Mengenalkan Pertahanan Diri Pada Anak terhadap Kejahatan dan Kekerasan Seksual

Hasil gambar untuk self defense for kids

Maraknya berita tentang tindak kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak belakangan ini membuat siapa saja merasa geram sekaligus cemas. Namun tidak sepatutnya kita hanya diam dan mengutuk pelakunya. Harus ada sesuatu yang dilakukan. Hari Sabtu, 1 April lalu, SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya mengadakan kegiatan Parenting Sex Education dengan tema Kenali Dirimu, Jagalah dan Sayangi Selalu. Dalam kesempatan tersebut Tim Kumpul Dongeng turut hadir dan mengenalkan bagaimana menjaga dan mempertahankan diri dari tindak kejahatan dan kekerasan seksual.

Menginformasikan pada anak-anak tentang bagaimana menjaga dan mempertahankan diri memang tidak mudah. Namun Tim Kumpul Dongeng berusaha mengemasnya dengan cara yang menyenangkan dan mudah diterima oleh anak-anak yang umumnya kelas 3 SD ini. Apa saja yang dilakukan?
Continue reading

Advertisements

Sebuah catatan : Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng

Hasil gambar untuk storyteller

Kita sepakat kalau mendongeng memiliki banyak manfaat. Tapi ternyata masih ada yang enggan melakukannya. Salah satu alasannya karena tidak percaya diri. Memang saat mendongeng apalagi di depan banyak anak harus memiliki percaya diri yang baik. Agar penampilannya menarik dan pesan yang disampaikan dalam dongeng bisa diterima oleh anak. Nah, gimana caranya supaya bisa pede saat tampil mendongeng?

Hari Minggu, 19 Maret 2017 bertempat di Perpustakan Provinsi Jawa Timur, Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya kembali mengadakan kegiatan Sharing Dongeng. Kegiatan yang rutin diadakan satu bulan sekali itu bertujuan untuk saling berbagi informasi, semangat, dan menguatkan untuk bergerak bersama menyebarkan virus mendongeng di tiap-tiap keluarga. Di setiap pertemuan Sharing Dongeng mengangkat tema dan narasumber yang berbeda-beda. Nah, di pertemuan bulan ini membahas mengenai Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng. Tema tersebut dibawakan oleh Kak Tobi, seorang pendongeng senior di Surabaya. Kegiatan Sharing Dongeng semakin menarik karena selalu ada kesempatan praktek mendongeng bagi para peserta.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika akan mendongeng kemudian mengalami deg-degan. Apalagi jika akan mendongeng di hadapan banyak anak. Perasaan apakah nanti bisa membawakan dongeng dengan baik, apakah ceritanya disukai anak-anak, bagaimana jika salah, lupa isi cerita, dan sebagainya, selalu membayangi sebelum akan tampil mendongeng. Walaupun begitu, nyatanya pendongeng profesional sekalipun juga kerap merasakan grogi dan deg-degan saat akan tampil. Artinya bagi kita yang masih pemula, tidak perlu khawatir karena semua pendongeng pun mengalaminya.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar lebih percaya diri saat mendongeng. Pertama, Mempunyai senjata. Artinya, kita harus menguasai materi yang akan disampaikan. Materi tidak hanya sekadar isi cerita, namun juga permainan, nyanyian atau lagu yang akan dibawakan. Berkaitan dengan seluruh rangkaian sesi mendongeng yang akan kita bawakan. Sebaiknya saat akan mendongeng, jangan menghafalkan cerita. Tidak perlu dihafal runtut seperti naskahnya. Hal itu akan membuat penampilan saat mendongeng terkesan kaku dan tidak bisa melakukan improvisasi. Kuasailah inti ceritanya kemudian ceritakan dengan bahasa sendiri. Bahasa yang membuat kita nyaman membawakannya.

Kedua, Mengenali medan. Sebelum akan tampil mendongeng di suatu tempat, carilah terlebih dahulu informasi mengenai lokasi, jumlah audiens, dan usia anak-anak. Informasi ini akan membantu untuk mempersiapkan diri bagaimana dalam melakukan pendekatan. Anak-anak usia taman kanak-kanak jelas akan berbeda gaya komunikasi dan bahasanya dengan anak usia sekolah dasar. Begitu juga dengan pemilihan ceritanya. Apa yang akan diceritakan haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Kemudian, datanglah lebih awal dari waktu yang ditentukan. Agar dapat melihat kondisi dan situasi yang ada dan mengukurnya dengan apa yang sudah kita persiapkan.

Dalam mendongeng, satu menit pertama merupakan waktu yang sangat menentukan. Namun, setelahnya akan lebih mengalir. Di awal pembukaan mendongeng agar suasana lebih cair bisa diawali dengan berbincang santai sambil melempar pertanyaan kemudian langsung disambung dengan cerita yang akan dibawakan. Jika jumlah audiens banyak, bisa terlebih dahulu dibuat kesepakatan di awal. Misalnya, selama mendengarkan dongeng tidak boleh sambil makan, berbincang dengan temannya, berebut, dan sebagainya. Namun tetap disampaikan dengan bahasa halus dan menyenangkan.

Apabila saat mendongeng kemudian anak-anak terlihat mulai jenuh, maka pendongeng harus peka. Sebaiknya kombinasikan dongeng dengan menyanyi, nari dan permainan sederhana. Jangan paksa untuk melanjutkan cerita. Karena daya konsentrasi anak sangatlah terbatas. Waktu konsentrasi anak atau durasi mendongeng yang efektif adalah usia anak sama dengan durasi mendongeng atau maksimal dua kali lipat usia anak. Misalkan, anak usia 5 tahun maka durasi mendongengnya 5 menit dan maksimal 10 menit.

Mendongeng bisa menggunakan berbagai media, seperti diri sendiri (menggunakan gesture, ekspresi, dan suara), boneka, wayang, gambar, barang-barang yang ada di sekitar atau membuatnya sendiri. Menggunakan media mendongeng bebas-bebas saja, namun yang terpenting adalah pendongeng nyaman menggunakannya. Jangan sampai media dongeng tersebut malah menghambat dan menyulitkan saat mendongeng.

Sebanyak apapun teori mendongeng yang dikuasai, pada intinya saat praktek mendongeng teori itu hanya digunakan 20% saja. Selebihnya akan sangat tergantung dengan bagaimana diri sendiri berimajinasi dan melakukan improvisasi. Menjadi diri sendiri adalah cara tepat agar nyaman saat mendongeng.

Kepercayaan diri akan muncul apabila sudah melakukan persiapan matang dan mengetahui medan atau tempat di mana akan mendongeng. Selebihnya ya, lakukan! Akan selalu ada saat pertama untuk mencoba. Percayalah bahwa grogi dan deg-degan itu hanya bertahan di menit-menit pertama. Selanjutnya pasti akan menantikan kesempatan berikutnya. Gimana, berani mencoba? ūüôā

Menghalau Galau

Hasil gambar

“Sebagai manusia biasa, memiliki perasaan yang kadang naik dan turun ¬†adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bisa mengenali gejalanya dan tahu bagaimana menyikapinya. Karena itu perlu support system yang selalu bisa membuat kita melihat segala hal dari sisi positif dan memberikan dukungan.”

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami selalu ada waktu khusus untuk ngobrol bareng. Saling berbagi cerita, apa yang dirasakan, apa yang sudah dialami seharian, apa yang mengganjal, progress apa yang sudah dikerjakan dan apa yang bisa kita pelajari seharian. Suatu hari saya membuka diskusi dengan bertanya, ‚ÄúApakah aku bisa menjadi seorang penulis buku anak?‚ÄĚ. ¬†Tanpa menunggu lama, suami lalu menyahut, ‚ÄúPasti bisa!‚ÄĚ. Kemudian ia pun menyelidik mengapa saya tiba-tiba menjadi tidak percaya diri. Saya sendiri pun juga tidak berhasil menemukan jawabannya.

Saat ini suami saya sedang proses pendidikan dokter spesialisnya, dan beberapa minggu ke depan bersiap menghadapi ujian tengah semester. Sebelum ujian harus menyelesaikan beberapa paper sebagai persyaratannya. Ia bercerita bahwa ia juga kerapkali merasa rendah diri melihat progress teman-temannya yang begitu pesat, sedangkan ia sendiri masih terus berjalan namun merasa kecepatannya lebih lambat. Namun ia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan dengan sekuat tenaga menyelesaikan papernya. Ya, ini adalah bentuk empati bahwa ia juga pernah kok merasakan hal yang sama.

Continue reading

Save the forest – @maya_myworld storytelling di Bobo Fair Gramedia Expo Surabaya

Waah kak @maya_myworld tanggal 14 Juli 2012 jam 3 sore, dapet kesempatan niy untuk bercerita di bobo fair gramedia expo Surabaya. Kali ini kak maya bercerita tentang bagaimana menjaga kelestarian hutan.

Kisah dimulai saat tigor, anak harimau Sumatra sedang menangis kesepian. Orangtuanya sudah pergi ntah kemana karena ada penebangan liar. Ia pun berjalan menyusuri hutan yang sebagian besar sudah gundul.

Sampai suatu ketika ia bertemu gery, anak gajah yang kakinya terjepit balok kayu. Ia pun menolong Gery dan mereka bersama-sama berusaha mencari tempat tinggal yang baru.

Untung ada si Elmo, Elang baik hati yang membantu menemukan habitat baru untuk mereka

Ada misi lingkungan yang disponsori oleh greenpeace.

Tidak hanya bercerita, kak maya juga ada games dan bagi-bagi hadiah. Seru! Kapan2 ketemu lagi yaa…

Let’s save our earth, our home, our planet! Dadaaah

Kak maya sedang bagi-bagi hadiah boneka jari untuk anak-anak yang berani

Persiapan yang matang menunjang penampilan yang mantab

kak @maya_myworld bercerita di grancity surabaya dalam rangka walk for autism event

Saat itu saya dan Kak @rudicahyo di daulat oleh Indonesia Bercerita untuk bercerita di acara Surabaya Walk for Autism (SWAF). Kegiatan itu kurang lebih bertujuan untuk mensosialisasikan tentang autis, bagaimana mengenali ciri anak autis dan bagaimana menanganinya. Karena belakangan ini tak jarang anak autis seringkali hilang di keramaian, seperti saat berjalan-jalan di mall. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini masyarakat umum akan tanggap dan mampu memberikan respon yang tepat saat menghadapi anak autis.

Saat itu kegiatan di laksanakan di Grand City Surabaya. Dihadiri oleh beberapa sekolah, beberapa komunitas gerakan social selain Indonesia Bercerita, ada juga Fiksimini. Yah, selama bergabung di Indonesia Bercerita, baru kali ini saya akan bercerita di depan umum dan dilihat oleh banyak pasang mata. Karena biasanya kegiatan bercerita untuk kepentingan podcast, dan dilakukan di dapur rekaman. Praktis ini adalah pengalaman yang menantang bagi saya. Hmm..banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan, karena pastinya saya pun ingin tampil maksimal dan bisa memberikan yang terbaik. Berikut adalah persiapan-persiapan yang saya lakukan….

1. Cerita yang Menarik

Dalam bercerita ada dua hal yang paling penting, pertama, Pencerita dan kedua, cerita itu sendiri. Saya pun mulai membuat cerita yang sesuai. Saya memilih cerita metafora dan jenis cerita fabel, dimana hewan sebagai penokohannya. Dengan model cerita yang seperti ini saya rasa akan dapat menarik perhatian anak dan yang terpenting pesan yang disampaikan dalam cerita tersebut juga bisa diterima oleh anak. Akhirnya saya membuat cerita tentang ‚ÄúChika yang Istimewa‚ÄĚ. Dari namanya pasti sudah ketebak kalau Chika adalah binatang ayam. Bagaimana suara ayaaam???? ‚Ķ‚Ķ.

2. Media Bercerita

Mengingat waktu yang cukup singkat, yaitu 10 menit. Kamipun memutar otak bagaimana caranya diwaktu yang singkat ini bisa memberikan penampilan terbaik dan mampu memikat dan menarik perhatian penonton. Sempat terpikir beberapa media yang akan digunakan, misalnya menggunakan boneka tangan tapi boneka tangan sudah biasa digunakan dalam bercerita, nanti penontonnya bosan lagi. Lalu berpikir untuk duet bercerita, cerita dibawakan oleh dua orang pencerita, hmm lalu terpatahkan dengan pikiran bahwa jika penceritanya ada dua maka akan menimbulkan distorsi dan kebingungan bagi penontonnya. Ingin bercerita sambil menggambar, tapi nggak bisa nggambar hehehe. Setelah eksplorasi ide beberapa lama, akhirnya muncul ide untuk bercerita dengan menggunakan gambar. Jadi nantinya akan ada beberapa gambar yang tersedia yang mewakili cerita yang dibawakan. Ini berfungsi untuk mengikat perhatian mereka untuk tetap memperhatikan Pencerita (secara anak-anaknya banyak banget gitu lhoh). Untung saja saya memiliki suami yang pandai menggambar. Yah, akhirnya kita berkolaborasi. Suamiku yang gambar dan aku yang mewarnai. Akhirnya persiapan media bercerita pun terselesaikan. (terimakasih suamikuuuu…;-*)

contoh media presentasi

 3. Si Pencerita

Karena dengan metode duet bercerita tidak efektif, setelah rembugan akhirnya diputuskan saya lah yang akan bercerita. Kak @rudicahyo berperan sebagai pengantar cerita dan yang memfasilitasi jika ada audience yang bertanya atau merespon. Huufff…lumayan deg degan siy, tapi saya mikirnya ini adalah tantangan. Pasti akan jadi pengalaman yang seru banget. Dan benar! J. Nah, inilah persiapan diri yang saya lakukan….

          a. Menguasai Konten Cerita

                 Agar dapat bercerita dengan lancar dan nggak nge-blank mendadak, maka sangat penting untuk menguasai isi dari cerita tersebut. Tidak harus hafal seluruh teks dalam ceritanya. Yang penting paham alur ceritanya dan pesan yang ingin disampaikan. Jika ini sudah di kuasai maka saat perform bisa lebih leluasa dan bebas melakukan improvisasi cerita.

          b. Memahami teknik Bercerita

                Cerita akan terasa hambar jika disajikan dengan ala kadarnya. Agar cerita lebih nyata dan hidup maka perlu ada tambahan ornament, seperti nada suara yang disesuaikan dengan karakter tokoh dalam cerita, intonasi suara, ekspresi wajah yang juga menggambarkan suasana, gerak tubuh atau gesture yang sesuai. Untuk itu, malam sebelumnya saya berlatih di depan cermin dan tak lupa meminta suami tercinta @astu_MD sebagai penilainya hehehehe. Sesekali saya juga selipkan pertanyaan-pertanyaan di tengah-tengah cerita untuk memancing keterlibatan penonton, sehingga lebih interaktif.

          c. Menciptakan suasana hati

                    Penting mempersiapkan suasana hati ketika akan bercerita. Pastikan sebelum bercerita suasana hati dalam keadaan senang dan riang. Jika ini dilakukan maka kitapun akan mudah membawa suasana di panggung menjadi meriah dan menyenangkan. Jika sebaliknya, maka penontonpun akan dapat merasakan apa yang sedang kita rasakan, karena perasaan kita akan memancar dan menular. Biasanya saya membayangkan hal-hal yang membuat saya senang. Karena bercerita adalah salah satu kegiatan yang saya sukai, maka itu pun sangat mudah dilakukan J. Saya sarankan agar anda melakukan sesuatu yang anda senangi, maka hasilnya akan dahsyat! Percaya deh!

          d. Visualisasi

                   Ini selalu saya lakukan sebelum akan tampil dimana saja, entah saat bercerita, menjadi pembicara, moderator, fasilitator ataupun saat menjadi MC. Karena ini adalah salah satu yang memegang kunci penting dalam keberhasilan aktifitas yang saya lakukan. Sebelumnya, saya selalu membayangkan terlebih dahulu kegiatan yang akan saya lakukan itu seperti apa. Saya bayangkan dengan sangat detil, sesuai dengan gambaran yang saya inginkan. Bahwa suasana akan meriah, menyenangkan, heboh, pesertanya banyak, semuanya merasa senang dan terhibur, pakaian yang saya kenakan mulai dari kerudung hingga sepatu, bagaimana saya tampil dengan percaya diri dan berenergi  dan yang pasti menikmati setiap proses dalam kegiatan tersebut. Saya membayangkan semuanya dengan detil, benar-benar detil. Dan tak disadari ketika membayangkannya menjalar perasaan senang, optimis, dan bahagia diseluruh tubuh. Tak sadar senyum pun tersungging ketika membayangkan itu semua. And believe it or not, kegiatan yang saya lakukan berjalan persis seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Hiiii…merinding deh. Nggak percaya?! Coba buktikan!
11.05 WIB
20 Mei 2011
@maya_myworld

Salam rindu untuk alang-alang

kak @maya_myworld bercerita di depan anak asuh sanggar alang-alang dengan media gambar 2 dimensi

Woww! Setelah sekian lama, akhirnya saya berkunjung lagi ke Sanggar Alang-alang. Sanggar Alang-alang merupakan tempat dimana anak-anak jalanan mendapat wadah dan sarana untuk belajar, berlatih ketrampilan kehidupan, dan mengembangkan bakat mereka. Terakhir ke sana saat ada tugas kuliah, kalau nggak salah sekitar semester 3 atau 5, yaitu Mata Kuliah Psikodiagnostik 2 tentang Observasi. Setelah beberapa tahun tak berkunjung, bangunan fisik sanggar tersebut tak banyak berubah. Yang berubah hanya pelataran depan yang  di keramik sehingga tampak lebih luas. Ada satu hal yang tak berubah dan sepertinya tidak akan pernah berubah, yaitu rasa. Dulu saat pertama kali datang ke sanggar dan juga saat ini, rasa itu tetap sama. Rasa dimana siapapun akan merasa betah dan damai berada disana. Yaitu perasaan akrab dan bersahabat. Bangunan yang masih terletak di ujung pertigaan Jl. Gunungsari itu memang menjadi rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Yah, begitulah kelebihan dari anak-anak jalanan. Mereka biasa hidup di jalan, bertemu dengan banyak orang, dan orang-orang baru, terbiasa dengan adaptasi yang begitu cepat, dan kemampuannya menyikapi perubahan yang kapan saja bisa terjadi membuat mereka semua selalu tampak dan merasa akrab dengan siapa saja yang berkunjung ke Sanggar Alang-alang.

Kali ini saya datang bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita. Yah, dengan misi dan semangat mendidik melalui cerita kami ingin menularkan budaya bercerita untuk teman-teman disana. Seperti sekolah formal pada umumnya, di sanggar yang diasuh oleh Om Didit Hape itu juga memiliki jenjang pendidikan. Kalau di sekolah umum kita mengenal TK, SD, SMP, dan SMU. Di Sanggar Alang-alang menyebutnya dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Anak Usia Sekolah (PAUS), dan Pendidikan Anak Usia Remaja (PAUR). Masing-masing kelas selalu mengadakan pertemuan 2 kali dalam seminggu. Sebagai langkah awal, Indonesia Bercerita lebih fokus untuk masuk di kelas PAUS, karena di usia sekolah dasar inilah anak telah siap menerima pembelajaran dan stimulasi untuk membuat cerita dan bercerita di usia mereka di rasa paling tepat.
Yang khas dari Sanggar Alang-alang adalah ketika saling bersalaman satu sama lain. Tidak seperti cara bersalaman yang biasa kita lakukan, di Sanggar Alang-alang memiliki cara bersalaman khusus. Unik dan begitu akrab. Agaknya cara ini yang membuat orang-orang baru merasa diterima dan seketika merasa menjadi bagian dari Sanggar Alang-alang.
Seperti biasanya, kegiatan yang dilakukan Indonesia Bercerita adalah bercerita dan mengajak anak-anak jalanan untuk lebih mengenal dan mendalami dunia bercerita dan menulis. Tapi tidak seperti biasanya, saya tidak mempersiapkan apa-apa (selain karena materi dan media sudah tersedia), saya juga tidak melakukan visualisasi (bukan juga karena ini buka event besar atau apa). Tapi entah mengapa perasaan saya begitu excited, senang dan bersemangat sekali. Sampai saya tidak bisa membayangkan apa-apa. Saya hanya berbekal perasaan senang, riang, bersemangat, dan begitu gembira. Mungkin lebih tepatnya karena ini adalah rindu yang terpendam cukup lama :’). *peluuuk untuk mereka semuaaa…..
21.10
20 Mei 2011
@maya_myworld