemungkinan. Memang benar bahwa untuk memulai sebuah usaha membutuhkan keberanian untuk melangkah, namun untuk mengelola sebuah usaha membutuhkan pengetahuan.

Menurut Bob Sadino, bahwa setiap langkah sukses harus diawali dengan kegagalan. Perjalanan wirausahapun tidak semulus yang di perkirakan. Yang terpenting adalah adanya kemauan belajar, komitmen, berani mencoba dan menangkap peluang. Belajar tidak hanya sebatas di bangku sekolah saja. Di keseharianpun banyak tersaji beragam pelajaran yang bisa kita petik sarinya sebagai hikmah untuk melangkah lebih baik.

Stay hungry stay foolish! Begitu pesan Steve Jobs pendiri Apple Computer saat diundang untuk berpidato di acara wisuda di Universitas Standford. Dengan merasa bodoh maka akan timbul hasrat untuk terus belajar dan belajar. Terus berinovasi, berkreasi dan jangan cepat puas dengan apa yang telah diketahui atau dipelajari karena ilmu dan dunia terus berkembang dengan dinamis.

Jika kita berbisnis tanpa pernah belajar, maka kita akan jatuh pada kesalahan yang sama bahkan mungkin akan membawa bisnis kita ke dalam kehancuran. Seperti teman saya ketika bisnisnya sedang dalam kondisi puncak, Ia pun “terlena”. Merasa tidak perlu melakukan inovasi karena bisnisnya dirasa sudah dalam keadaan mapan dan stabil. Sementara pesaing bisnisnya secara diam-diam mengadopsi pola-pola yang ia lakukan dengan melakukan modifikasi yang lebih baik sehingga lambat laun teman saya mengalami kerugian dan penurunan omzet yang tajam.

Disinilah perlunya belajar untuk melakukan pembaharuan, evaluasi, dan inovasi. Karena bisnis merupakan proses yang berkelanjutan dan sebenarnya setiap tantangan yang ada bisa menjadi pelajaran. Bukankah kita ingin memiliki bisnis yang bisa bertahan hingga generasi penerus kita? Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan bila kita tidak dinamis, berusaha untuk terus belajar, berpikir kreatif dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman.

Seorang pebisnis yang sukses merupakan pembelajar yang ulung, hal itu juga yang dilakukan Ir. Ciputra. Walaupun di usia 80 tahun masih terus rendah hati untuk mau terus belajar pada siapa saja, menyempatkan mengikuti berbagai macam seminar, membaca buku, berdiskusi, dan sebagainya. Karena Ilmulah yang akan membuat bisnis kita bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.

Bagaimana menumbuhkan semangat belajar? Ada 3 hal yang perlu dilakukan.

Yang pertama adalah mengetahui manfaat dari belajar itu sendiri. Lihat sekeliling anda dan perhatikan bahwa orang dan perusahaan yang sukses pasti tidak lepas dari proses belajar. Jangan dibayangkan belajar hanya dari buku atau internet tapi juga dari pengalaman orang lain, pengalaman diri sendiri. Bangun kepekaan bahwa dari setiap peristiwa atau fenomena pasti ada hikmah yang bisa kita ambil

Yang kedua, Bergaullah dengan komunitas atau orang-orang yang memiliki hasrat yang tinggi untuk belajar, lambat laun tentu kita akan tertular dan makin bersemangat untuk belajar.

Bukankah Rasulullah pernah bersabda “Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih).

Yang Ketiga, Ketahui tipe gaya belajar anda. Pada Quantum Learning ada 3 tipe pembelajar, yaitu visual, auditori dan kinestetik. Visual berarti menempatkan indra penglihatan sebagai alat belajar yang utama. Pembelajar tipe ini lebih suka untuk melihat grafik, gambar, membaca buku, atau melalui alat bantu visual. Auditori itu telinga, yakni lebih suka mendengarkan cd tutorial/motivasi, berdiskusi dan berkomunikasi sebagai media belajar. Sementara kinestetik lebih melibatkan tangan dan gerak yaitu dengan melakukan langsung misalkan dengan alat peraga. Dengan mengetahui gaya belajar yang tepat maka belajar akan lebih bersemangat dan menyenangkan.

Belajar tidak hanya di ranah akademik saja, di dunia bisnispun kita dituntut untuk membuka mata dan telinga. Lebih peka terhadap sekitar. Pelajaran sebenarnya ada ketika kita hidup di tengah masyarakat. Seseorang perlu kerendahan hati untuk mau belajar.

Bukankah air selalu mengalir ke tempat yang rendah? Bukankah gelas yang penuh tidak akan mampu menampung air lebih banyak? Jadi kosongkan gelas, lihatlah sekeliling, tajamkan indera untuk menangkap segala pelajaran yang ada di sekitar. Setiap orang adalah guru, setiap momen adalah bab pembelajaran dan sepanjang hidup adalah waktu belajar.

Nindia Maya

@maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s