Binar Mata Aliya

Bu Maya, jadwal les nya di tunda ya. Ini Aliya panas…

Yah, lesnya di tunda lagi. Batinku lesu. Padahal sudah seminggu ini lesnya libur lantaran nggak ketemunya jadwal, karena banyak undangan kawinan dan acara ini itu. Oke nggak papa, yang penting Aliya sehat dulu. Begitu pikirku.

Tak lama berselang, ada sms lagi dari Ibunya Aliya.

Bu Maya, ini Aliya nangis minta les… Tapi sekarang masih saya periksakan di dokter keluarga, kalo datang jam 19.30 gimana?

Pingin banget les kayaknya…

Membaca sms itu, rasanya… campur aduk. Antara haru, senang, dan pingin segera ketemu Aliya juga. Ahh.. so sweet banget Aliya. Walaupun badan kurang sehat tapi masih tetep pingin les. Huehue..terharuuu.

Setelah membalas smsnya, akhirnya aku pun bergegas menuju rumahnya. Tidak membutuhkan waktu lama karena jarak rumahku dan rumah Aliya cukup dekat.

***

Aku pun tiba di rumah Aliya dan disambut oleh kakeknya. Kakeknya rupanya masih mencari kunci untuk membuka pintu pagar. Saat menunggu itu, terlihat Aliya berlari dari dalam rumah kearah pintu pagar. Diikuti lari-lari kecil adik Aliya yang masih berusia 2 tahun. Wajah keduanya berseri-seri. Tangannya berusaha menggapai tanganku yang masih di luar pagar. Aku pun menyambut tangannya.

Saat ku sentuh memang badannya agak hangat. “Katanya lagi panas ya, sayang? Kenapa?” tanyaku sambil memegang pipi lembut Aliya dari balik pintu pagar.

Aliya hanya diam, sambil tersenyum-senyum melihat kedatanganku. Tak ada kata keluar dari bibir kecilnya. Tapi matanya yang berbinar-binar seolah berusaha menceritakan banyak hal.

“Kangen itu kayaknya… ” kata kakek Aliya sembari membukakan pintu pagar.

Nyess…

Ahhh, terharu sekali mendengarnya. Rasanya nggak percaya aja. Aku dan Aliya baru bertemu 2 kali. Pertama saat orang tuanya memintaku datang ke rumahnya untuk mendaftarkan Aliya les dan kedua saat pertemuan les yang pertama. Sekitar 2 minggu yang lalu. Nggak nyangka kalo pertemuan kita yang baru sebentar rupanya cukup membekas di hati gadis kecil ini.

Setelah berbincang santai sebentar, kita pun memulai les di pertemuan ke dua ini. Oh ya, ini bukan les baca tulis, ataupun les supaya si anak pandai berhitung, apalagi les pelajaran lho. Boro-boro mau ngelesin anak mata pelajaran. Wong nilaiku dulu aja nggak bagus-bagus amat, masak iya mau ngajarin anak orang hehehe. Lagi pula aku termasuk orang yang kurang setuju jika anak yang masih usia dini diberikan les ini itu yang belum waktunya dia terima.

Seminggu sekali aku jadwalnya untuk datang ke rumahnya, untuk memberinya les bercerita. Iya, bercerita. Heran yah? Hehehe.. bercerita aja kok pake’ les segala. Kan bisa dilakukan sendiri di rumah sama orang tua. Ya, memang sangat bisa jika dilakukan sendiri bersama orang tua. Lebih bagus malah.

Ya, aku memberikan les bercerita. Aliya ini tergolong anak yang senang bercerita, hanya orang tuanya bingung bagaimana mengarahkannya. Karena itu orang tuanya memintaku untuk mendampingi Aliya. Setelah berdiksusi dengan orang tua Aliya, mendengar cerita keseharian dan perkembangan Aliya selama ini, akhirnya sepakat untuk mendampinginya.

Tidak ada target khusus selama les ini berlangsung. Tidak seperti les-les pada umumnya yang selalu ada penilaian dan ujian untuk naik tingkat. Ini berbeda. Dalam les ini, aku hanya berusaha untuk memfasilitasi dan menstimulasi kemampuan berceritanya. Supaya lebih percaya diri untuk bebicara. Bisa merangkai kata-kata yang baik dan runtut. Mampu mengekspresikan diri secara positif. Maksudnya, agar ia mampu mengenali emosi dan bisa menyampaikannya dengan tepat.

Jadi selama les berlangsung, kegiatan bersama yang dilakukan cukup menyenangkan dan tidak se-serius les pada umumnya. Kegiatan les di awali dengan bercerita. Aliya mendengarkan dengan seksama dan begitu antusias. Matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu saat aku mulai membuka halaman demi halaman buku cerita. Mulutnya yang mungil pun mulai mengeluarkan suara dan bertanya ini itu.

Aliya yang masih berusia 5 tahun dan anak-anak pada umumnya membutuhkan ruang belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan tahapan usianya. Hal ini penting untuk di jaga agar anak menyenangi proses belajar itu sendiri.

Kegiatan yang aku rancang untuk Aliya pun juga menyesuaikan sesuai tahapan perkembangannya. Nantinya selama proses belajar, kita akan banyak bertukar cerita, membaca buku cerita, menggambar lalu menceritakannya, membuat sesuatu, mengamati sesuatu dan menceritakannya.

Dunia anak-anak adalah dunia eksplorasi. Dimana potensi terbaik anak akan dapat muncul ketika anak belajar dengan keadaan yang menyenangkan dan memberikannya banyak kesempatan untuk mencoba banyak hal.

Merasakan bagaimana interaksiku dengan Aliya, dan melihat semangatnya untuk belajar dalam kondisi sakit sekalipun semakin membuatku mantap untuk terus berada di ‘jalur’ ini. Membuat diri ini lebih berarti dengan mengantarkan dan mendampingi anak-anak agar menjadi generasi yang sehat, tidak hanya secara fisik tapi juga secara psikologis. Menjaga dan memelihara keceriaan, antusiasme, rasa ingin tahu, keberanian, dan keriangan masa anak-anak mereka agar nantinya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berkarakter dan tangguh dalam menghadapi masa depan.

Dan, untuk kesekian kalinyaaa… binar-binar mata anak-anak ini selalu berhasil membuatku jatuh hati :’).

@maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s