Sebuah catatan : Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng

Hasil gambar untuk storyteller

Kita sepakat kalau mendongeng memiliki banyak manfaat. Tapi ternyata masih ada yang enggan melakukannya. Salah satu alasannya karena tidak percaya diri. Memang saat mendongeng apalagi di depan banyak anak harus memiliki percaya diri yang baik. Agar penampilannya menarik dan pesan yang disampaikan dalam dongeng bisa diterima oleh anak. Nah, gimana caranya supaya bisa pede saat tampil mendongeng?

Hari Minggu, 19 Maret 2017 bertempat di Perpustakan Provinsi Jawa Timur, Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya kembali mengadakan kegiatan Sharing Dongeng. Kegiatan yang rutin diadakan satu bulan sekali itu bertujuan untuk saling berbagi informasi, semangat, dan menguatkan untuk bergerak bersama menyebarkan virus mendongeng di tiap-tiap keluarga. Di setiap pertemuan Sharing Dongeng mengangkat tema dan narasumber yang berbeda-beda. Nah, di pertemuan bulan ini membahas mengenai Percaya Diri Saat Tampil Mendongeng. Tema tersebut dibawakan oleh Kak Tobi, seorang pendongeng senior di Surabaya. Kegiatan Sharing Dongeng semakin menarik karena selalu ada kesempatan praktek mendongeng bagi para peserta.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika akan mendongeng kemudian mengalami deg-degan. Apalagi jika akan mendongeng di hadapan banyak anak. Perasaan apakah nanti bisa membawakan dongeng dengan baik, apakah ceritanya disukai anak-anak, bagaimana jika salah, lupa isi cerita, dan sebagainya, selalu membayangi sebelum akan tampil mendongeng. Walaupun begitu, nyatanya pendongeng profesional sekalipun juga kerap merasakan grogi dan deg-degan saat akan tampil. Artinya bagi kita yang masih pemula, tidak perlu khawatir karena semua pendongeng pun mengalaminya.

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar lebih percaya diri saat mendongeng. Pertama, Mempunyai senjata. Artinya, kita harus menguasai materi yang akan disampaikan. Materi tidak hanya sekadar isi cerita, namun juga permainan, nyanyian atau lagu yang akan dibawakan. Berkaitan dengan seluruh rangkaian sesi mendongeng yang akan kita bawakan. Sebaiknya saat akan mendongeng, jangan menghafalkan cerita. Tidak perlu dihafal runtut seperti naskahnya. Hal itu akan membuat penampilan saat mendongeng terkesan kaku dan tidak bisa melakukan improvisasi. Kuasailah inti ceritanya kemudian ceritakan dengan bahasa sendiri. Bahasa yang membuat kita nyaman membawakannya.

Kedua, Mengenali medan. Sebelum akan tampil mendongeng di suatu tempat, carilah terlebih dahulu informasi mengenai lokasi, jumlah audiens, dan usia anak-anak. Informasi ini akan membantu untuk mempersiapkan diri bagaimana dalam melakukan pendekatan. Anak-anak usia taman kanak-kanak jelas akan berbeda gaya komunikasi dan bahasanya dengan anak usia sekolah dasar. Begitu juga dengan pemilihan ceritanya. Apa yang akan diceritakan haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Kemudian, datanglah lebih awal dari waktu yang ditentukan. Agar dapat melihat kondisi dan situasi yang ada dan mengukurnya dengan apa yang sudah kita persiapkan.

Dalam mendongeng, satu menit pertama merupakan waktu yang sangat menentukan. Namun, setelahnya akan lebih mengalir. Di awal pembukaan mendongeng agar suasana lebih cair bisa diawali dengan berbincang santai sambil melempar pertanyaan kemudian langsung disambung dengan cerita yang akan dibawakan. Jika jumlah audiens banyak, bisa terlebih dahulu dibuat kesepakatan di awal. Misalnya, selama mendengarkan dongeng tidak boleh sambil makan, berbincang dengan temannya, berebut, dan sebagainya. Namun tetap disampaikan dengan bahasa halus dan menyenangkan.

Apabila saat mendongeng kemudian anak-anak terlihat mulai jenuh, maka pendongeng harus peka. Sebaiknya kombinasikan dongeng dengan menyanyi, nari dan permainan sederhana. Jangan paksa untuk melanjutkan cerita. Karena daya konsentrasi anak sangatlah terbatas. Waktu konsentrasi anak atau durasi mendongeng yang efektif adalah usia anak sama dengan durasi mendongeng atau maksimal dua kali lipat usia anak. Misalkan, anak usia 5 tahun maka durasi mendongengnya 5 menit dan maksimal 10 menit.

Mendongeng bisa menggunakan berbagai media, seperti diri sendiri (menggunakan gesture, ekspresi, dan suara), boneka, wayang, gambar, barang-barang yang ada di sekitar atau membuatnya sendiri. Menggunakan media mendongeng bebas-bebas saja, namun yang terpenting adalah pendongeng nyaman menggunakannya. Jangan sampai media dongeng tersebut malah menghambat dan menyulitkan saat mendongeng.

Sebanyak apapun teori mendongeng yang dikuasai, pada intinya saat praktek mendongeng teori itu hanya digunakan 20% saja. Selebihnya akan sangat tergantung dengan bagaimana diri sendiri berimajinasi dan melakukan improvisasi. Menjadi diri sendiri adalah cara tepat agar nyaman saat mendongeng.

Kepercayaan diri akan muncul apabila sudah melakukan persiapan matang dan mengetahui medan atau tempat di mana akan mendongeng. Selebihnya ya, lakukan! Akan selalu ada saat pertama untuk mencoba. Percayalah bahwa grogi dan deg-degan itu hanya bertahan di menit-menit pertama. Selanjutnya pasti akan menantikan kesempatan berikutnya. Gimana, berani mencoba? ๐Ÿ™‚

Advertisements

Sebuah catatan : Mendongeng Menggunakan Media Gambar

Beberapa gambar binatang yang diajarkan saat Sharing Dongeng. Dan masih ada gambar binatang lainnya.

Mendongeng adalah kegiatan yang penuh manfaat. Biasanya media yang seringkali digunakan saat mendongeng adalah boneka, buku, atau wayang kertas. Nah, bagaimana jika mendongeng dengan menggunakan media gambar? Iya, mendongeng sambil menggambar. Mungkinkah?

Mungkin sebagian orang akan langsung menggeleng ketika diminta menggambar. Dengan alasan gambarnya tidak bagus, susah menggambar atau yang paling ekstrim hanya bisa menggambar gunung dengan dua bukit dan ada matahari di tengah. Ya, itu saya sih. Hehe..

Hari minggu, tanggal 19 Februari 2017, digelar acara Sharing Dongeng pertama di tahun 2017. Tema yang diangkat tentang Mendongeng dengan Menggunakan Media Gambar. Belajar langsung bersama Kak Gentong, seorang pendongeng senior Surabaya dan juga seorang dosen. Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas Dongeng Surabaya. Sejak tahun lalu, komunitas Kumpul Dongeng yang memiliki visi membudayakan kembali mendongeng dan mengembalikan dongeng ke rumah-rumah, secara rutin mengadakan kegiatan Sharing Dongeng satu bulan sekali. Kegiatan Sharing Dongeng ini juga didukung oleh Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, yang turut memberikan fasilitas tempat yang sangat nyaman untuk belajar.

Awalnya banyak dari peserta yang merasa pesimis karena merasa dirinya tidak pandai menggambar, gambarnya tidak bagus dan lain sebagainya. Namun, bersama Kak Gentong, di sesi awal beliau meyakinkan sekaligus membuktikan bahwa menggambar itu mudah dan siapa saja bisa. Pertama-tama membuat gambar lingkaran sebagai batasan dan dasar, yang kemudian bisa dibentuk menjadi gambar hewan seperti singa, monyet, semut, kucing, gajah, dan sebagainya.

Mendongeng dengan menggunakan media gambar akan membantu menumbuhkan imajinasi anak, mengasah motorik halusnya dan akan mudah melekat di memori anak. Apalagi menyajikannya dengan pembawaan yang menyenangkan. Menggambar adalah ketrampilan yang bisa dilatih. Dalam kesempatan itu, Kak Gentong menyampaikan bahwa apabila materi hanya dikatakan maka akan mudah dilupakan, apabila ditunjukkan maka akan diingat, dan apabila dilibatkan maka akan dimengerti. Dengan penuh kesabaran, Kak Gentong memandu peserta untuk menggambar berbagai jenis hewan.

Selama sesi sangat terlihat antusiasme peserta dan keterlibatan yang penuh. Setiap peserta berkesempatan untuk mencoba menggambar dan ada yang bersedia mendongeng di depan dengan cerita yang mereka buat sendiri. Saat itu juga.

Kekuatan mendongeng terletak pada ekspresi. Ekspresi bisa meliputi suara, mimik, gambar, gesture yang bisa membuat memori anak semakin dalam melekat. Hal yang penting dimiliki saat mendongeng adalah adanya powerย dan tekanan. Di samping itu, memiliki apersepsi yang baik di awal sesi mendongeng juga penting. Dengan memiliki apersepsi yang baik, maka akan dapat mengikat perhatian anak selama sesi mendongeng. Apersepsi bisa dengan menggunakan sulap sederhana, tebak-tebakan menyenangkan, nyanyian, dan sebagainya.

Sebelum menggambar, terlebih dahulu tentukan tokoh yang akan dibuat. Setelah itu berikan sifat dan karakter tokoh. Lalu tentukan situasinya bagaimana. Lalu buatlah kerangka ceritanya dan kemudian buatlah cerita utuhnya. Sebelum mendongeng persiapkan dahulu cerita yang akan diberikan. Hindari membuat cerita on the spot atau dadakan. Persiapan yang baik pasti akan berpengaruh pada hasil yang baik pula. Saat menggambar tidak perlu menggambar seluruh tubuh binatang. Hanya kepalanya saja. Dan tidak perlu persis dengan binatang aslinya. Asalkan anak-anak dapat mengidentifikasi hewan tersebut dengan benar, itu sudah berhasil.

Ada beberapa hal yang perlu dihindari saat akan mendongeng dengan menggunakan media gambar. Yaitu, Pertama, Hindari menggunakan kata-kata kejam atau sadis. Ini akan berdampak tidak baik pada psikologis anak. Kedua, Perhatikan volume suara. Terkadang suara yang terlalu keras akan diterima berbeda oleh anak usia PAUD, merasa dimarahi atau diintimidasi. Ketiga, Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak. Keempat, Apresiasi setiap hasil karya anak. Walaupun saat anak menggambar dengan warna yang tidak lazim, tetap apresiasi dan jangan batasi imajinasi anak. Kelima, Perhatikan durasi. Dalam mendongeng 15 menit merupakan waktu yang ideal. Di mana audiens tidak sampai merasa bosan dan batas konsentrasi tetap terjaga.

Mendongeng tidak hanya melibatkan teknik yang baik. Namun yang terpenting adalah melibatkan hati. Apa yang disampaikan dengan hati akan sampai juga di hati anak-anak. Setiap anak suka mendengarkan dongeng. Banyak sekali manfaat mendongeng yang tak perlu lagi dijelaskan karena informasinya banyak tersedia di dunia maya. Jika sudah tahu, kapan akan mencobanya? Ayo, mendongeng. ๐Ÿ™‚

 

Kelas Bercerita : Bercerita Itu Mudah

Bersama anak-anak Rumah Bacaan Lintang yang selalu ceria dan bersemangat

Bersama anak-anak Rumah Bacaan Lintang yang selalu ceria dan bersemangat

Sudah lama sekali saya ingin mengadakan kelas bercerita. Akhirnya, Alhamdulillah kesempatan itu datang. Saya diminta untuk berbagi di kelas bercerita yang diadakan oleh Rumah Bacaan Lintang di daerah Sepanjang. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan tawaran itu. Walaupun awalnya ada kendala dengan jadwal kegiatan. Akhirnya hari ini terlaksana juga.

Rumah Bacaan Lintang adalah rumah bacaan yang didirikan oleh sepasang suami Istri Mas Theo Idoe dan Mbak Watiek Ideo, yang sangat peduli dengan dunia literasi anak-anak. Mbak Watiek merupakan kakak kelas saya saat duduk di bangku kuliah sekaligus seorang penulis buku-buku cerita anak yang bukunya sudah sangat banyak sekali diterbitkan di toko-toko buku di seluruh Indonesia.

Kelas bercerita diikuti oleh sekitar 30an anak. Anak-anak yang sangat mengesankan. Walaupun pertama kali bertemu tetapi mereka ramah dan sangat menyenangkan. Antusias mengikuti kelas bercerita kali ini. Pertama, kelas bercerita diawali dengan berkenalan satu persatu. Karena saya belum mengenal seluruh anak yang ada. Lalu dengan suasana yang langsung cair dan penuh keakraban, kita lanjut dengan permainan. Yaitu bermain bisik-bisik bikin asyik. Jadi anak-anak berbaris menjadi dua kelompok lalu orang di baris terdepan akan saya berikan dua kalimat yang harus mereka ingat dan bisikan ke teman dibelakamgnya. Dan teman dibelakangnya akan membisikkan kata-kata itu ke teman belakangnya, dan seterusnya hingga orang terakhir dalam barisan. Lucu sekali reaksi anak-anak. Melihat wajah mereka, ada yang serius menyimak kata yang dibisikkan temannya, ada yang tertawa geli, ada yang mulutnya komat-kamit mengingat kalimat yang diberikan dan ada yang hanya ketawa-ketiwi hehehe.

Continue reading