Sebuah Catatan : Pengembangan Bakat Anak

 

Hari ini relawan suara anak mengadakan kopdar untuk membahas rencana kegiatan berikutnya. Pertemuan dilakukan di Perpustakaan Bank Indonesia jam 13.00 WIB. Saya datang terlambat satu jam karena macet dan sebelumnya masih ada urusan yang harus di selesaikan. Dalam perjalanan yang cukup panas menyengat ditambah kemacetan diluar dugaan, sempat menduga-duga bahwa nanti saat kopdar akan ditunggu oleh semua relawan yang sudah hadir. Dan saya pun merasa tidak enak dan sungkan karena selaku koordinator daerah Surabaya datang terlambat.

Ternyata setelah sampai di tempat pertemuan, tidak seperti bayangan saya yang bakal di tunggu oleh banyak relawan yang sudah datang terlebih dahulu. Karena yang datang saat itu hanya dua orang saja, yaitu pak Bukik dan Mbak Judith. Ya, orang-orang yang sama saat melakukan kopdar sebelumnya. Sedikit kecewa karena yang lainnya belum datang dan tidak juga memberikan kabar sampai kita menyudahi pertemuan hari ini.

Walaupun demikian kopdar hari ini memberikan banyak pelajaran baru bagi saya. Kami melakukan diskusi seru dan menarik seputar pengembangan bakat anak dan kecerdasan majemuk. Pak Bukik yang ahli di bidang pengembangan bakat berbagi banyak hal. Kami berdua pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk banyak bertanya dan bertukar pikiran dengan Pak Bukik. Dari obrolan seru tersebut, saya mencatat beberapa hal penting yang semoga juga bermanfaat bagi pembaca.

  • Kecerdasan majemuk adalah kemampuan untuk mengolah informasi. Sifatnya sebagai jembatan bagi anak untuk menemukan bakat-bakatnya lebih lanjut. Menurut Howard Gardner, masing-masing anak memiliki 8 kecerdasan majemuk. Namun ada 3 kecerdasan majemuk yang lebih dominan. Dan inilah yang mengantarkan anak dalam menemukan bakatnya dikemudian hari.
  • Dalam sebuah siklus perkembangan bakat (pendidikan) anak diawali dengan mengenali potensi diri –> mengembangkan potensi yang dimiliki –> menjadikannya berguna bagi diri sendiri –> mengembangkan dalam dunia karier –> menjadikannya manfaat bagi orang lain –> pencapaian menuju pelayanan terhadap Tuhan.
  • Bakat merupakan sebuah kemampuan yang terus diasah, dilakukan secara terus menerus dengan tekun yang kemudian diapresiasi atau mendapat penghargaan dari orang lain.
  • Untuk menemukan bakat anak, lakukanlah dialog dan bangun komunikasi yang sehat dengan anak sehingga dapat saling bercerita dengan terbuka. Karena terkadang masa anak-anak masih dipengaruhi oleh pengaruh dari luar, misalnya karena ikut-ikutan teman atau karena masukan dari orang tua. Misalnya jika anak ingin mengikuti les sepak bola, tanyakan padanya alasannya ingin mengikuti les tersebut. Apakah karena benar-benar muncul dari minat anak atau dari pengaruh teman. Orang tua juga bisa menyocokkan dengan kecenderungan aktifitas yang dilakukan sehari-harinya. Tidak pernah main bola, jarang nonton bola tapi kok tiba-tiba ingin les sepak bola. Hal ini harus ditanyakan langsung ke anak.
  • Jika saat anak memilih mengikuti les tertentu dan dikemudian hari ia tidak mau menyelesaikan les nya hingga selesai, maka tidak perlu marah. Ini adalah sebuah proses anak dalam mencari dan menemukan bakat yang benar-benar diminatinya.
  • Bakat diperoleh dari minat atau kesukaan anak, yang kemudian di dukung dengan adanya kecerdasan majemuk. Bakat ragamnya sangat banyak sekali dan tidak terbatas. Jaman dulu tidak ada profesi stand up comedy. Namun sekarang ini stand up comedy merupakan salah satu profesi, dari situ si comic (sebutan bagi pelaku stand up comedy) bisa mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari orang lain dan menghasilkan secara ekonomi. Sehingga ini pun bisa disebut sebagai bakat.
  • Potensi adalah sesuatu yang diperoleh sejak lahir. Setiap anak memiliki potensi baik sejak lahir. Namun jika tidak diberi kesempatan untuk memperlihatkan potensi dirinya maka bakat anak tidak akan muncul.
  • Dalam buku yang sedang di susun oleh Pak Bukik terdapat siklus yang seharusnya dilalui oleh anak hingga akhirnya ia dapat menemukan bakatnya. Yaitu :
  • Usia 0 – 7 tahun à Orang tua dan anak harus mengetahui kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak. Untuk menemukannya bisa dilakukan melalui observasi terhadap anak, melihat kecenderungan, kesukaan anak dan hal menonjol dalam diri anak. Lalu bisa juga dengan melakukan dialog dengan anak, atau dengan melakukan tes. Seperti, finger print.
  • 7 – 14 tahun à Fase dimana anak-anak diperkenalkan dengan ragam bakat yang ada. Terutama di kenalkan dengan bakat-bakat yang banyak di butuhkan dalam masyarakat.

Dalam fase ini juga di memberikan stimulasi agar anak menjadi gemar belajar hingga menjadi belajar mendalam mengenai sesuatu yang menjadi bidang minatnya.

  • 14 – 18 tahun à Fase arah karier. Orang tua dan anak sudah mengetahui apa yang diinginkan dan digeluti anak secara serius. Tugas orang tua adalah mengekspos kemampuan anak keluar, memfasilitasi kemampuan anak untuk terlihat secara umum sehingga mendapatkan apresiasi. Namun yang perlu diwaspadai dalam fase ini adalah orang tua harus dapat mengatur agar tidak terlalu over ekspos atau under ekspos. Karena jika anak mengalami over ekspos akan mengalami dampak negatif di kemudian hari, misalnya kejenuhan hingga akhirnya mutung. Karenanya orang tua harus dapat mengontrol dengan seimbang.
  • 18 tahun ke atas à Anak sudah mandiri dan sudah mampu memberikan kontribusi bagi dirinya dan masyarakat.

Permasalahan yang muncul saat ini adalah ketika anak sudah lulus kuliah namun seolah belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya ketrampilan atau belum menemukan bidang karier yang akan digeluti. Hal ini dikarenakan anak sejak dini tidak di persiapkan untuk mandiri di masyarakat di kemudian hari.

  • Siklus pengembangan bakat di atas dapat terus berulang, seperti spiral. Jika seseorang sudah menemukan bakatnya, berkarier di masyarakat maka ia dapat kembali lagi di fase remaja disaat anak gemar belajar hingga belajar mendalam. Hanya bedanya jika sudah dewasa ini digunakan untuk menemukan bakat baru atau untuk menggali lebih jauh bakat yang sudah dimiliki.

@maya_myworld

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s