Suara Anak #7 Surabaya

FB_IMG_1470230963220

Salah satu presentan Suara Anak, Bara Matahari Pagi, sedang bercerita tentang kegemarannya bermain drum

Setelah hampir dua tahun, akhirnya Suara Anak kembali digelar di Surabaya. Tepatnya pada tanggal 31 Juli lalu. Suara Anak kali ini turut menjadi bagian dalam acara Pesta Anak Surabaya Berani dalam rangka Hari Anak Nasional yang bekerja sama dengan pemerintah kota Surabaya, Dharmawanita Surabaya, dan komunitas pendidikan. Acara yang berlangsung di Balai Pemuda itu dimulai pukul 10.00 – 12.00 WIB dan dihadiri oleh kurang lebih 80 orang.

Suara Anak adalah forum yang memberikan kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalamannya dalam menekuni suatu kegemaran, karya atau misi sosial. Anak akan bercerita dalam waktu 5-15 menit yang akan di tonton oleh masyarakat. Namun, ada yang berbeda dari Suara Anak kali ini. Jika sebelumnya anak hanya menceritakan tentang kegemarannya saja, kali ini ada penambahan kategori. Yaitu, kegemaran, karya dan misi sosial.

Siapa saja yang boleh mengikuti?

Kategori Kegemaran. Untuk anak usia 6-9 tahun. Anak berkesempatan untuk bercerita tentang pengalaman mencoba dan melakukan akticitas hingga menemukan suatu bidang sebagai fokus kegemarannya

Kategori Karya. Untuk anak usia 10-15 tahun. Anak bercerita tentang pengalamannya menemukan fokus belajar, mempelajari hingga menghasilkan karya pada suatu bidang.

Kategori Sosial. Untuk anak usia 13-18 tahun. Anak bercerita tentang sebuah misi sosial yang dilakukannya yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Para presentan atau anak-anak yang tampil di Suara Anak akan dipilih melalui seleksi dan pendaftarannya dilakukan secara terbuka. Acara yang juga dihadiri oleh Pak Bukik Setiawan selaku inisator Suara Anak, menampilkan 7 orang presentan, yaitu :

  1. Steven Gusti Hutama, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya berdagang.
  2. Bara Matahari Pagi, berusia 8 tahun yang bercerita tentang kegemarannya bermain drum.
  3. Fairly Namora, yang berusia 9 tahun dan bercerita tentang kegemarannya menggambar dan menulis.
  4. Naufal Syahdawi Riady, berusia 17 tahun dan bercerita tentang misi sosialnya, yaitu WIS Shop.
  5. Clara Angelina Pratama, berusia 13 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang ilustrasi.
  6. Brians Tjipto Meidianto, berusia 12 tahun yang menceritakan tentang karyanya di bidang origami.
  7. Aryo Seno Bagaskoro, berusia 15 tahun yang menceritakan tentang misi sosial yang ditekuninya yaitu gerakan pelajar.

Suara Anak#7 Surabaya pertama-tama dibuka oleh penampilan Bara Matahari Pagi bermain drum. Bara merupakan salah satu presentan dengan kegemaran bermain drum. Kemudian acara dibuka oleh MC, yaitu Mbak Maria Mursid dari Suara Surabaya dan saya. Setelah itu secara bergantian para presentan menceritakan tentang kegemaran, karya maupun misi sosial yang ditekuninya.

Menarik sekali mengikuti proses yang dilalui para presentan, sejak coaching, gladi bersih hingga acara Suara Anak. Dari yang awalnya masih malu-malu, suara yang lirih, cerita yang terputus-putus dan tidak tahu harus bercerita apalagi, namun saat pelaksaan Suara Anak mengalami kemajuan yang pesat. Menjadi lebih percaya diri, santai, dan dapat bercerita dengan lepas.

Di Suara Anak memberi kesempatan dan menjadi ajang bagi presentan belajar untuk menggali keberanian dan kepercayaan diri. Stimulus berupa keleluasaan yang diberikan kepada anak-anak untuk berekspresi, sesuai dengan gayanya sendiri, bercerita dengan nyaman, tampil apa adanya, justru membuat masing-masing anak terlihat unik dan memacu presentan untuk menampilkan yang terbaik.

Sangat jelas terlihat keunikan dari masing-masing presentan. Mereka memiliki gaya sendiri-sendiri dan menjadi diri sendiri. Akan berbeda apabila presentan diberi stimulus yang sama, didikte, harus begini dan begitu secara kaku. Mereka akan mentok pada instruksi dan contoh yang diberikan. Tidak mengenal sejauh mana batas kebisaannya.

Adanya Suara Anak, membuka mata masyarakat untuk lebih menghargai proses yang dilalui anak. Di dunia yang lebih berorientasi pada hasil dan proses yang instan seperti sekarang ini, cenderung mendorong orang tua dan anak mengabaikan sebuah proses. Padahal dalam sebuah proses ada upaya yang dari situlah anak banyak belajar. Jika hanya terfokus pada hasil, maka jangan salahkan apabila pada akhirnya akan tumbuh generasi  yang akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Menghargai setiap proses yang dialami akan menumbuhkan semangat kerja keras, mau mencoba, kemauan berusaha dan kemampuan merefleksi diri.

Menyaksikan dan menyimak presentasi dari tiap presentan membuat saya yakin bahwa sebenarnya anak adalah makhluk yang “berisi” dan sudah punya warna. Sehingga tugas orang tua dan lingkungan sekitarnya adalah membantu mereka untuk mempertegas warna-warna yang ada pada dirinya. Masing-masing anak unik dan istimewa. Apapun kegemaran dan bidang yang mereka geluti saat ini pasti akan berguna dan dapat membantu mereka untuk “menjadi seseorang” di masa yang akan datang.

Suara anak adalah suara semesta, yang sejatinya mereka sudah memiliki misi bagi kehidupan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bimbingan, namun juga lebih membutuhkan kesempatan dan butuh didengar untuk dapat mempertegas dirinya dan tugas yang diembannya.

Senang rasanya menyimak para presentan bercerita dengan penuh semangat. Mata-mata yang berbinar saat sedang bercerita, karena mereka sadar dan cinta akan apa yang sedang ditekuni.

Adakah yang lebih membahagiakan daripada melakukan sesuatu sesuai panggilan hati?

 Sampai jumpa di Suara Anak berikutnya. 🙂

Advertisements

Sebuah Catatan : Mengenali Karakter Anak Melalui Bermain

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tahukah anda, bahwa dalam kegiatan bermain sebenarnya kita bisa mengenali karakter anak sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang tua untuk mengarahkan perilaku anak. Bagaimana caranya?

Hari Sabtu, 28 Mei 2016 lalu saya berkesempatan untuk memandu acara seminar psikologi yang diadakan oleh Komunitas Annisa Learn, Care and Share di rumah makan Koki Kita, Sidoarjo. Materinya sangat menarik, yaitu “Mengenali Karakter Anak Melalui Kegiatan Bermain” yang dibawakan oleh Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M. Si, Psikolog. Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 dihadiri kurang lebih 170 orang peserta.

Dalam seminar tersebut, Bu Dewi yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Airlangga menyampaikan bahwa masa anak-anak adalah masa bermain. Perasaan yang muncul saat proses bermain adalah perasaan senang. Tidak marah, tidak menangis dan tidak membanting. Namun kini ada pergeseran emosi ketika anak sedang bermain.

Bermain dapat menimbulkan perasaan senang. Apabila anak senang, kecenderungannya anak akan melakukannya berulang-ulang. Kegiatan yang dilakukan berulang dapat membentuk karakter. Adapun bermain mengandung beberapa unsur, yaitu Pengulangan sebagai fungsi penguatan, Ekspresi sebagai fungsi release atau mengeluarkan emosi terpendam, dan aktifitas yang berfungsi untuk gerak fisik.

Bu Dewi mengatakan apabila anak sedang bermain dan keluar emosinya, maka biarkanlah. Atmosfer yang terbangun dalam keluarga dapat terlihat dan tercermin saat anak bermain. Karena itu pilihlah permainan yang tidak hanya mengasah kognisinya saja tetapi juga mengasah emosinya, seperti permainan rumah-rumahan atau bermain peran.

Keuntungan yang bisa diperoleh anak saat kegiatan bermain adalah dapat mengasah fisik (seperti meronce yang dapat menstimulasi motorik halus), bahasa, kreatifitas, negosiasi, kompetensi sosial, pemecahan masalah dan ketrampilan intrapersonal.

Bagaimana bermain dapat membentuk karakter anak?

Karakter terbentuk dari perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Saat anak bermain, akan menghadirkan perasaan senang, karena merasa senang maka akan cenderung mengulangi hal tersebut. Sesuatu yang berulang itu akan menjadi sebuah kebiasaan dan dapat membentuk karakter.

Misalnya saat anak asyik bermain gadget dan kalah dalam permainannya sehingga membuat anak emosi dan marah. Maka jika ini terulang terus menerus, tidak menutup kemungkinan anak akan menjadi mudah marah.

Kita juga dapat melihat karakter anak melalui permainan yang dipilihnya. Misalnya, anak yang senang berbicara akan enggan memilih mainan yang mengharuskannya diam. Anak yang tekun akan senang dengan permainan yang membuatnya berkonsentrasi. Anak yang suka bergerak akan memilih permainan yang beraktivitas banyak, seperti bermain di outdoor atau play land.

Di sesi terakhirnya, Bu Dewi yang aktif mengajar di fakultas psikologi Unair ini berpesan bahwa jika akan memberikan alat permainan, cobalah untuk melihat aspek perkembangan apa yang ingin dikembangkan dari anak. Tidak asal dalam memberikan mainan. Carilah alat permainan yang tidak hanya menstimulasi kognisi anak tetapi juga menstimulasi interkasi dengan orang lain.

Semoga bermanfaat… ^^

Sebuah Catatan : Menjadi Pembicara Publik

Beberapa waktu lalu saya diberi kepercayaan untuk memandu acara “Public Speaking : Explore Your Mind & Be a Good Speaker” yang diselenggarakan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya. Dengan pemateri yang kompeten dibidangnya, yaitu Adri Suyanto, seorang motivator yang lebih dikenal sebagai sarjana humor dengan tagline-nya #ngguyuolehilmu. Dan pemateri kedua adalah Vika Wisnu, seorang dosen yang juga sudah lama berkecimpung di dunia radio dan media komunikasi.

Acara yang dihadiri kurang lebih seratus peserta itu berlangsung selama 3 jam. Kedua pemateri menyampaikan ilmu yang begitu berisi mengenai Public Speaking. Mengingat begitu berharganya ilmu tersebut, saya tidak ingin apa yang saya dapatkan di acara yang diselenggarakan di Aula Soetandyo, Fakultas FISIP Universitas Airlangga, hilang begitu saja. Karena itu, saya coba untuk menuliskan catatan selama memandu acara talkshow. Semoga juga bermanfaat bagi para pembaca.

Acara yang dikemas dengan interaktif dan mengundang peserta untuk banyak bertanya seputar dunia public speaking, disambut positif oleh para peserta. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang muncul menimbulkan suasana hangat sepanjang acara berlangsung.

Berbicara merupakan sebuah ketrampilan yang sangat diperlukan oleh semua profesi. Dalam kemampuan berbicara di depan umum, menurut Vika Wisnu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu seseorang perlu melakukan yang namanya Personal Mapping. Yaitu kemampuan untuk mengenali kelemahan dan kelebihan dirinya. Selain itu, kekuatan kata-kata, kekuatan emosi, latihan suara, kemampuan mind streaming yaitu menyelaraskan pikiran dengan orang lain. Kemudian Personal Imaging yaitu kesan yang ingin dimunculkan ke orang lain. Improvisasi, personal branding dan latihan public speaking.

Setiap orang memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda. Untuk memulai suatu pembicaraan dengan seseorang, ada baiknya memulainya dengan mengawali pembicaraan dari sesuatu yang diminati oleh lawan bicara. Selain itu, yang terpenting dalam komunikasi interpersonal adalah menyamakan gelombang otak.

Namun berbeda dengan berbicara di depan umum, hal ini membutuhkan persiapan yang lebih matang. Dengan menuliskan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan merupakan bagian dari persiapan yang perlu di lakukan sebelum akan bicara di depan umum. Karena itu, Vika Wisnu mengatakan bahwa penting bagi seorang public speaker untuk bisa menulis.

Salah satu pertanyaan yang muncul dari peserta adalah bagaimana mengatasi rasa gugup saat akan bicara di depan umum. Adri Suyanto, menjelaskan bahwa seseorang yang merasa gugup itu merupakan suatu tanda bahwa seseorang tersebut sedang naik kelas. Karena akan menghadapi sesuatu yang baru. Karena itu penting untuk mengetahui penyebab dari rasa gugup itu sendiri, apakah merasa gugup karena tidak tahu harus bicara apa? Apakah merasa materi yang disampaikan penting atau tidak? Apakah kata-kata yang keluar nantinya akan menyinggung atau tidak? Dan sebagainya. Untuk itu, Adri Suyanto menyarankan untuk lebih berfokus pada kelebihan yang dimiliki. Dan mengubah mindset bahwa gugup adalah sebuat momen dimana seseorang akan naik kelas.

Pertanyaan lainnya, menanyakan bagaimana jika tidak memiliki kesempatan untuk bicara di depan umum? Dan bagaimana jika kita bukanlah tipe orang humoris yang bisa membuat orang tertawa? Secara gamblang Adri Suyanto menjelaskan bahwa setiap orang dapat menciptakan kesempatannya sendiri. Misalnya jika masih mahasiswa maka aktiflah di organisasi kemahasiswaan, dan bergabung di komunitas-komunitas. Kemudian ambillah kesempatan untuk berbicara, seperti membuka acara, menyampaikan pendapat, dan sebagainya. Karena pada dasarnya kemampuan public speaking akan terus terasah dengan semakin banyaknya latihan.

Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tidak harus pandai melucu untuk menjadi seorang public speaker yang handal. Ada beberapa cara yang diberikan oleh Sarjana Humor, Adri Suyanto, agar kita bisa menemukan karakter ketika berbicara. Pertama, Niteni, melihat pembicara lain tampil dan catatlah hal-hal penting dan yang bagus untuk dijadikan contoh. Neroake, meniru seperti yang dilakukan pembicara-pembicara handal. Nambahi, menambahkan cara penyampaian dengan improvisasi kita sendiri. Nemoake, setelah kita sering berlatih maka akan menemukan gaya kita sendiri. Saat telah menemukan gaya bicara yang nyaman dan sesuai dengan diri sendiri inilah dapat dikatakan seseorang telah memiliki karakter.

Dalam public speaking tidak hanya penyampaian materi dan cara berbicara saja yang perlu dilatih, selain itu harus memiliki materi atau konten yang berisi. Sampaikan materi-materi yang dikuasai, diminati dan ahli dalam hal tersebut.

Vika Wisnu menjelaskan bahwa dalam menyusun materi terbagi menjadi 3 hal, yaitu pembukaan atau colekan, isi, dan penutup atau gong-nya supaya orang tidak mudah lupa. Di akhir kata penutup juga boleh disisipkan quotes yang menginspirasi sekitar 2 hingga 3 kata.

Adri Suyanto yang selama talkshow berlangsung tampil dengan begitu energik dan bersemangat, menjelaskan bahwa dalam public speaking ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, percaya diri dan enjoy. Kedua, memiliki materi andalan. Ketika, delivery yang menarik.

Menurut Adri, dalam meyampaikan materi, sebaiknya pilih poin-poin penting yang ingin disampaikan sehingga mudah diingat oleh peserta. Misalnya sampaikan 3 poin penting saja dalam sebuah materi.

Masih menurut motivator yang mengawali karir sebagai public speaker-nya di tahun 2010 ini, dalam menyusun materi, ada 3 langkah yang perlu diketahui. Pertama, Why, buatlah peserta menjadi penasaran. Ini bisa diawali dengan pertanyaan atau fakta-fakta terkait dengan bahasan yang akan diulas, atau menyampaikan keuntungan apa yang akan diperoleh peserta jika terus mendengarkan materi yang akan disampaikan, atau bisa melalui ilustrasi cerita. Kedua, What, menjelaskan mengenai materi apa yang akan dibahas, sehingga peserta mengetahui gambarannya. Ketiga, How to, bagaimana caranya. Cara-cara yang akan disampaikan inilah yang biasanya banyak ditunggu oleh peserta untuk melakukan sebuah perubahan.

Di akhir sesi talkshow tak lupa juga memberikan tantangan pada peserta untuk praktek berbicara di depan umum secara langsung. Setelah dua orang peserta bersedia secara suka rela maju ke depan. Ada beberapa masukan dari pembicara yang juga menjadi catatan penting saya.

Ketika sedang berbicara di depan umum, penting untuk menjalin hubungan dengan peserta. Hal ini untuk membangun suasana “hangat” di awal acara. Misalnya dengan melibatkan peserta dengan sebuah ice breaking sederhana.

Kemudian sampaikan materi secara sistematis. Materi yang melompat-lompat akan membuat peserta bingung menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh pembicara. Dalam menyampaikan materi upayakan untuk dapat menguasai panggung dan audiens, dengan tidak hanya berdiri di satu sisi saja. Bergeraklah, agar pupil mata peserta bergerak mengikuti gerak pembicara. Ini akan menghilangkan kantuk peserta. Dan jangan lupakan interaksi dengan audiens.

Vika Wisnu yang berpengalaman sebagai penyiar radio terkemuka di Surabaya memberikan masukan terkait dengan pengaturan vokal. Baginya, selama berbicara perhatikan pula tempo, intonasi, jeda dan vokal suara. Bagaimana kita mengendalikan volume suara, mengontrol intonasi, dan nafas. Jangan sampai kita kehabisan nafas saat berbicara. Karena itu penting untuk mengatur nafas dengan baik dengan mencuri nafas saat jeda bicara atau titik.

Itulah beberapa poin yang saya catat selama memandu acara talkshow bersama YDSF. Tentunya sebagus apapun materi yang disampaikan tidak akan berpengaruh apa-apa selama kita tidak mau mencoba dan berlatih. Semoga informasi ini bisa menjadi panduan awal yang bermanfaat untuk melakukan latihan public speaking. Selamat mencoba! 🙂

@maya_mywolrd

Sebuah catatan : Menulis di Media Sosial

Saat ini media sosial sudah begitu akrab di kehidupan. Apalagi mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 88,1 juta. Seiring besarnya pengaruh era digital dan banyaknya media sosial yang bermunculan di dunia maya seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya, seakan tidak memberikan banyak pilihan. Maka, yang bisa dilakukan adalah menggunakannya dengan optimal. Bagaimana caranya?

Beberapa waktu lalu dalam sebuah kesempatan, bertepatan dengan rangkaian acara di Sekolah Dharma Mulya Surabaya dengan tajuk Dharma Mulya’s Book Party pada tanggal 23 Januari 2016, Pak Bukik Setiawan menyampaikan paparannya mengenai Menulis Di Media Sosial.

Dalam paparannya, Ayah satu anak ini membahas mengenai salah kaprah yang terjadi di media sosial. Bahwa sebenarnya media sosial tidak untuk dikonsumsi oleh segala usia. Ada batasan usia yang ditetapkan, yaitu usia 13 tahun ke atas. Adanya anggapan bahwa media sosial hanya untuk pribadi dan kalangan teman sendiri juga agaknya perlu dikoreksi. Karena nyatanya media sosial merupakan ruang publik, semua yang di publish bisa diasumsikan dapat dikonsumsi oleh semua orang. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana menulis yang bijak di media sosial.

Begitu banyaknya pilihan informasi yang disajikan melalui media sosial, rupanya tidak membuat kita menjadi merdeka untuk memilih informasi. Karena nyatanya konten informasi tersebut telah di saring dan diolah sedemikian rupa oleh pemilik media sosial. Sehingga informasi yang ditampilkan cenderung informasi yang diminati, disukai dan banyak dibicarakan oleh pengguna media sosial.

Berhati-hatilah dalam mem-publish sesuatu di media sosial. Karena konten di media sosial akan selamanya abadi dan terus tersimpan. Saat ini sebagian besar perusahaan akan melihat sosial media calon karyawannya sebelum memutuskan untuk menerimanya. Karena rekam jejak seseorang sedikit banyak bisa diketahui melalui akun media sosialnya.

Beberapa waktu lalu sempat ada beberapa kasus yang berakhir hingga ke ranah hukum hanya karena pengguna media sosial kurang bijak dalam menulis di media sosial. Tulisan-tulisan yang cenderung berlebihan dalam meluapkan kekecewaan dan emosi hingga menyinggung pihak lain. Masih ingat kan, status seseorang di path yang mengeluhkan sikap seorang ibu hamil yang akhirnya menimbulkan beragam reaksi di sosial media? Dan seorang mahasiswi S2 yang menulis kekesalannya di status sosial media hingga akhirnya berakhir ke ranah hukum karena status yang ditulisnya menyinggung seluruh warga Jogja?

Sebenarnya bagaimana sih, menulis di media sosial?

Pada dasarnya menulis itu seperti berbicara. Jika seseorang bisa berbicara, maka ia pasti bisa menulis. Namun terkadang kesulitan menulis sering menghampiri dikarenakan pengalaman yang monoton. Sebagai langkah awal penulisan, sebaiknya tulis saja dulu apa saja dan lupakan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Tuliskan saja dulu apa yang dirasa, dipikirkan dan bebaskan dari beban penulisan yang kaku. Setelah selesai, barulah periksa lagi dan lakukan editing.

Dalam kesempatan tersebut, Bukik Setiawan yang kini banyak beraktifitas di Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar, juga memberikan tips bagaimana menulis di media sosial. Diantaranya, tuliskan cerita bukan ceramah. Mintalah masukan, diskusi dengan pikiran terbuka. Niatkan tulisan yang dibagikan di sosial media untuk berbagi bukan menggurui. Dan pelajarilah tulisan-tulisan yang paling banyak di sukai.

Di seminar yang juga dihadiri oleh para orang tua wali murid dan juga guru ini, Bukik Setiawan yang juga penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong, menyampaikan beberapa alasan mengapa seseorang menulis di media sosial. Diantaranya adalah sebagai ajang narsis dan ingin di kenal, untuk mengekspresikan emosi, sebagai sarana belajar, untuk berbagi pengalaman dan cerita, berkarier sebagai seorang penulis dan untuk keperluan bisnis/bekerja (berjualan).

Walaupun kenyataannya hadirnya media sosial turut memberikan kemudahan akses akan berbagai informasi dan memudahkan seseorang terhubung satu sama lain. Namun agar penggunaannya lebih optimal, perlu diperhatikan tips menggunakan media sosial sebagai berikut.

Tidak hanya di dunia nyata, ternyata di dunia maya juga rentan terjadi kejahatan, karena itu waspadalah. Saat akan menulis di media sosial jangan mengeluh, apapun kondisi yang sedang dialami. Apabila sedang dalam keadaan emosi, sebaiknya hindari menggunakan media sosial. Keadaan emosi akan memicu pengguna sosial media untuk menuliskan hal-hal negatif. Kemudian, aktiflah berkomentar, jangan hanya meminta like dan komentar. Jika ingin menyebarkan informasi di sosial media, sebaiknya cek dan verifikasi terlebih dahulu kebenaran beritanya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.

Saat ini penggunaan media sosial tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Tetapi anak-anakpun juga mulai “bersahabat” dengannya. Sebagai guru dan orang tua, tidak perlu bersikap takut yang berlebihan. Akan lebih bijak jika kita memberikan pendampingan dalam penggunaan media sosial pada anak. Sehingga anak dapat menggunakan media sosial dengan baik dan sesuai kebutuhan. Anggap saja adanya media sosial sebagai sarana untuk belajar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anak masa kini lahir di era digital. Dimana mereka secara lahiriah mampu menggunakan media sosial secara teknis namun belum melek media. Dalam arti belum mengetahui dampak negatif dan apa bahayanya. Oleh karena itu, sebagai orang tua sebelum memberikan kepercayaan pada anak untuk menggunakan gadget dalam keseharian. Perlu membangun kesepakatan terlebih dahulu antara orang tua dan anak, setelah itu barulah menggunakan media sosial.

Menulis di media sosial memang susah-susah gampang. Karena tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang. Namun jangan sampai keinginan untuk berbagi jadi terhalangi. Maka niatkan saja untuk berbagi dan pastikan apa yang dituliskan adalah sesuatu yang baik, benar dan berguna.

Bagaimana menurut Anda? 🙂

Semoga bermanfaat! 🙂

@maya_myworld

Kelas Bercerita : Bercerita Itu Mudah

Bersama anak-anak Rumah Bacaan Lintang yang selalu ceria dan bersemangat

Bersama anak-anak Rumah Bacaan Lintang yang selalu ceria dan bersemangat

Sudah lama sekali saya ingin mengadakan kelas bercerita. Akhirnya, Alhamdulillah kesempatan itu datang. Saya diminta untuk berbagi di kelas bercerita yang diadakan oleh Rumah Bacaan Lintang di daerah Sepanjang. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan tawaran itu. Walaupun awalnya ada kendala dengan jadwal kegiatan. Akhirnya hari ini terlaksana juga.

Rumah Bacaan Lintang adalah rumah bacaan yang didirikan oleh sepasang suami Istri Mas Theo Idoe dan Mbak Watiek Ideo, yang sangat peduli dengan dunia literasi anak-anak. Mbak Watiek merupakan kakak kelas saya saat duduk di bangku kuliah sekaligus seorang penulis buku-buku cerita anak yang bukunya sudah sangat banyak sekali diterbitkan di toko-toko buku di seluruh Indonesia.

Kelas bercerita diikuti oleh sekitar 30an anak. Anak-anak yang sangat mengesankan. Walaupun pertama kali bertemu tetapi mereka ramah dan sangat menyenangkan. Antusias mengikuti kelas bercerita kali ini. Pertama, kelas bercerita diawali dengan berkenalan satu persatu. Karena saya belum mengenal seluruh anak yang ada. Lalu dengan suasana yang langsung cair dan penuh keakraban, kita lanjut dengan permainan. Yaitu bermain bisik-bisik bikin asyik. Jadi anak-anak berbaris menjadi dua kelompok lalu orang di baris terdepan akan saya berikan dua kalimat yang harus mereka ingat dan bisikan ke teman dibelakamgnya. Dan teman dibelakangnya akan membisikkan kata-kata itu ke teman belakangnya, dan seterusnya hingga orang terakhir dalam barisan. Lucu sekali reaksi anak-anak. Melihat wajah mereka, ada yang serius menyimak kata yang dibisikkan temannya, ada yang tertawa geli, ada yang mulutnya komat-kamit mengingat kalimat yang diberikan dan ada yang hanya ketawa-ketiwi hehehe.

Continue reading

Sebuah Catatan : Pengembangan Bakat Anak

 

Hari ini relawan suara anak mengadakan kopdar untuk membahas rencana kegiatan berikutnya. Pertemuan dilakukan di Perpustakaan Bank Indonesia jam 13.00 WIB. Saya datang terlambat satu jam karena macet dan sebelumnya masih ada urusan yang harus di selesaikan. Dalam perjalanan yang cukup panas menyengat ditambah kemacetan diluar dugaan, sempat menduga-duga bahwa nanti saat kopdar akan ditunggu oleh semua relawan yang sudah hadir. Dan saya pun merasa tidak enak dan sungkan karena selaku koordinator daerah Surabaya datang terlambat.

Ternyata setelah sampai di tempat pertemuan, tidak seperti bayangan saya yang bakal di tunggu oleh banyak relawan yang sudah datang terlebih dahulu. Karena yang datang saat itu hanya dua orang saja, yaitu pak Bukik dan Mbak Judith. Ya, orang-orang yang sama saat melakukan kopdar sebelumnya. Sedikit kecewa karena yang lainnya belum datang dan tidak juga memberikan kabar sampai kita menyudahi pertemuan hari ini.

Walaupun demikian kopdar hari ini memberikan banyak pelajaran baru bagi saya. Kami melakukan diskusi seru dan menarik seputar pengembangan bakat anak dan kecerdasan majemuk. Pak Bukik yang ahli di bidang pengembangan bakat berbagi banyak hal. Kami berdua pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk banyak bertanya dan bertukar pikiran dengan Pak Bukik. Dari obrolan seru tersebut, saya mencatat beberapa hal penting yang semoga juga bermanfaat bagi pembaca.

Continue reading

Sebuah Catatan : Tips Menulis Novel

Beberapa waktu saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah acara Writer Clinic yang di selenggarakan oleh Bina Qolam Surabaya. Acara ini rutin diadakan secara berkala, yaitu satu minggu sekali. Di pertemuan kali ini membahas mengenai “Tips Menulis Novel” yang disampaikan oleh Bapak Ma’mun Affany. Beliau merupakan novelis. Dan sudah menulis 7 buah novel yang diterbitkannya secara mandiri. Banyak sekali ilmu bermanfaat yang beliau bagikan. Berikut catatan saya.

Dalam penulisan sebuah novel, yang perlu diperhatikan adalah bahasa, cerita dan inspirasi tokoh.

Mengenai bahasa, kebanyakan penulis pemula terjebak dalam tata bahasa, pemilihan diksi, rima dan hiperbola. Namun justru ini yang membatasi. Sadarilah bahwa masing-masing penulis memiliki gaya sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain. Penulis haruslah memiliki identitas. Jika belum menemukan gaya penulisa, bacalah novel sebanyak-banyaknya.

Lalu, cerita dalam Novel. Sebuah cerita biasanya memiliki pola. Misalnya kisah cinta, laki-laki dan perempuan saling mencintai namun ada penghalang. Penghalang bisa berasal dari orang ke tiga, orang tua, budaya dan sebagainya. Kalau cerita Motivasi, polanya seperti ini, seorang yang miskin kemudian menjadi kaya. Orang desa menjadi orang kota, orang miskin dan berhasil menjadi professor, san sebagainya. Dalam sebuah cerita motivasi, proses perjalanan tokoh saat berubah itulah yang menjadi menarik.

Continue reading