Efektif Memanfaatkan Waktu Luang

Hasil gambar untuk free time

Pernahkah merasa bahwa hari-hari terasa begitu sibuk, dikarenakan jadwal kegiatan yang padat? Merasa ingin beristirahat sejenak dari rutinitas? Ingin mengambil napas barang sebentar sebelum akhirnya melanjutkan aktifitas lainnya? Benar-benar sibuk dan padat. Di kondisi seperti ini satu hal yang paling diinginkan adalah rehat sejenak dan sangat mengidamkan waktu luang. Dimana bisa bersantai dan lepas dari kesibukan.

Namun, ternyata memiliki waktu luang terkadang bisa memicu rasa bosan dan tidak produktif jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Ujung-ujungnya dapat membuat badan terasa tidak enak karena sedikit bergerak. Bermalas-malasan seharian dan pikiran jadi kemana-mana. Apalagi jika ada gawai di tangan. Melihat media sosial dan mengamati kehidupan orang lain yang terasa begitu sempurna dan menyenangkan. Hingga akhirnya membuat penilaian bahwa kehidupan pribadi kita kurang menarik dan tak seindah milik orang lain. Merasa nestapa dan jadi tidak bersyukur. Wah, repot juga kalau begini jadinya.

Salah satu rejeki yang tidak disadari oleh manusia adalah adanya waktu luang dan kesehatan. Waktu yang tidak bisa berputar kembali seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Karena nantinya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa saja yang telah dilakukan selama di dunia. Jadi agak serem, ya. Hihi. Tapi memang begitulah adanya. Karena itu, sudah sepatutnya jika memiliki waktu luang dimanfaatkan dengan baik dan efektif. Apalagi buat Anda yang super sibuk. Waktu luang menjadi sangat berharga sekali pastinya. Berikut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar waktu luang lebih efektif.
Continue reading

Cantik Bukan Sekadar Fisik

Hasil gambar untuk beauty from your heart

Di usia yang semakin bertambah, merawat kulit wajah menjadi hal yang penting. Dulu ketika masih usia 20 tahunan tidak terlalu memusingkan tentang perawatan. Cukup dengan cuci muka pakai sabun muka biasa. Membersihkan wajah sebelum tidur pun seringkali terlewat. Namun, sekarang ketika sudah memasuki usia 30 tahun, mulai lebih peduli dengan perawatan wajah. Tapi, apakah perawatan saja cukup membuat wajah terlihat segar dan bercahaya?

Sebagai perempuan, pastinya ingin dong wajahnya selalu sehat, terlihat cerah dan bersinar. Begitu juga dengan saya. Karena itu, mulailah melakukan beberapa perawatan wajah sederhana di rumah. Bagi saya, perawatan wajah tidak perlu mahal. Asalkan selalu menjaga kebersihan wajah, dan rutin dilakukan.

Saya sendiri lebih senang dengan perawatan yang alami. Menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat dan dengan harga terjangkau. Belakangan ini, perawatan wajah yang seringkali saya saya lakukan adalah menggunakan masker bengkoang yang dicampur dengan lemon dan madu, masker lemon dan madu, dan masker buah alpokat.

Untuk hasil yang maksimal, masker bisa dilakukan 2-3 minggu sekali. Banyak sekali manfaat dan khasiat dari penggunaan masker-masker tersebut. Diantaranya mencerahkan wajah, membuat wajah menjadi lebih lembab dan kenyal, menghilangkan noda hitam dan keriput pada wajah. Kuncinya harus rutin dilakukan, dan basuh dengan air hangat lalu air dingin hingga benar-benar bersih. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang paripurna. #eciee

Suatu ketika, saya ada pertemuan dengan teman. Kami sedang mendiskusikan sesuatu yang cukup serius. Saat akan berangkat pertemuan, suasana hati saya sebetulnya juga kurang oke. Ada beberapa hal yang sedang dipikirkan. Saat akan pulang, saya melihat bayangan wajah dari kaca mobil. Kemudian saya berkaca di kaca spion yang lebih jernih. Di sana terlihat pantulan wajah saya yang terlihat kusam dan tidak cerah. Hmm.. kok nggak ngaruh ya maskeran selama ini, begitu pikir saya singkat.

Suatu ketika, saat hendak mengajar di sekolah. Saya merasa bersemangat sekali. Rasanya bahagia akan bertemu dengan anak-anak yang selalu menggemaskan. Sebelum masuk ruangan saya sempatkan mematut diri di kaca spion motor. Merasa sudah oke, saya pun melangkah menuju ruang kelas dengan percaya diri. Di dalam kelas, sudah disambut oleh anak-anak. Suasana seketika menjadi meriah oleh suara gaduh mereka. Kemudian ada yang nyeletuk, “Ustadzah hari ini cantik. Wajahnya kelihatan putih.” Lalu ada yang menimpali, “Ustadzah kan memang cantik.” Saya hanya senyam-senyum mendengar komentar mereka. Walau sebenarnya ingin memegangi kepala saya yang rasanya semakin membesar saja. Hehe..

Kemudian saya jadi berpikir, apa iya ini hanya karena masker semata?

Setelah ditelusuri, ternyata saat bertemu dengan beberapa teman saya itu, saat itu suasana hati sedang kurang baik karena memang sedang ada pikiran yang mengganjal. Namun, ketika bertemu dengan anak-anak, rasanya sangat bahagia dan bersemangat. Sepanjang hari ada saja tingkah polahnya yang membuat saya tak bisa menahan tawa. Mungkin itu penyebabnya.

Memelihara kulit wajah dengan berbagai perawatan maupun krim anti penuaan itu memang penting, tetapi sebaiknya tidak hanya dilakukan secara fisik saja. Namun yang lebih penting adalah menjaga hati dan pikiran agar tetap positif, bersemangat dan bahagia. Karena itulah yang lebih terpancar melalui sorot mata dan senyuman tulus. Perasaan bahagia bisa diperoleh dengan melakukan segala aktifitas yang disukai, yang membuat diri merasa berdaya, bermanfaat, selalu bersyukur dan berprasangka baik.

Memiliki wajah yang sehat dan awet muda itu baik, namun lebih penting memiliki jiwa dan semangat yang selalu muda. Toh pada akhirnya, kecantikan itu bukan pada apa yang orang lain lihat, tetapi bagaimana kita mencintai dan melihat diri sendiri. So, rawatlah lahir dan bathinmu. Karena cantik itu dari hati. 🙂

 

Menghalau Galau

Hasil gambar

“Sebagai manusia biasa, memiliki perasaan yang kadang naik dan turun  adalah sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bisa mengenali gejalanya dan tahu bagaimana menyikapinya. Karena itu perlu support system yang selalu bisa membuat kita melihat segala hal dari sisi positif dan memberikan dukungan.”

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kecil kami selalu ada waktu khusus untuk ngobrol bareng. Saling berbagi cerita, apa yang dirasakan, apa yang sudah dialami seharian, apa yang mengganjal, progress apa yang sudah dikerjakan dan apa yang bisa kita pelajari seharian. Suatu hari saya membuka diskusi dengan bertanya, “Apakah aku bisa menjadi seorang penulis buku anak?”.  Tanpa menunggu lama, suami lalu menyahut, “Pasti bisa!”. Kemudian ia pun menyelidik mengapa saya tiba-tiba menjadi tidak percaya diri. Saya sendiri pun juga tidak berhasil menemukan jawabannya.

Saat ini suami saya sedang proses pendidikan dokter spesialisnya, dan beberapa minggu ke depan bersiap menghadapi ujian tengah semester. Sebelum ujian harus menyelesaikan beberapa paper sebagai persyaratannya. Ia bercerita bahwa ia juga kerapkali merasa rendah diri melihat progress teman-temannya yang begitu pesat, sedangkan ia sendiri masih terus berjalan namun merasa kecepatannya lebih lambat. Namun ia terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan dengan sekuat tenaga menyelesaikan papernya. Ya, ini adalah bentuk empati bahwa ia juga pernah kok merasakan hal yang sama.

Continue reading