Sebuah catatan : Menulis di Media Sosial

Saat ini media sosial sudah begitu akrab di kehidupan. Apalagi mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 88,1 juta. Seiring besarnya pengaruh era digital dan banyaknya media sosial yang bermunculan di dunia maya seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya, seakan tidak memberikan banyak pilihan. Maka, yang bisa dilakukan adalah menggunakannya dengan optimal. Bagaimana caranya?

Beberapa waktu lalu dalam sebuah kesempatan, bertepatan dengan rangkaian acara di Sekolah Dharma Mulya Surabaya dengan tajuk Dharma Mulya’s Book Party pada tanggal 23 Januari 2016, Pak Bukik Setiawan menyampaikan paparannya mengenai Menulis Di Media Sosial.

Dalam paparannya, Ayah satu anak ini membahas mengenai salah kaprah yang terjadi di media sosial. Bahwa sebenarnya media sosial tidak untuk dikonsumsi oleh segala usia. Ada batasan usia yang ditetapkan, yaitu usia 13 tahun ke atas. Adanya anggapan bahwa media sosial hanya untuk pribadi dan kalangan teman sendiri juga agaknya perlu dikoreksi. Karena nyatanya media sosial merupakan ruang publik, semua yang di publish bisa diasumsikan dapat dikonsumsi oleh semua orang. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana menulis yang bijak di media sosial.

Begitu banyaknya pilihan informasi yang disajikan melalui media sosial, rupanya tidak membuat kita menjadi merdeka untuk memilih informasi. Karena nyatanya konten informasi tersebut telah di saring dan diolah sedemikian rupa oleh pemilik media sosial. Sehingga informasi yang ditampilkan cenderung informasi yang diminati, disukai dan banyak dibicarakan oleh pengguna media sosial.

Berhati-hatilah dalam mem-publish sesuatu di media sosial. Karena konten di media sosial akan selamanya abadi dan terus tersimpan. Saat ini sebagian besar perusahaan akan melihat sosial media calon karyawannya sebelum memutuskan untuk menerimanya. Karena rekam jejak seseorang sedikit banyak bisa diketahui melalui akun media sosialnya.

Beberapa waktu lalu sempat ada beberapa kasus yang berakhir hingga ke ranah hukum hanya karena pengguna media sosial kurang bijak dalam menulis di media sosial. Tulisan-tulisan yang cenderung berlebihan dalam meluapkan kekecewaan dan emosi hingga menyinggung pihak lain. Masih ingat kan, status seseorang di path yang mengeluhkan sikap seorang ibu hamil yang akhirnya menimbulkan beragam reaksi di sosial media? Dan seorang mahasiswi S2 yang menulis kekesalannya di status sosial media hingga akhirnya berakhir ke ranah hukum karena status yang ditulisnya menyinggung seluruh warga Jogja?

Sebenarnya bagaimana sih, menulis di media sosial?

Pada dasarnya menulis itu seperti berbicara. Jika seseorang bisa berbicara, maka ia pasti bisa menulis. Namun terkadang kesulitan menulis sering menghampiri dikarenakan pengalaman yang monoton. Sebagai langkah awal penulisan, sebaiknya tulis saja dulu apa saja dan lupakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Tuliskan saja dulu apa yang dirasa, dipikirkan dan bebaskan dari beban penulisan yang kaku. Setelah selesai, barulah periksa lagi dan lakukan editing.

Dalam kesempatan tersebut, Bukik Setiawan yang kini banyak beraktifitas di Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar, juga memberikan tips bagaimana menulis di media sosial. Diantaranya, tuliskan cerita bukan ceramah. Mintalah masukan, diskusi dengan pikiran terbuka. Niatkan tulisan yang dibagikan di sosial media untuk berbagi bukan menggurui. Dan pelajarilah tulisan-tulisan yang paling banyak di sukai.

Di seminar yang juga dihadiri oleh para orang tua wali murid dan juga guru ini, Bukik Setiawan yang juga penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong, menyampaikan beberapa alasan mengapa seseorang menulis di media sosial. Diantaranya adalah sebagai ajang narsis dan ingin di kenal, untuk mengekspresikan emosi, sebagai sarana belajar, untuk berbagi pengalaman dan cerita, berkarier sebagai seorang penulis dan untuk keperluan bisnis/bekerja (berjualan).

Walaupun kenyataannya hadirnya media sosial turut memberikan kemudahan akses akan berbagai informasi dan memudahkan seseorang terhubung satu sama lain. Namun agar penggunaannya lebih optimal, perlu diperhatikan tips menggunakan media sosial sebagai berikut.

Tidak hanya di dunia nyata, ternyata di dunia maya juga rentan terjadi kejahatan, karena itu waspadalah. Saat akan menulis di media sosial jangan mengeluh, apapun kondisi yang sedang dialami. Apabila sedang dalam keadaan emosi, sebaiknya hindari menggunakan media sosial. Keadaan emosi akan memicu pengguna sosial media untuk menuliskan hal-hal negatif. Kemudian, aktiflah berkomentar, jangan hanya meminta like dan komentar. Jika ingin menyebarkan informasi di sosial media, sebaiknya cek dan verifikasi terlebih dahulu kebenaran beritanya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.

Saat ini penggunaan media sosial tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Tetapi anak-anakpun juga mulai “bersahabat” dengannya. Sebagai guru dan orang tua, tidak perlu bersikap takut yang berlebihan. Akan lebih bijak jika kita memberikan pendampingan dalam penggunaan media sosial pada anak. Sehingga anak dapat menggunakan media sosial dengan baik dan sesuai kebutuhan. Anggap saja adanya media sosial sebagai sarana untuk belajar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak masa kini lahir di era digital. Dimana mereka secara lahiriah mampu menggunakan media sosial secara teknis namun belum melek media. Dalam arti belum mengetahui dampak negatif dan apa bahayanya. Oleh karena itu, sebagai orang tua sebelum memberikan kepercayaan pada anak untuk menggunakan gadget dalam keseharian. Perlu membangun kesepakatan terlebih dahulu antara orang tua dan anak, setelah itu barulah menggunakan media sosial.

Menulis di media sosial memang susah-susah gampang. Karena tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang. Namun jangan sampai keinginan untuk berbagi jadi terhalangi. Maka niatkan saja untuk berbagi dan pastikan apa yang dituliskan adalah sesuatu yang baik, benar dan berguna.

Bagaimana menurut Anda? 🙂

Semoga bermanfaat! 🙂

@maya_myworld

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah catatan : Menulis di Media Sosial

  1. Keren nih..komplit..plit..plit..pembahasannya. Dan memang benar bahwa saat ini penggunaan media sosial mulai menggila. Selain karena mudah dan cepat, jenis sosial media yang ada sekarang mudah sekali membuat ketergantungan (addicted). Sayangnya, masih banyak pengguna media sosial yang masih kurang bijaksana dalam memanfaatkan kemudahan yang ada. Seminar atau Workshop seperti ini berguna untuk kita semua. Paling tidak, kita diingatkan untuk lebih berhati – hati dalam menggunakan media sosial. Sampai jumpa tahun depan ya Kak Maya.. ^_^

    • Iya, setuju dengan Ms. Lana. Sayang banget kalau kemudahan yang sudah ada tidak digunakan dengan bijak. Semoga ini juga bisa jadi pengingat juga buat saya pribadi hehe. Terimakasih Ms. Lana. Wah, nggak sabar nunggu tahun depan hehehe. Sampai jumpaaaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s