Menghalau Galau

Hasil gambar

“Sebagai manusia biasa, memiliki perasaan yang kadang naik dan turun  adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bisa mengenali gejalanya dan tahu bagaimana menyikapinya. Karena itu perlu support system yang selalu bisa membuat kita melihat segala hal dari sisi positif dan memberikan dukungan.”

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami selalu ada waktu khusus untuk ngobrol bareng. Saling berbagi cerita, apa yang dirasakan, apa yang sudah dialami seharian, apa yang mengganjal, progress apa yang sudah dikerjakan dan apa yang bisa kita pelajari seharian. Suatu hari saya membuka diskusi dengan bertanya, “Apakah aku bisa menjadi seorang penulis buku anak?”.  Tanpa menunggu lama, suami lalu menyahut, “Pasti bisa!”. Kemudian ia pun menyelidik mengapa saya tiba-tiba menjadi tidak percaya diri. Saya sendiri pun juga tidak berhasil menemukan jawabannya.

Saat ini suami saya sedang proses pendidikan dokter spesialisnya, dan beberapa minggu ke depan bersiap menghadapi ujian tengah semester. Sebelum ujian harus menyelesaikan beberapa paper sebagai persyaratannya. Ia bercerita bahwa ia juga kerapkali merasa rendah diri melihat progress teman-temannya yang begitu pesat, sedangkan ia sendiri masih terus berjalan namun merasa kecepatannya lebih lambat. Namun ia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan dengan sekuat tenaga menyelesaikan papernya. Ya, ini adalah bentuk empati bahwa ia juga pernah kok merasakan hal yang sama.

Lalu kami jadi teringat dengan ucapan guru kami, bahwa dalam kehidupan ini kita tidak perlu melihat orang lain. Tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki cara, potensi dan motif yang berbeda. Jadi berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Tolak ukur kita adalah diri kita yang kemarin dan bukan orang lain. Dari pada habis waktu untuk melihat orang lain, lebih baik berfokus pada diri sendiri, apa yang bisa dilakukan dan terus bergerak maju ke depan. Bila perlu pakai kaca mata kuda. Tutup mata dan telinga. Fokus pada tujuan dan target pribadi. Karena sejatinya kita harus bersaing dengan diri sendiri. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya?

Sebagai manusia biasa, memiliki perasaan yang kadang naik dan turun  adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bisa mengenali gejalanya dan bagaimana menyikapinya. Karena itu perlu support system yang selalu bisa membuat kita melihat segala hal dari sisi positif dan memberikan dukungan. Bersyukur sekali memiliki pasangan yang sangat mengerti, memahami dan mau saling belajar bersama. Suami juga sempat bilang, bahwa perlu lho bagi kita untuk mengapresiasi hal-hal kecil yang sudah dilakukan, seperti sudah menyelesaikan bab 1, membaca 1 buku, menulis sebuah artikel dan sebagainya. Apresiasi diri sendiri berupa pujian atau melakukan hal kecil yang kita suka, misalnya nonton film. Hal ini yang lambat laun bisa menumbuhkan rasa percaya diri, bahwa sebenarnya kita bisa. Yang penting terus bergerak!

Terkadang dengan bercerita kita bisa menemukan “insight”. Apalagi saya termasuk orang yang ekstrovert yang membutuhkan banyak diskusi dan berbicara untuk menemukan solusi dari apa yang saya rasakan.

Dari diskusi itu terbersit dalam pikiran, bahwa bisa jadi rasa tak percaya diri kadang menghampiri karena kita belum melakukan apa-apa, hanya tinggi angan-angan namun belum banyak berusaha dan mencoba. Atau bisa jadi perasaan itu muncul karena saya belum banyak berbagi. Sehingga ada perasaan hampa. Pernah suatu ketika saya juga merasakan hal yang sama, dan saat itu kemudian saya menulis blog tentang materi seminar yang pernah saya datangi. Saya membagikan ilmu yang saya dapatkan saat saya mengikuti seminar tersebut. Setelah itu saya merasa jadi pribadi yang bermanfaat karena telah berbuat sesuatu. Ada rasa lega setelahnya. Asalkan kita yakin bahwa apa yang dibagikan adalah sesuatu yang benar, baik dan berguna insya allah akan bermanfaat nantinya.

Jadi, ketika galau mulai menghampiri mungkin bisa dicoba melakukan hal-hal berikut, tentunya ini berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, membaca buku yang disukai (saya biasanya suka baca buku atau novel yang inspiratif). Kedua, bercerita. Memiliki support system atau keluarga yang mendukung adalah benteng utama agar kita tetap berada dalam jalur yang benar. Ketiga, berbagilah. Kadang perasaan galau hadir karena terlalu berfokus pada diri sendiri dan lupa berbagi. Bisa berbagi berupa ilmu, materi, tenaga, atau apa saja yang sanggup dilakukan.

Keempat, buatlah semacam to do list. Dari pada sibuk memikirkan kegalauan yang tak berujung (karena biasanya semakin dipikirin semakin dramatis hehe) lebih baik waktunya digunakan untuk melakukan sesuatu yang produktif. Dan buat target pribadi.  Kadang situasi ini perlu dipaksa. Perlu memaksa diri untuk bergerak agar tidak semakin hanyut dalam kegalauan (drama deh..). Kelima, mulai intropeksi diri mungkin kurang dekat dengan sang pencipta, jadi mulailah mendekat lagi. Mendekat padaNya sangat ampuh membuat hati jadi adem, ayem dan tentrem. Keenam, jangan terlalu memikirkan persepsi dan omongan orang lain. Ketujuh, selalu bersyukur. Hehehe.. ternyata banyak juga ya tips nya.

Saya hanya ingin membagikan secuil pengalaman pribadi yang semoga bisa memberikan manfaat bagi yang membacanya. Ini juga sekaligus sebagai catatan pengingat bagi saya suatu saat nanti. Ambillah yang baik dan tinggalkan yang tidak sesuai. Karena setiap orang memiliki cara dan proses yang berbeda. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s