Mengenalkan Pertahanan Diri Pada Anak terhadap Kejahatan dan Kekerasan Seksual

Hasil gambar untuk self defense for kids

Maraknya berita tentang tindak kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak belakangan ini membuat siapa saja merasa geram sekaligus cemas. Namun tidak sepatutnya kita hanya diam dan mengutuk pelakunya. Harus ada sesuatu yang dilakukan. Hari Sabtu, 1 April lalu, SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya mengadakan kegiatan Parenting Sex Education dengan tema Kenali Dirimu, Jagalah dan Sayangi Selalu. Dalam kesempatan tersebut Tim Kumpul Dongeng turut hadir dan mengenalkan bagaimana menjaga dan mempertahankan diri dari tindak kejahatan dan kekerasan seksual.

Menginformasikan pada anak-anak tentang bagaimana menjaga dan mempertahankan diri memang tidak mudah. Namun Tim Kumpul Dongeng berusaha mengemasnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah diterima oleh anak-anak yang umumnya kelas 3 SD ini. Apa saja yang dilakukan?
Continue reading

Sebuah catatan : Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng

Hasil gambar untuk storyteller

Kita sepakat kalau mendongeng memiliki banyak manfaat. Tapi ternyata masih ada yang enggan melakukannya. Salah satu alasannya karena tidak percaya diri. Memang saat mendongeng apalagi di depan banyak anak harus memiliki percaya diri yang baik. Agar penampilannya menarik dan pesan yang disampaikan dalam dongeng bisa diterima oleh anak. Nah, gimana caranya supaya bisa pede saat tampil mendongeng?

Hari Minggu, 19 Maret 2017 bertempat di Perpustakan Provinsi Jawa Timur, Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya kembali mengadakan kegiatan Sharing Dongeng. Kegiatan yang rutin diadakan satu bulan sekali itu bertujuan untuk saling berbagi informasi, semangat, dan menguatkan untuk bergerak bersama menyebarkan virus mendongeng di tiap-tiap keluarga. Di setiap pertemuan Sharing Dongeng mengangkat tema dan narasumber yang berbeda-beda. Nah, di pertemuan bulan ini membahas mengenai Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng. Tema tersebut dibawakan oleh Kak Tobi, seorang pendongeng senior di Surabaya. Kegiatan Sharing Dongeng semakin menarik karena selalu ada kesempatan praktek mendongeng bagi para peserta.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika akan mendongeng kemudian mengalami deg-degan. Apalagi jika akan mendongeng di hadapan banyak anak. Perasaan apakah nanti bisa membawakan dongeng dengan baik, apakah ceritanya disukai anak-anak, bagaimana jika salah, lupa isi cerita, dan sebagainya, selalu membayangi sebelum akan tampil mendongeng. Walaupun begitu, nyatanya pendongeng profesional sekalipun juga kerap merasakan grogi dan deg-degan saat akan tampil. Artinya bagi kita yang masih pemula, tidak perlu khawatir karena semua pendongeng pun mengalaminya.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar lebih percaya diri saat mendongeng. Pertama, Mempunyai senjata. Artinya, kita harus menguasai materi yang akan disampaikan. Materi tidak hanya sekadar isi cerita, namun juga permainan, nyanyian atau lagu yang akan dibawakan. Berkaitan dengan seluruh rangkaian sesi mendongeng yang akan kita bawakan. Sebaiknya saat akan mendongeng, jangan menghafalkan cerita. Tidak perlu dihafal runtut seperti naskahnya. Hal itu akan membuat penampilan saat mendongeng terkesan kaku dan tidak bisa melakukan improvisasi. Kuasailah inti ceritanya kemudian ceritakan dengan bahasa sendiri. Bahasa yang membuat kita nyaman membawakannya.

Kedua, Mengenali medan. Sebelum akan tampil mendongeng di suatu tempat, carilah terlebih dahulu informasi mengenai lokasi, jumlah audiens, dan usia anak-anak. Informasi ini akan membantu untuk mempersiapkan diri bagaimana dalam melakukan pendekatan. Anak-anak usia taman kanak-kanak jelas akan berbeda gaya komunikasi dan bahasanya dengan anak usia sekolah dasar. Begitu juga dengan pemilihan ceritanya. Apa yang akan diceritakan haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Kemudian, datanglah lebih awal dari waktu yang ditentukan. Agar dapat melihat kondisi dan situasi yang ada dan mengukurnya dengan apa yang sudah kita persiapkan.

Dalam mendongeng, satu menit pertama merupakan waktu yang sangat menentukan. Namun, setelahnya akan lebih mengalir. Di awal pembukaan mendongeng agar suasana lebih cair bisa diawali dengan berbincang santai sambil melempar pertanyaan kemudian langsung disambung dengan cerita yang akan dibawakan. Jika jumlah audiens banyak, bisa terlebih dahulu dibuat kesepakatan di awal. Misalnya, selama mendengarkan dongeng tidak boleh sambil makan, berbincang dengan temannya, berebut, dan sebagainya. Namun tetap disampaikan dengan bahasa halus dan menyenangkan.

Apabila saat mendongeng kemudian anak-anak terlihat mulai jenuh, maka pendongeng harus peka. Sebaiknya kombinasikan dongeng dengan menyanyi, nari dan permainan sederhana. Jangan paksa untuk melanjutkan cerita. Karena daya konsentrasi anak sangatlah terbatas. Waktu konsentrasi anak atau durasi mendongeng yang efektif adalah usia anak sama dengan durasi mendongeng atau maksimal dua kali lipat usia anak. Misalkan, anak usia 5 tahun maka durasi mendongengnya 5 menit dan maksimal 10 menit.

Mendongeng bisa menggunakan berbagai media, seperti diri sendiri (menggunakan gesture, ekspresi, dan suara), boneka, wayang, gambar, barang-barang yang ada di sekitar atau membuatnya sendiri. Menggunakan media mendongeng bebas-bebas saja, namun yang terpenting adalah pendongeng nyaman menggunakannya. Jangan sampai media dongeng tersebut malah menghambat dan menyulitkan saat mendongeng.

Sebanyak apapun teori mendongeng yang dikuasai, pada intinya saat praktek mendongeng teori itu hanya digunakan 20% saja. Selebihnya akan sangat tergantung dengan bagaimana diri sendiri berimajinasi dan melakukan improvisasi. Menjadi diri sendiri adalah cara tepat agar nyaman saat mendongeng.

Kepercayaan diri akan muncul apabila sudah melakukan persiapan matang dan mengetahui medan atau tempat di mana akan mendongeng. Selebihnya ya, lakukan! Akan selalu ada saat pertama untuk mencoba. Percayalah bahwa grogi dan deg-degan itu hanya bertahan di menit-menit pertama. Selanjutnya pasti akan menantikan kesempatan berikutnya. Gimana, berani mencoba? 🙂

Sebuah Catatan : Menumbuhkan Kecerdasan Finansial Pada Anak

Hasil gambar untuk kecerdasan finansial anak

Kecerdasan seorang anak tidak bisa diukur dari kecerdasan akademis di sekolah saja. Kepandaian anak dalam mengatur emosi, berinteraksi di lingkungan sosial dan juga kemampuannya mengatur keuangan juga menjadi bagian dari kecerdasannya. Nah, untuk itu mengasah kecerdasan finansial, mengelola keuangan sebaiknya mulai ditumbuhkan sejak dini. Bagaimana caranya?

Hari Sabtu lalu tanggal 27 Januari 2017 bertempat di Masjid Salahudin Sidoarjo, Komunitas Peduli Anak menggelar kegiatan seminar parenting dengan tema yang menarik, yaitu Menumbuhkan Kecerdasan Finansial Pada Anak-anak. Acara yang dihadiri oleh sekitar empat puluhan peserta dimulai pukul 08.30 hingga pukul 11.00. Acara tersebut sekaligus menandai pergantian logo baru Komunitas Peduli Anak. Dengan harapan akan memiliki semangat baru untuk semakin banyak belajar tentang dunia anak dan berbagi pada sesama.

Bersama narasumber yang selalu menebar virus Good Parenting di berbagai wilayah di Indonesia, yaitu Ibu Abyz Wigati. Beliau adalah seorang ibu dari tiga orang putra putri, seorang penulis beberapa buku, pendiri Komunitas Malang Menulis dan Forum Belajar Bunda dengan segudang prestasi. Pada seminar tersebut beliau membagikan tip bagaimana menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak sejak dini secara gamblang. Yang membuat semakin menarik adalah karena apa yang beliau sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi dalam mengasuh putra-putrinya, sehingga sudah teruji dan bukan sekadar teori.

Apabila ingin menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, berarti hal ini merujuk pada sebuah proses. Menumbuhkan itu dilakukan ketika masih kecil. Jadi tidak menunggu anak sudah besar baru kemudian dikenalkan tentang kecerdasan finansial.

Banyak yang memahami bahwa kecerdasan finansial identik dengan menabung, berhemat dan tidak boros. Padahal sebenanrya tidak sebatas itu saja. Karena kalau hanya aktifitas menabung saja, anak-anak sudah dapat melakukannya. Namun lebih kepada menumbuhkan kepedulian kepada sesama, adanya rasa menghargai kerja keras, hasil karya diri sendiri maupun orang lain. Sehingga anak tidak mudah minta ini itu, beli ini itu serta mencela hasil kerja keras orang lain.

Kecerdasan finansial merupakan proses pembelajaran pengendalian diri, sehingga akan berpengaruh pada perilaku mandiri dan pola pikir bijaksana pada usia dewasa. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak, yaitu :

1. Memahamkan anak tentang berbagai kebutuhan sehari-hari sesuai fase perkembangannya.
Kebutuhan masing-masing keluarga tentu berbeda-beda. Sebelum memberikan pemahaman, orang tua perlu memahami terlebih dahulu fase perkembangan anak. Sehingga dapat memberikan penjelasan yang tepat sesuai usianya.

2. Memahamkan anak mengenai perbedaan keinginan dan kebutuhan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, ada atau tidak ada uang. Misalnya, kebutuhan makan.
Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang pemenuhannya bisa ditunda. Tidak harus sekarang. Oleh karena itu, jika anak menangis meminta dibelikan sesuatu, pahami terlebih dahulu apakah itu kebutuhan atau hanya keinginan. Pemahaman bisa dilakukan dengan memberikan pengertian yang baik kepada anak. Dan yang utama adalah memberikan contoh dengan memulai dari diri sendiri. Mengendalikan diri jika ada diskon, dan mampu berkomitmen hanya membeli barang yang dibutuhkan ketika belanja bersama anak.

3. Melibatkan anak dalam mengelola kebutuhan keuarga.
Misalnya saat ibu mendapatkan uang dari ayah. Ibu boleh saja bercerita bahwa uangnya akan dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga dan keluarga. Seperti, membayar listrik, air, biaya sekolah, membeli buku anak, dan sebagainya. Jadi anak dilibatkan dan tahu apa saja alokasi dana yang dimiliki orang tua. Jangan lupa memasukkan kebutuhan anak dalam daftar tersebut. Sehingga anak akan merasa kebutuhannya juga diperhatikan.

4. Memberi kepercayaan anak untuk mengelola uang saku.
Sebaiknya penggunaan istilah uang jajan pada anak diganti dengan uang saku. Karena ini berpengaruh pada persepsi yang dimiliki anak. Uang saku adalah uang yang dapat dikelola penggunaannya, sedangkan uang jajan digunakan untuk membeli jajan dan bersenang-senang.

Latihan pengelolaan keuangan, bisa dimulai dengan memberikan uang saku pada anak satu minggu sekali. Nah, untuk menerapkan hal ini orang tua harus dapat bersikap tega dan konsisten. Karena di awal prosesnya, terkadang uang saku satu minggu bisa dihabiskan anak hanya beberapa hari saja. Jika seperti itu, biarkan anak belajar merasakan konsekuensinya.

5. Mendampingi anak secara bertahap, ajarkan, buat kesepakatan, contohkan dan konsisten.
Pemberian uang saku diikuti dengan penjelasan bagaimana alokasinya. Sehingga anak memiliki gambaran bagaimana menggunakan uang sakunya. Bisa untuk membeli jajan, membeli perlengkapan sekolah yang rusak, dan menabung.

Dengan diberi kepercayaan untuk mengelola uang saku, anak akan berpikir ulang dalam menggunakan uangnya. Dan jika menginginkan sesuatu anak akan berpikir bagaimana mendapatkan uang, misalnya berjualan. Sehingga tidak mudah minta uang pada orang tua. Hal ini perlu contoh dari orang tua dalam menerapkannya.

6. Memberi kesempatan anak untuk salah.
Apabila jatah uang saku anak seminggu namun dihabiskan dalam tiga hari, maka jangan serta merta memarahi anak. Berikan senyuman, ajak bicara dan cari tahu bagaimana penggunaan uangnya. Biarkan anak menceritakan dengan leluasa tanpa adanya tekanan. Kesalahan yang diperbuat anak bisa jadi memberikan pelajaran yang berharga.

7. Evaluasi dan lanjutkan proses belajar.
Setelah anak melakukan kesalahan, ajak anak berkomunikasi dengan asik. Kemauan anak bercerita dengan jujur pada orang tua jauh lebih penting daripada berfokus pada kesalahannya. Dengan begitu, evaluasi bersama akan dapat dilakukan. Biarkan anak menemukan solusi dan apa yang seharusnya dilakukan agar kesalahan tidak terulang kembali.

8. Anak berhak dan wajib berkontribusi dalam pembiayaan event keluarga.
Misalnya untuk acara liburan bersama yang sudah direncanakan jauh hari. Diskusikan bersama akan pergi ke mana, dana yang dibutuhkan. Ajak anak untuk berkontribusi sesuai kemampuannya untuk mewujudkan liburan bersama tersebut. Atau misalnya, acara ulang tahun anggota keluarga.

9. Apresiasi keberhasilan anak walaupun kecil.
Dengan memberikan apresiasi anak akan termotivasi memperbaiki untuk menghasilkan keberhasilan yang lebih besar.
10. Ganti kritik dengan evaluasi bersama.
Evaluasi bersama akan menstimulasi anak untuk menemukan solusi dan kesepakatan untuk menjadi lebih baik lagi.

Menurut wanita yang pernah menjadi finalis Kartini Next Generation tahun 2015 ini, stimulasi kecerdasan finansial bisa dimulai sejak dini. Terutama jika anak sudah minta dibelikan sesuatu, artinya anak sudah mengerti tentang uang. Sehingga mulai dapat distimulasi kecerdasan finansialnya. Saat anak beranjak di bangku sekolah, yang terpenting adalah menanamkan jiwa entrepreneurship. Apabila anak menginginkan sesuatu tidak harus beli tapi bisa dicoba untuk membuatnya sendiri bersama orang tua.

Kunci utama dari keberhasilan pengasuhan anak adalah adanya teladan. Begitu juga saat ingin menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak. Orang tua harus belajar dan dapat mengendalikan diri. Memilah mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Melalui contoh akan lebih mudah bagi anak untuk memahami dan menerapkannya. Selain itu, berikanlah kesempatan dan kepercayaan pada anak untuk mengelola keuangannya sendiri. Jikalau anak melakukan kesalahan, tanggapi dengan senyum dan bantu anak untuk belajar dari kesalahannya.

Semoga bermanfaat ^^
@nindiamaya

Suara Anak #7 Surabaya

FB_IMG_1470230963220

Salah satu presentan Suara Anak, Bara Matahari Pagi, sedang bercerita tentang kegemarannya bermain drum

Setelah hampir dua tahun, akhirnya Suara Anak kembali digelar di Surabaya. Tepatnya pada tanggal 31 Juli lalu. Suara Anak kali ini turut menjadi bagian dalam acara Pesta Anak Surabaya Berani dalam rangka Hari Anak Nasional yang bekerja sama dengan pemerintah kota Surabaya, Dharmawanita Surabaya, dan komunitas pendidikan. Acara yang berlangsung di Balai Pemuda itu dimulai pukul 10.00 – 12.00 WIB dan dihadiri oleh kurang lebih 80 orang.

Suara Anak adalah forum yang memberikan kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalamannya dalam menekuni suatu kegemaran, karya atau misi sosial. Anak akan bercerita dalam waktu 5-15 menit yang akan di tonton oleh masyarakat. Namun, ada yang berbeda dari Suara Anak kali ini. Jika sebelumnya anak hanya menceritakan tentang kegemarannya saja, kali ini ada penambahan kategori. Yaitu, kegemaran, karya dan misi sosial.

Siapa saja yang boleh mengikuti?

Kategori Kegemaran. Untuk anak usia 6-9 tahun. Anak berkesempatan untuk bercerita tentang pengalaman mencoba dan melakukan akticitas hingga menemukan suatu bidang sebagai fokus kegemarannya

Kategori Karya. Untuk anak usia 10-15 tahun. Anak bercerita tentang pengalamannya menemukan fokus belajar, mempelajari hingga menghasilkan karya pada suatu bidang.

Kategori Sosial. Untuk anak usia 13-18 tahun. Anak bercerita tentang sebuah misi sosial yang dilakukannya yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Para presentan atau anak-anak yang tampil di Suara Anak akan dipilih melalui seleksi dan pendaftarannya dilakukan secara terbuka. Acara yang juga dihadiri oleh Pak Bukik Setiawan selaku inisator Suara Anak, menampilkan 7 orang presentan, yaitu :

  1. Steven Gusti Hutama, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya berdagang.
  2. Bara Matahari Pagi, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya bermain drum.
  3. Fairly Namora, yang berusia 9 tahun dan bercerita tentang kegemarannya menggambar dan menulis.
  4. Naufal Syahdawi Riady, berusia 17 tahun dan bercerita tentang misi sosialnya, yaitu WIS Shop.
  5. Clara Angelina Pratama, berusia 13 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang ilustrasi.
  6. Brians Tjipto Meidianto, berusia 12 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang origami.
  7. Aryo Seno Bagaskoro, berusia 15 tahun yang menceritakan tentang misi sosial yang ditekuninya yaitu gerakan pelajar.

Suara Anak#7 Surabaya pertama-tama dibuka oleh penampilan Bara Matahari Pagi bermain drum. Bara merupakan salah satu presentan dengan kegemaran bermain drum. Kemudian acara dibuka oleh MC, yaitu Mbak Maria Mursid dari Suara Surabaya dan saya. Setelah itu secara bergantian para presentan menceritakan tentang kegemaran, karya maupun misi sosial yang ditekuninya.

Menarik sekali mengikuti proses yang dilalui para presentan, sejak coaching, gladi bersih hingga acara Suara Anak. Dari yang awalnya masih malu-malu, suara yang lirih, cerita yang terputus-putus dan tidak tahu harus bercerita apalagi, namun saat pelaksaan Suara Anak mengalami kemajuan yang pesat. Menjadi lebih percaya diri, santai, dan dapat bercerita dengan lepas.

Di Suara Anak memberi kesempatan dan menjadi ajang bagi presentan belajar untuk menggali keberanian dan kepercayaan diri. Stimulus berupa keleluasaan yang diberikan kepada anak-anak untuk berekspresi, sesuai dengan gayanya sendiri, bercerita dengan nyaman, tampil apa adanya, justru membuat masing-masing anak terlihat unik dan memacu presentan untuk menampilkan yang terbaik.

Sangat jelas terlihat keunikan dari masing-masing presentan. Mereka memiliki gaya sendiri-sendiri dan menjadi diri sendiri. Akan berbeda apabila presentan diberi stimulus yang sama, didikte, harus begini dan begitu secara kaku. Mereka akan mentok pada instruksi dan contoh yang diberikan. Tidak mengenal sejauh mana batas kebisaannya.

Adanya Suara Anak, membuka mata masyarakat untuk lebih menghargai proses yang dilalui anak. Di dunia yang lebih berorientasi pada hasil dan proses yang instan seperti sekarang ini, cenderung mendorong orang tua dan anak mengabaikan sebuah proses. Padahal dalam sebuah proses ada upaya yang dari situlah anak banyak belajar. Jika hanya terfokus pada hasil, maka jangan salahkan apabila pada akhirnya akan tumbuh generasi  yang akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Menghargai setiap proses yang dialami akan menumbuhkan semangat kerja keras, mau mencoba, kemauan berusaha dan kemampuan merefleksi diri.

Menyaksikan dan menyimak presentasi dari tiap presentan membuat saya yakin bahwa sebenarnya anak adalah makhluk yang “berisi” dan sudah punya warna. Sehingga tugas orang tua dan lingkungan sekitarnya adalah membantu mereka untuk mempertegas warna-warna yang ada pada dirinya. Masing-masing anak unik dan istimewa. Apapun kegemaran dan bidang yang mereka geluti saat ini pasti akan berguna dan dapat membantu mereka untuk “menjadi seseorang” di masa yang akan datang.

Suara anak adalah suara semesta, yang sejatinya mereka sudah memiliki misi bagi kehidupan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bimbingan, namun juga lebih membutuhkan kesempatan dan butuh didengar untuk dapat mempertegas dirinya dan tugas yang diembannya.

Senang rasanya menyimak para presentan bercerita dengan penuh semangat. Mata-mata yang berbinar saat sedang bercerita, karena mereka sadar dan cinta akan apa yang sedang ditekuni.

Adakah yang lebih membahagiakan daripada melakukan sesuatu sesuai panggilan hati?

 Sampai jumpa di Suara Anak berikutnya. 🙂

Sebuah Catatan : Mengenali Karakter Anak Melalui Bermain

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tahukah anda, bahwa dalam kegiatan bermain sebenarnya kita bisa mengenali karakter anak sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang tua untuk mengarahkan perilaku anak. Bagaimana caranya?

Hari Sabtu, 28 Mei 2016 lalu saya berkesempatan untuk memandu acara seminar psikologi yang diadakan oleh Komunitas Annisa Learn, Care and Share di rumah makan Koki Kita, Sidoarjo. Materinya sangat menarik, yaitu “Mengenali Karakter Anak Melalui Kegiatan Bermain” yang dibawakan oleh Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M. Si, Psikolog. Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 dihadiri kurang lebih 170 orang peserta.

Dalam seminar tersebut, Bu Dewi yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Airlangga menyampaikan bahwa masa anak-anak adalah masa bermain. Perasaan yang muncul saat proses bermain adalah perasaan senang. Tidak marah, tidak menangis dan tidak membanting. Namun kini ada pergeseran emosi ketika anak sedang bermain.

Bermain dapat menimbulkan perasaan senang. Apabila anak senang, kecenderungannya anak akan melakukannya berulang-ulang. Kegiatan yang dilakukan berulang dapat membentuk karakter. Adapun bermain mengandung beberapa unsur, yaitu Pengulangan sebagai fungsi penguatan, Ekspresi sebagai fungsi release atau mengeluarkan emosi terpendam, dan aktifitas yang berfungsi untuk gerak fisik.

Bu Dewi mengatakan apabila anak sedang bermain dan keluar emosinya, maka biarkanlah. Atmosfer yang terbangun dalam keluarga dapat terlihat dan tercermin saat anak bermain. Karena itu pilihlah permainan yang tidak hanya mengasah kognisinya saja tetapi juga mengasah emosinya, seperti permainan rumah-rumahan atau bermain peran.

Keuntungan yang bisa diperoleh anak saat kegiatan bermain adalah dapat mengasah fisik (seperti meronce yang dapat menstimulasi motorik halus), bahasa, kreatifitas, negosiasi, kompetensi sosial, pemecahan masalah dan ketrampilan intrapersonal.

Bagaimana bermain dapat membentuk karakter anak?

Karakter terbentuk dari perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Saat anak bermain, akan menghadirkan perasaan senang, karena merasa senang maka akan cenderung mengulangi hal tersebut. Sesuatu yang berulang itu akan menjadi sebuah kebiasaan dan dapat membentuk karakter.

Misalnya saat anak asyik bermain gadget dan kalah dalam permainannya sehingga membuat anak emosi dan marah. Maka jika ini terulang terus menerus, tidak menutup kemungkinan anak akan menjadi mudah marah.

Kita juga dapat melihat karakter anak melalui permainan yang dipilihnya. Misalnya, anak yang senang berbicara akan enggan memilih mainan yang mengharuskannya diam. Anak yang tekun akan senang dengan permainan yang membuatnya berkonsentrasi. Anak yang suka bergerak akan memilih permainan yang beraktivitas banyak, seperti bermain di outdoor atau play land.

Di sesi terakhirnya, Bu Dewi yang aktif mengajar di fakultas psikologi Unair ini berpesan bahwa jika akan memberikan alat permainan, cobalah untuk melihat aspek perkembangan apa yang ingin dikembangkan dari anak. Tidak asal dalam memberikan mainan. Carilah alat permainan yang tidak hanya menstimulasi kognisi anak tetapi juga menstimulasi interkasi dengan orang lain.

Semoga bermanfaat… ^^

Sebuah Catatan : Menjadi Pembicara Publik

Beberapa waktu lalu saya diberi kepercayaan untuk memandu acara “Public Speaking : Explore Your Mind & Be a Good Speaker” yang diselenggarakan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya. Dengan pemateri yang kompeten dibidangnya, yaitu Adri Suyanto, seorang motivator yang lebih dikenal sebagai sarjana humor dengan tagline-nya #ngguyuolehilmu. Dan pemateri kedua adalah Vika Wisnu, seorang dosen yang juga sudah lama berkecimpung di dunia radio dan media komunikasi.

Acara yang dihadiri kurang lebih seratus peserta itu berlangsung selama 3 jam. Kedua pemateri menyampaikan ilmu yang begitu berisi mengenai Public Speaking. Mengingat begitu berharganya ilmu tersebut, saya tidak ingin apa yang saya dapatkan di acara yang diselenggarakan di Aula Soetandyo, Fakultas FISIP Universitas Airlangga, hilang begitu saja. Karena itu, saya coba untuk menuliskan catatan selama memandu acara talkshow. Semoga juga bermanfaat bagi para pembaca.

Acara yang dikemas dengan interaktif dan mengundang peserta untuk banyak bertanya seputar dunia public speaking, disambut positif oleh para peserta. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang muncul menimbulkan suasana hangat sepanjang acara berlangsung.

Berbicara merupakan sebuah ketrampilan yang sangat diperlukan oleh semua profesi. Dalam kemampuan berbicara di depan umum, menurut Vika Wisnu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu seseorang perlu melakukan yang namanya Personal Mapping. Yaitu kemampuan untuk mengenali kelemahan dan kelebihan dirinya. Selain itu, kekuatan kata-kata, kekuatan emosi, latihan suara, kemampuan mind streaming yaitu menyelaraskan pikiran dengan orang lain. Kemudian Personal Imaging yaitu kesan yang ingin dimunculkan ke orang lain. Improvisasi, personal branding dan latihan public speaking.

Setiap orang memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda. Untuk memulai suatu pembicaraan dengan seseorang, ada baiknya memulainya dengan mengawali pembicaraan dari sesuatu yang diminati oleh lawan bicara. Selain itu, yang terpenting dalam komunikasi interpersonal adalah menyamakan gelombang otak.

Namun berbeda dengan berbicara di depan umum, hal ini membutuhkan persiapan yang lebih matang. Dengan menuliskan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan merupakan bagian dari persiapan yang perlu di lakukan sebelum akan bicara di depan umum. Karena itu, Vika Wisnu mengatakan bahwa penting bagi seorang public speaker untuk bisa menulis.

Salah satu pertanyaan yang muncul dari peserta adalah bagaimana mengatasi rasa gugup saat akan bicara di depan umum. Adri Suyanto, menjelaskan bahwa seseorang yang merasa gugup itu merupakan suatu tanda bahwa seseorang tersebut sedang naik kelas. Karena akan menghadapi sesuatu yang baru. Karena itu penting untuk mengetahui penyebab dari rasa gugup itu sendiri, apakah merasa gugup karena tidak tahu harus bicara apa? Apakah merasa materi yang disampaikan penting atau tidak? Apakah kata-kata yang keluar nantinya akan menyinggung atau tidak? Dan sebagainya. Untuk itu, Adri Suyanto menyarankan untuk lebih berfokus pada kelebihan yang dimiliki. Dan mengubah mindset bahwa gugup adalah sebuat momen dimana seseorang akan naik kelas.

Pertanyaan lainnya, menanyakan bagaimana jika tidak memiliki kesempatan untuk bicara di depan umum? Dan bagaimana jika kita bukanlah tipe orang humoris yang bisa membuat orang tertawa? Secara gamblang Adri Suyanto menjelaskan bahwa setiap orang dapat menciptakan kesempatannya sendiri. Misalnya jika masih mahasiswa maka aktiflah di organisasi kemahasiswaan, dan bergabung di komunitas-komunitas. Kemudian ambillah kesempatan untuk berbicara, seperti membuka acara, menyampaikan pendapat, dan sebagainya. Karena pada dasarnya kemampuan public speaking akan terus terasah dengan semakin banyaknya latihan.

Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tidak harus pandai melucu untuk menjadi seorang public speaker yang handal. Ada beberapa cara yang diberikan oleh Sarjana Humor, Adri Suyanto, agar kita bisa menemukan karakter ketika berbicara. Pertama, Niteni, melihat pembicara lain tampil dan catatlah hal-hal penting dan yang bagus untuk dijadikan contoh. Neroake, meniru seperti yang dilakukan pembicara-pembicara handal. Nambahi, menambahkan cara penyampaian dengan improvisasi kita sendiri. Nemoake, setelah kita sering berlatih maka akan menemukan gaya kita sendiri. Saat telah menemukan gaya bicara yang nyaman dan sesuai dengan diri sendiri inilah dapat dikatakan seseorang telah memiliki karakter.

Dalam public speaking tidak hanya penyampaian materi dan cara berbicara saja yang perlu dilatih, selain itu harus memiliki materi atau konten yang berisi. Sampaikan materi-materi yang dikuasai, diminati dan ahli dalam hal tersebut.

Vika Wisnu menjelaskan bahwa dalam menyusun materi terbagi menjadi 3 hal, yaitu pembukaan atau colekan, isi, dan penutup atau gong-nya supaya orang tidak mudah lupa. Di akhir kata penutup juga boleh disisipkan quotes yang menginspirasi sekitar 2 hingga 3 kata.

Adri Suyanto yang selama talkshow berlangsung tampil dengan begitu energik dan bersemangat, menjelaskan bahwa dalam public speaking ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, percaya diri dan enjoy. Kedua, memiliki materi andalan. Ketika, delivery yang menarik.

Menurut Adri, dalam meyampaikan materi, sebaiknya pilih poin-poin penting yang ingin disampaikan sehingga mudah diingat oleh peserta. Misalnya sampaikan 3 poin penting saja dalam sebuah materi.

Masih menurut motivator yang mengawali karir sebagai public speaker-nya di tahun 2010 ini, dalam menyusun materi, ada 3 langkah yang perlu diketahui. Pertama, Why, buatlah peserta menjadi penasaran. Ini bisa diawali dengan pertanyaan atau fakta-fakta terkait dengan bahasan yang akan diulas, atau menyampaikan keuntungan apa yang akan diperoleh peserta jika terus mendengarkan materi yang akan disampaikan, atau bisa melalui ilustrasi cerita. Kedua, What, menjelaskan mengenai materi apa yang akan dibahas, sehingga peserta mengetahui gambarannya. Ketiga, How to, bagaimana caranya. Cara-cara yang akan disampaikan inilah yang biasanya banyak ditunggu oleh peserta untuk melakukan sebuah perubahan.

Di akhir sesi talkshow tak lupa juga memberikan tantangan pada peserta untuk praktek berbicara di depan umum secara langsung. Setelah dua orang peserta bersedia secara suka rela maju ke depan. Ada beberapa masukan dari pembicara yang juga menjadi catatan penting saya.

Ketika sedang berbicara di depan umum, penting untuk menjalin hubungan dengan peserta. Hal ini untuk membangun suasana “hangat” di awal acara. Misalnya dengan melibatkan peserta dengan sebuah ice breaking sederhana.

Kemudian sampaikan materi secara sistematis. Materi yang melompat-lompat akan membuat peserta bingung menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh pembicara. Dalam menyampaikan materi upayakan untuk dapat menguasai panggung dan audiens, dengan tidak hanya berdiri di satu sisi saja. Bergeraklah, agar pupil mata peserta bergerak mengikuti gerak pembicara. Ini akan menghilangkan kantuk peserta. Dan jangan lupakan interaksi dengan audiens.

Vika Wisnu yang berpengalaman sebagai penyiar radio terkemuka di Surabaya memberikan masukan terkait dengan pengaturan vokal. Baginya, selama berbicara perhatikan pula tempo, intonasi, jeda dan vokal suara. Bagaimana kita mengendalikan volume suara, mengontrol intonasi, dan nafas. Jangan sampai kita kehabisan nafas saat berbicara. Karena itu penting untuk mengatur nafas dengan baik dengan mencuri nafas saat jeda bicara atau titik.

Itulah beberapa poin yang saya catat selama memandu acara talkshow bersama YDSF. Tentunya sebagus apapun materi yang disampaikan tidak akan berpengaruh apa-apa selama kita tidak mau mencoba dan berlatih. Semoga informasi ini bisa menjadi panduan awal yang bermanfaat untuk melakukan latihan public speaking. Selamat mencoba! 🙂

@maya_mywolrd

Sebuah catatan : Menulis di Media Sosial

Saat ini media sosial sudah begitu akrab di kehidupan. Apalagi mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 88,1 juta. Seiring besarnya pengaruh era digital dan banyaknya media sosial yang bermunculan di dunia maya seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya, seakan tidak memberikan banyak pilihan. Maka, yang bisa dilakukan adalah menggunakannya dengan optimal. Bagaimana caranya?

Beberapa waktu lalu dalam sebuah kesempatan, bertepatan dengan rangkaian acara di Sekolah Dharma Mulya Surabaya dengan tajuk Dharma Mulya’s Book Party pada tanggal 23 Januari 2016, Pak Bukik Setiawan menyampaikan paparannya mengenai Menulis Di Media Sosial.

Dalam paparannya, Ayah satu anak ini membahas mengenai salah kaprah yang terjadi di media sosial. Bahwa sebenarnya media sosial tidak untuk dikonsumsi oleh segala usia. Ada batasan usia yang ditetapkan, yaitu usia 13 tahun ke atas. Adanya anggapan bahwa media sosial hanya untuk pribadi dan kalangan teman sendiri juga agaknya perlu dikoreksi. Karena nyatanya media sosial merupakan ruang publik, semua yang di publish bisa diasumsikan dapat dikonsumsi oleh semua orang. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana menulis yang bijak di media sosial.

Begitu banyaknya pilihan informasi yang disajikan melalui media sosial, rupanya tidak membuat kita menjadi merdeka untuk memilih informasi. Karena nyatanya konten informasi tersebut telah di saring dan diolah sedemikian rupa oleh pemilik media sosial. Sehingga informasi yang ditampilkan cenderung informasi yang diminati, disukai dan banyak dibicarakan oleh pengguna media sosial.

Berhati-hatilah dalam mem-publish sesuatu di media sosial. Karena konten di media sosial akan selamanya abadi dan terus tersimpan. Saat ini sebagian besar perusahaan akan melihat sosial media calon karyawannya sebelum memutuskan untuk menerimanya. Karena rekam jejak seseorang sedikit banyak bisa diketahui melalui akun media sosialnya.

Beberapa waktu lalu sempat ada beberapa kasus yang berakhir hingga ke ranah hukum hanya karena pengguna media sosial kurang bijak dalam menulis di media sosial. Tulisan-tulisan yang cenderung berlebihan dalam meluapkan kekecewaan dan emosi hingga menyinggung pihak lain. Masih ingat kan, status seseorang di path yang mengeluhkan sikap seorang ibu hamil yang akhirnya menimbulkan beragam reaksi di sosial media? Dan seorang mahasiswi S2 yang menulis kekesalannya di status sosial media hingga akhirnya berakhir ke ranah hukum karena status yang ditulisnya menyinggung seluruh warga Jogja?

Sebenarnya bagaimana sih, menulis di media sosial?

Pada dasarnya menulis itu seperti berbicara. Jika seseorang bisa berbicara, maka ia pasti bisa menulis. Namun terkadang kesulitan menulis sering menghampiri dikarenakan pengalaman yang monoton. Sebagai langkah awal penulisan, sebaiknya tulis saja dulu apa saja dan lupakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Tuliskan saja dulu apa yang dirasa, dipikirkan dan bebaskan dari beban penulisan yang kaku. Setelah selesai, barulah periksa lagi dan lakukan editing.

Dalam kesempatan tersebut, Bukik Setiawan yang kini banyak beraktifitas di Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar, juga memberikan tips bagaimana menulis di media sosial. Diantaranya, tuliskan cerita bukan ceramah. Mintalah masukan, diskusi dengan pikiran terbuka. Niatkan tulisan yang dibagikan di sosial media untuk berbagi bukan menggurui. Dan pelajarilah tulisan-tulisan yang paling banyak di sukai.

Di seminar yang juga dihadiri oleh para orang tua wali murid dan juga guru ini, Bukik Setiawan yang juga penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong, menyampaikan beberapa alasan mengapa seseorang menulis di media sosial. Diantaranya adalah sebagai ajang narsis dan ingin di kenal, untuk mengekspresikan emosi, sebagai sarana belajar, untuk berbagi pengalaman dan cerita, berkarier sebagai seorang penulis dan untuk keperluan bisnis/bekerja (berjualan).

Walaupun kenyataannya hadirnya media sosial turut memberikan kemudahan akses akan berbagai informasi dan memudahkan seseorang terhubung satu sama lain. Namun agar penggunaannya lebih optimal, perlu diperhatikan tips menggunakan media sosial sebagai berikut.

Tidak hanya di dunia nyata, ternyata di dunia maya juga rentan terjadi kejahatan, karena itu waspadalah. Saat akan menulis di media sosial jangan mengeluh, apapun kondisi yang sedang dialami. Apabila sedang dalam keadaan emosi, sebaiknya hindari menggunakan media sosial. Keadaan emosi akan memicu pengguna sosial media untuk menuliskan hal-hal negatif. Kemudian, aktiflah berkomentar, jangan hanya meminta like dan komentar. Jika ingin menyebarkan informasi di sosial media, sebaiknya cek dan verifikasi terlebih dahulu kebenaran beritanya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.

Saat ini penggunaan media sosial tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Tetapi anak-anakpun juga mulai “bersahabat” dengannya. Sebagai guru dan orang tua, tidak perlu bersikap takut yang berlebihan. Akan lebih bijak jika kita memberikan pendampingan dalam penggunaan media sosial pada anak. Sehingga anak dapat menggunakan media sosial dengan baik dan sesuai kebutuhan. Anggap saja adanya media sosial sebagai sarana untuk belajar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak masa kini lahir di era digital. Dimana mereka secara lahiriah mampu menggunakan media sosial secara teknis namun belum melek media. Dalam arti belum mengetahui dampak negatif dan apa bahayanya. Oleh karena itu, sebagai orang tua sebelum memberikan kepercayaan pada anak untuk menggunakan gadget dalam keseharian. Perlu membangun kesepakatan terlebih dahulu antara orang tua dan anak, setelah itu barulah menggunakan media sosial.

Menulis di media sosial memang susah-susah gampang. Karena tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang. Namun jangan sampai keinginan untuk berbagi jadi terhalangi. Maka niatkan saja untuk berbagi dan pastikan apa yang dituliskan adalah sesuatu yang baik, benar dan berguna.

Bagaimana menurut Anda? 🙂

Semoga bermanfaat! 🙂

@maya_myworld