Suara Anak #7 Surabaya

FB_IMG_1470230963220

Salah satu presentan Suara Anak, Bara Matahari Pagi, sedang bercerita tentang kegemarannya bermain drum

Setelah hampir dua tahun, akhirnya Suara Anak kembali digelar di Surabaya. Tepatnya pada tanggal 31 Juli lalu. Suara Anak kali ini turut menjadi bagian dalam acara Pesta Anak Surabaya Berani dalam rangka Hari Anak Nasional yang bekerja sama dengan pemerintah kota Surabaya, Dharmawanita Surabaya, dan komunitas pendidikan. Acara yang berlangsung di Balai Pemuda itu dimulai pukul 10.00 – 12.00 WIB dan dihadiri oleh kurang lebih 80 orang.

Suara Anak adalah forum yang memberikan kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalamannya dalam menekuni suatu kegemaran, karya atau misi sosial. Anak akan bercerita dalam waktu 5-15 menit yang akan di tonton oleh masyarakat. Namun, ada yang berbeda dari Suara Anak kali ini. Jika sebelumnya anak hanya menceritakan tentang kegemarannya saja, kali ini ada penambahan kategori. Yaitu, kegemaran, karya dan misi sosial.

Siapa saja yang boleh mengikuti?

Kategori Kegemaran. Untuk anak usia 6-9 tahun. Anak berkesempatan untuk bercerita tentang pengalaman mencoba dan melakukan akticitas hingga menemukan suatu bidang sebagai fokus kegemarannya

Kategori Karya. Untuk anak usia 10-15 tahun. Anak bercerita tentang pengalamannya menemukan fokus belajar, mempelajari hingga menghasilkan karya pada suatu bidang.

Kategori Sosial. Untuk anak usia 13-18 tahun. Anak bercerita tentang sebuah misi sosial yang dilakukannya yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Para presentan atau anak-anak yang tampil di Suara Anak akan dipilih melalui seleksi dan pendaftarannya dilakukan secara terbuka. Acara yang juga dihadiri oleh Pak Bukik Setiawan selaku inisator Suara Anak, menampilkan 7 orang presentan, yaitu :

  1. Steven Gusti Hutama, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya berdagang.
  2. Bara Matahari Pagi, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya bermain drum.
  3. Fairly Namora, yang berusia 9 tahun dan bercerita tentang kegemarannya menggambar dan menulis.
  4. Naufal Syahdawi Riady, berusia 17 tahun dan bercerita tentang misi sosialnya, yaitu WIS Shop.
  5. Clara Angelina Pratama, berusia 13 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang ilustrasi.
  6. Brians Tjipto Meidianto, berusia 12 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang origami.
  7. Aryo Seno Bagaskoro, berusia 15 tahun yang menceritakan tentang misi sosial yang ditekuninya yaitu gerakan pelajar.

Suara Anak#7 Surabaya pertama-tama dibuka oleh penampilan Bara Matahari Pagi bermain drum. Bara merupakan salah satu presentan dengan kegemaran bermain drum. Kemudian acara dibuka oleh MC, yaitu Mbak Maria Mursid dari Suara Surabaya dan saya. Setelah itu secara bergantian para presentan menceritakan tentang kegemaran, karya maupun misi sosial yang ditekuninya.

Menarik sekali mengikuti proses yang dilalui para presentan, sejak coaching, gladi bersih hingga acara Suara Anak. Dari yang awalnya masih malu-malu, suara yang lirih, cerita yang terputus-putus dan tidak tahu harus bercerita apalagi, namun saat pelaksaan Suara Anak mengalami kemajuan yang pesat. Menjadi lebih percaya diri, santai, dan dapat bercerita dengan lepas.

Di Suara Anak memberi kesempatan dan menjadi ajang bagi presentan belajar untuk menggali keberanian dan kepercayaan diri. Stimulus berupa keleluasaan yang diberikan kepada anak-anak untuk berekspresi, sesuai dengan gayanya sendiri, bercerita dengan nyaman, tampil apa adanya, justru membuat masing-masing anak terlihat unik dan memacu presentan untuk menampilkan yang terbaik.

Sangat jelas terlihat keunikan dari masing-masing presentan. Mereka memiliki gaya sendiri-sendiri dan menjadi diri sendiri. Akan berbeda apabila presentan diberi stimulus yang sama, didikte, harus begini dan begitu secara kaku. Mereka akan mentok pada instruksi dan contoh yang diberikan. Tidak mengenal sejauh mana batas kebisaannya.

Adanya Suara Anak, membuka mata masyarakat untuk lebih menghargai proses yang dilalui anak. Di dunia yang lebih berorientasi pada hasil dan proses yang instan seperti sekarang ini, cenderung mendorong orang tua dan anak mengabaikan sebuah proses. Padahal dalam sebuah proses ada upaya yang dari situlah anak banyak belajar. Jika hanya terfokus pada hasil, maka jangan salahkan apabila pada akhirnya akan tumbuh generasi  yang akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Menghargai setiap proses yang dialami akan menumbuhkan semangat kerja keras, mau mencoba, kemauan berusaha dan kemampuan merefleksi diri.

Menyaksikan dan menyimak presentasi dari tiap presentan membuat saya yakin bahwa sebenarnya anak adalah makhluk yang “berisi” dan sudah punya warna. Sehingga tugas orang tua dan lingkungan sekitarnya adalah membantu mereka untuk mempertegas warna-warna yang ada pada dirinya. Masing-masing anak unik dan istimewa. Apapun kegemaran dan bidang yang mereka geluti saat ini pasti akan berguna dan dapat membantu mereka untuk “menjadi seseorang” di masa yang akan datang.

Suara anak adalah suara semesta, yang sejatinya mereka sudah memiliki misi bagi kehidupan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bimbingan, namun juga lebih membutuhkan kesempatan dan butuh didengar untuk dapat mempertegas dirinya dan tugas yang diembannya.

Senang rasanya menyimak para presentan bercerita dengan penuh semangat. Mata-mata yang berbinar saat sedang bercerita, karena mereka sadar dan cinta akan apa yang sedang ditekuni.

Adakah yang lebih membahagiakan daripada melakukan sesuatu sesuai panggilan hati?

 Sampai jumpa di Suara Anak berikutnya. 🙂