Cita-cita Mengarahkan Kita

Beberapa hari lalu saya berkesempatan untuk mengajar kelas menulis di sebuah sekolah dasar. Pertemuan kelas menulis tersebut di awali dengan perkenalan dan dilanjutkan dengan permainan seru, agar anak-anak merasa enjoy dan untuk melepaskan ketegangan. Murid-murid yang masih duduk di kelas 1 dan 2 itu terlihat antusias dan bersemangat sekali. Apalagi saat saya mulai bercerita di depan kelas.

Saat itu saya bercerita tentang Cita-cita Ludi. Kisahnya menceritakan tentang sebuah lidi yang bernama Ludi yang bersahabat dengan burung pipit. Karena si burung pipit sering menceritakan keseruannya saat terbang ke angkasa, akhirnya membuat Ludi bercita-cita ingin bisa terbang. Awalnya Ludi diejek oleh teman-temannya sesama lidi saat mendengar cita-cita Ludi. Bagaimana mungkin sebuah lidi bisa terbang, tugasnya bersama kawanan lidi lain hanyalah menyapu membersikan kebun agar bersih jadi tidak perlu bermimpi terlalu tinggi. Namun karena kegigihannya dan keuletannya selama ini, Ludi dibantu oleh Peri Bunga Matahari dan Peri Kunang-kunang. Ludi diminta untuk pergi ke arah matahari terbit. Singkat cerita, disana ia bertemu dengan Pak Gono si pembuat layang-layang. Karena Ludi adalah lidi yang elastis, kurus, dan kuat sehingga ia dijadikan salah satu rangka layang-layang. Akhirnya ia pun bisa terbang. Apalagi Pak Gono seringkali mengajaknya mengikuti lomba layang-layang. Ludi pun sangat senang sekali. Teman-temannya yang awalnya mengejek menjadi malu dan bertekad untuk memiliki cita-cita yang tinggi seperti Ludi.

Setelah saya bercerita tentang Ludi, anak-anak saya minta untuk menceritakan tentang cita-citanya secara bergantian. Jawabannya macam-macam, mulai jadi ingin menjadi dokter, guru, pramugari, polisi, chef hingga superhero. Bagi saya memiliki cita-cita superhero pun tidak masalah, toh superhero juga memberikan kebaikan dan manfaat bagi banyak orang. Dan bagi anak-anak, menjadi superhero adalah sesuatu yang keren dan membanggakan.

Continue reading

Advertisements