Belajar dari #SuaraAnak

Photo: Foto bareng presentan #SuaraAnak seri ketiga pada sesi coaching

Yeay!! Inilah presentan #SuaraAnak yang akan tampil tgl 24 Agustus 2014 di Perpustakaan BI pukul 10.00-12.00 WIB. Ada yang gemar membaca, menulis, bermain piano dan senam ritmik. Hmm… kalau mau tau gimana keseruan ceritanya mereka menekuni kegemarannya. Datang yah! 🙂

Jadi belajar lagi setelah tadi siang ada coaching untuk persiapan penampilan anak-anak di #suaraanak. Bahwa dalam setiap pencapaian itu ada proses yang dilalui. Seperti Nanda anak yang punya kegemaran senam ritmik, sekarang sudah jadi atlet international. Aku siy taunya senam SKJ 92 jaman dulu hehehe… Apa itu senam ritmik? Yaitu senam yang memadukan gerak tubuh, lagu dan alat. Alatnya kadang pake holahop, gala, dan lain-lain. Setiap minggunya harus latihan setidaknya 4x. Pernah kakinya diinjek ama pelatihnya, kepalanya ketiban gala, dan behel giginya pernah ndelesep ke dalem karena kena gala. Padahal untuk tampil senam ritmik hanya butuh waktu 1 menit 30 detik. Ternyata butuh latihan yang panjang dan lumayan menguras emosi dan air mata yah #lebay hehehe. Soalnya anaknya pernah sampe nangis pas latihan, ngerasa jengkel ama pelatihnya, down, dan sebagainya.

Dalam kenyataan, ternyata kita sering lupa untuk melihat setiap proses dalam sebuah pencapaian. Semua prestasi tidak di raih dengan mudah. Semua orang pengen jadi juara, pengen dapet nilai terbaik, pengen sukses dan berhasil tapi terkadang lupa bahwa dalam mencapainya ada proses yang harus dilalui, ada usaha dan kerja keras yang harus di lakukan yang mungkin ini nggak banyak di ketahui. Dan rata-rata orang hanya melihat hasil yang sudah di capai. Akhirnya membandingkan.

Mungkin karena kita nggak terbiasa melihat proses belajar seseorang dan hanya melihat hasilnya, kadang kita mau sukses tapi nggak pernah menanyakan pada diri sendiri, apakah kita juga mau berusaha sekeras dan sekuat orang itu? Padahal setiap orang sukses itu kalau di tilik ke belakang cerita dan prosesnya pasti “berdarah-darah”.

Begitu juga dalam bisnis, kadang pingin punya bisnis yang sukses seperti si A. Tapi kita lupa untuk melihat cerita di balik kesuksesannya, pasti pernah jatuh bangun, rugi dan akhirnya bangkit lagi.

Sempat ngobrol juga dengan Pak Bukik tentang stimulasi belajar anak. Umumnya banyak orang tua menggunakan reward dan punishment untuk membuat anak mau belajar atau mencapai sesuatu. Kalau nurut dan berhasil akan di kasih hadiah, kalau nggak nurut akan diberi hukuman. Ternyata cara itu sudah nggak efektif lagi dijaman sekarang. Dulu jaman kuliah emang belajarnya begitu, ternyata sekarang sudah di kritisi. Yang dulunya cenderung behavioris kini sudah bergeser lebih konstruktivis, dan ini juga sudah di kritisi oleh Ki Hajar Dewantara. Ya, pahlawan kita. Tokoh Indonesia. Wow!! Ya ampun, selama ini belajar pendidikan mengacu pada tokoh-tokoh luar negeri, ternyata kita sendiri punya Bapak pendidikan yang keren banget. Jadi pengen baca lebih jauh tentang pendidikan ala Ki Hajar Dewantara.

Bahwa dalam proses pendidikan, yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk eksplorasi dunianya, kita sebagai pembimbing. Yang tugasnya hanyalah menumbuhkan rasa ingin tahu anak. Tanpa hukuman dan ancaman. Menjadikan setiap proses belajar itu menyenangkan dan anak sadar akan pilihannya.

Disinilah suara anak hadir, mencoba untuk lebih mendengar suara anak. Mendengar bagaimana pengalamannya. Apa yang dirasakan. Bagaimana pengalaman seru dan menariknya. Bagaimana anak mengatasi masalahnya. Mendengar lebih dalam tanpa ada intervensi dan tuntutan dari orang dewasa. Memberi kesempatan anak untuk bercerita seperti anak bercerita pada temennya, santai dan akrab.

Mungkin… mungkin lho ya, kalau sejak kecil kita belajar bagaimana tentang proses sebuah pencapaian. Kita nggak mudah keblinger dengan pencapaian yang di dapat orang lain. Karena setiap pencapaian pasti ada usaha dan pengorbanan yang dilakukan. Tapi lebih menumbuhkan semangat untuk berusaha. Kalau mau berhasil, artinya mau nggak berusaha lebih keras dan semangat dari orang itu, dan sebagainya.

Itulah mengapa aku sangat mencintai dunia anak-anak. Semakin menyelami mereka, semakin merasa bodoh dan jadi belajar.

Advertisements

7 thoughts on “Belajar dari #SuaraAnak

  1. Setuju mbak. Saya juga ga sreg liat proses pembelajaran yang ada reward dan punishment. Udah saatnya anak2 dibiarkan eksplorasi dunia di sekitar mereka, orang tua cukup membantu mengarahkan dan membimbing aja. Tapi yang bikin greget, ada orang tua yang ga cukup sabar meladeni kekritisan anak, jadi ya gitu deh, anak jadi takut bertanya krn kalo nanya orang tuanya akan ngomel2 😦

    Ingin ih sesekali ikutan #SuaraAnak ini mba 🙂

    • Hehehe… iya Mbak, memang butuh kesabaran dan kesadaran untuk melihat bahwa dunia anak sebenarnya adalah masa eksplorasi, dimana salah atau benarpun mereka sebenarnya sedang belajar dan butuh pengarahan…

      Silakan Mbak kalo mau bergabung 🙂

  2. maaf mb,,,sedikit ralat,,,,bukan diinjak (bkn seekstrim yg difikirkan),,,namun didudukin untuk pencapaian kelenturan pada kaki,,,dan itu wajib dilalui unt menjadi seorang gymnastic,awalnya memang sakit,,,tapi itu yang dinamakan proses,,namun rasa sakit itu akan hilang ketika dia lalui waktu “1.30 dt “

    • Waahh… terimakasih Ibu, untuk penjelasannya :). Mohon maaf, karena masih awam jadi membayangkannya mungkin berbeda dengan yang sebenarnya. Iya, bagaimanapun proses yang dilalui layak diapresiasi. Salut untuk Nanda dengan semangat dan giat berlatihnya… semoga bisa jadi inspirasi untuk teman-teman yang lainnya 🙂

  3. Pingback: Ketika Anak Gemar Belajar: Inspirasi Suara Anak Ketiga - Blog Takita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s