Sebuah Catatan : Mengenali Karakter Anak Melalui Bermain

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tahukah anda, bahwa dalam kegiatan bermain sebenarnya kita bisa mengenali karakter anak sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang tua untuk mengarahkan perilaku anak. Bagaimana caranya?

Hari Sabtu, 28 Mei 2016 lalu saya berkesempatan untuk memandu acara seminar psikologi yang diadakan oleh Komunitas Annisa Learn, Care and Share di rumah makan Koki Kita, Sidoarjo. Materinya sangat menarik, yaitu “Mengenali Karakter Anak Melalui Kegiatan Bermain” yang dibawakan oleh Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M. Si, Psikolog. Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 dihadiri kurang lebih 170 orang peserta.

Dalam seminar tersebut, Bu Dewi yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Airlangga menyampaikan bahwa masa anak-anak adalah masa bermain. Perasaan yang muncul saat proses bermain adalah perasaan senang. Tidak marah, tidak menangis dan tidak membanting. Namun kini ada pergeseran emosi ketika anak sedang bermain.

Bermain dapat menimbulkan perasaan senang. Apabila anak senang, kecenderungannya anak akan melakukannya berulang-ulang. Kegiatan yang dilakukan berulang dapat membentuk karakter. Adapun bermain mengandung beberapa unsur, yaitu Pengulangan sebagai fungsi penguatan, Ekspresi sebagai fungsi release atau mengeluarkan emosi terpendam, dan aktifitas yang berfungsi untuk gerak fisik.

Bu Dewi mengatakan apabila anak sedang bermain dan keluar emosinya, maka biarkanlah. Atmosfer yang terbangun dalam keluarga dapat terlihat dan tercermin saat anak bermain. Karena itu pilihlah permainan yang tidak hanya mengasah kognisinya saja tetapi juga mengasah emosinya, seperti permainan rumah-rumahan atau bermain peran.

Keuntungan yang bisa diperoleh anak saat kegiatan bermain adalah dapat mengasah fisik (seperti meronce yang dapat menstimulasi motorik halus), bahasa, kreatifitas, negosiasi, kompetensi sosial, pemecahan masalah dan ketrampilan intrapersonal.

Bagaimana bermain dapat membentuk karakter anak?

Karakter terbentuk dari perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Saat anak bermain, akan menghadirkan perasaan senang, karena merasa senang maka akan cenderung mengulangi hal tersebut. Sesuatu yang berulang itu akan menjadi sebuah kebiasaan dan dapat membentuk karakter.

Misalnya saat anak asyik bermain gadget dan kalah dalam permainannya sehingga membuat anak emosi dan marah. Maka jika ini terulang terus menerus, tidak menutup kemungkinan anak akan menjadi mudah marah.

Kita juga dapat melihat karakter anak melalui permainan yang dipilihnya. Misalnya, anak yang senang berbicara akan enggan memilih mainan yang mengharuskannya diam. Anak yang tekun akan senang dengan permainan yang membuatnya berkonsentrasi. Anak yang suka bergerak akan memilih permainan yang beraktivitas banyak, seperti bermain di outdoor atau play land.

Di sesi terakhirnya, Bu Dewi yang aktif mengajar di fakultas psikologi Unair ini berpesan bahwa jika akan memberikan alat permainan, cobalah untuk melihat aspek perkembangan apa yang ingin dikembangkan dari anak. Tidak asal dalam memberikan mainan. Carilah alat permainan yang tidak hanya menstimulasi kognisi anak tetapi juga menstimulasi interkasi dengan orang lain.

Semoga bermanfaat… ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s